Laman

Kamis, 04 Juli 2013

Tentang Jin


Pada dasarnya jin itu adalah makhluk ghaib yang tidak dapat dilihat dengan panca indera manusia dalam keadaan normal. Selain itu jin juga bisa berubah bentuk menjadi apa saja sehingga sulit meyakinkan diri mengenai bentuk jin yang aslinya itu yang mana.
Jin itu Ada Berapa Jenis?

Dari Abu Tsa‘labah al-Khosyani berkata, Rasulullah bersabda, “Jin itu ada tiga jenis; Ada yang bersayap dan terbang di udara, dan ada yang berjenis ular dan kalajengking, dan ada yang menetap atau berpindah-pindah.” (HR. Thabrani dan al-Hakim dengan sanad yang shahih, dan dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani, lihat Kitab Shahihil Jami‘ as-Shaghir: 3/ 85).

Allah azza wa jalla menciptakan jin ada 3 macam : 1 berupa ular dan kalajengking dan binatang-binatahng kotor lainnya di muka bumi (berwujud binatang), 1 macam berupa angin dan 1 macam lagi berupa (wujud seperti) yang mendapat hisab dan siksa (H.R. Abu Syaikh dari Abu Darda) (Hadits ini didhoifkan oleh Imam Suyuthi)

Dari hadits di atas kita mengetahui bahwa jin itu ada banyak macamnya, namun secara garis besar bisa terbagi tiga jenis, yaitu yang tanpa wujud (berupa gas atau Rasulullah s.a.w. menyebutnya seperti angin), termasuk dalam katagori ini yang bersayap dan terbang di udara. Lalu ada jin yang berjenis binatang-binatangan, seperti jin ular, harimau, monyet, kelelawar, kalajengking, tikus, kucing, anjing, dan binatang-binatang kotor lainnya. Dan ada lagi yang katagori berbentuk mirip manusia, misalnya jin seperti kuntilanak, genderuwo, grendongan, buto ijo, termasuk yang bertubuh seperti manusia tapi tidak sempurna atau separuh binatang separuh manusia.

Dan selain dari segi bentuknya, jin ada juga yang terbagi menjadi yang menetap tidak bisa berpindah-pindah dengan sendirinya seperti tanaman, sehingga kalau hendak dipindah harus dipindahkan, dan ada yang bisa berpindah-pindah / berjalan/ terbang.

Sedangkan dari segi agama atau keimanannya, jin itu ada jin kafir dan jin muslim. Di antara kalangan bangsa jin juga ada yang jahil, bodoh, tidak beragama, atau menyembah matahari, menyembah sesama jin, animisme dinamisme, namun ada juga yang beragama majusi, zoroaster, agama majusi, yahudi, nasrani, dan juga muslim. Hal ini sebagaimana layaknya manusia yang memiliki keyakinan dan aqidah yang berbeda-beda.

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih, dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (Q.S. Al-Jin [72] : 11).
Dan sesungguhnya di antara kami ada jin-jin yang taat dan ada jin-jin yang menyimpang (Q.S. Al Jiin [72] : 14)

Apakah Jin Memiliki Jenis Kelamin?
Hadits Rasulullah SAW mengisyaratkan adanya jenis kelamin jantan dan betina pada bangsa Jin :
Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya jamban-jamban (WC) itu dihuni oleh Jin. Oleh karena itu, apabila seseorang di antara kalian masuk jamban (WC), maka katakanlah: Allahumma inni audzubika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu  dari gangguan jin laki-laki dan jin perempuan” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Apakah Jin Kawin Dan Memiliki Keturunan?
Ya, Iblish sebagai nenek moyang jin disebutkan dalam Al-Qur’an ia memiliki keturunan.
Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku? sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim (Q.S. Al-Kahfi [18] : 50).

Maka jika dalam hadits dikatakan jin itu memiliki jenis kelamin (artinya juga memiliki kelamin), dan Iblish juga memiliki keturunan, maka mereka pasti juga kawin dan bersetubuh sebagaimana manusia dan binatang serta makhluk-makhluk lain melakukan percampuran lawan jenis untuk  berkembang biak

Bagaimanakah Bentuk Fisik Jin?

a.    Jin Memiliki Tanduk
Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian bermaksud untuk shalat pada waktu matahari terbit juga pada waktu pas matahari terbenam, karena pada kedua waktu itu saat dimana dua tanduk setan muncul” (H.R. Muslim)

Mengenai pengertian dua tanduk setan ini menurut Imam Nawawi para ulama berbeda pendapat, ada yang mengartikan bahwa ketika manusia shalat pas pada waktu itu maka setan akan mengikuti dengan kedua tanduknya dan ada pula yang berpendapat ketika orang kafir sujud kepada matahari maka setan berdiri di sana agar mengira dirinyalah yang disembah, ada juga yang mengartikan secara kiasan bahwa tanduk di situ artinya adalah kesombongan dari setan (Shahih Muslim bi Syarh An Nawawi Juz IV /124)

b.    Jin Berukuran Kecil
Ibn Az-Zubair meriwayatkan bahawa suatu ketika ia melihat seorang lelaki memakai pakaian yang biasa digunakan ketika bepergian tingginya satu jengkal (20 -30 cm) lalu Ibnu Az-Zubair bertanya : “ Siapa engkau ini ?” Makhluk itu menjawab : “Aku Izib”. Ibnu Az-Zubair berkata : “Apa Izib itu?” Makhluk itu menjawab : “Izib ya Izib”. Lalu Ibnu Az-Zubair memukulnya dengan tongkatnya hingga makhluk itu lari terbirit-birit. (Al-Syibli Al Hanafi dalam Ahkam Al Marjan fi Ghara’ib Al Akhbar wa Ahkam al Jan hal 224)

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa jika dibacakan bismillah, jin akan mengecil sebesar lalat (mungkin ini adalah ukuran aslinya jin)

Dari Usamah bin Umari ia berkata : Nabi SAW tersandung lalu saya katakan (Usamah sedang berbonceng unta dengan Nabi) : “Celakalah setan!” Nabi SAW bersabda : “Jangan kamu katakan begitu, ia akan menjadi besar dan sombong (karena seolah jin mampu mencelakakan manusia)” Lalu beliau bersabda : “Layalamlah dengan  kekuatanku aku melawannya, bila engkau membaca basmalah maka dia akan mengecil seperti lalat “ (H.R Ahmad, Ibnu Mardawaid dan Imam Nawawi)

c.    Jin Memiliki Sayap
Imam adh-Dhahhak pernah ditanya: “Apakah setan mempunyai sayap?” ia menjawab: “Bagaimana mereka dapat terbang menuju langit kalau mereka tidak memiliki sayap” (H.R. Ibnu Jarir)

Namun pendapat ini adalah mauquf (berhenti) pada perkataan Imam Adh-Dhahak dan bukanlah perkataan Rasulullah SAW, maka pendapat ini bisa jadi salah. Adapun logika pada masa itu mengatakan bahwa segala sesuatu yang terbang pastilah harus memiliki sayap, padahal pada masa modern ini diketahui bahwa sesuatu bisa terbang tanpa sayap.

Yang benar adalah jin itu dari partikel yang bersifat gas sebagaimana diceritakan dalam salah satu hadits. Sehingga tidak diperlukan sayap untuk dapat terbang. Karena sifat gas adalah melayang dan tanpa bentuk.
Dalam kitab Al-Sihr wa al-Saharah wa al-Mashurum disebutkan banyak hadis yang menyebut sahabat nabi melihat jin dalam bentuk tidak asli, di antaranya sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud melihat jin seperti orang2 Sudan, atau dari Hindia, terkadang seperti burung nasar. Ibnu Mas’ud, yang menemani Nabi Muhammad s.a.w. saat jin datang untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an, menggambarkan mereka sebagai makhluk dengan bentuk yang berbeda-beda, beberapa menyerupai burung bangkai (burung nasar) dan ular, yang lain  berupa laki-laki berperawakan tinggi berpakaian putih.

d.    Jin Seperti Manusia
Sahl bin Abdullah telah menceritakan ketika aku berada di salah satu kawasan tempat kaum ‘Ad tiba-tiba aku melihat suatu kota yang terbuat dari batu yang dilubangi. Di lubang batu itu yakni di tengahnya terdapat sebuah gedung yang dijadikan tempat tinggal para jin. Lalu aku memasukinya, maka tiba-tiba aku bertemu seorang yang sudah tua dan sangat besar tubuhnya sedang mengerjakan shalat. Orang tua itu memakai jubah dari bulu yang dianyam dengan sangat indahnya (Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab Shafwatush Shafwah)

e.    Jin Seperti Ular
Dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud, katanya : “Bunuhlah semua Ular kecuali jin putih yang bentuknya seperti tongkat perak”. (H.R. Abu Daud) Al Mudziri berkata hadits ini munqothi’ sebab Ibrahim tidak pernah bertemu Ibnu Mas’ud

Rasulullah Saw bersabda: “Ular-ular itu adalah jin yang mengubah rupa dan bentuknya sebagaimana Bani Israil yang berubah bentuk menjadi rupa monyet dan babi” (H.R. Thabrani dengan sanad yang sahih)

f.     Jin Seperti Tikus
Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari seekor tikus datang menyeret kain yang dipintal kemudian dilemparkan ke hadapan Rasulullah Saw yang sedang duduk di atas tikar. Kemudian kain dipintal yang dibawa tikus tadi terbakar persis sebesar uang dirham. Rasulullah Saw Kemudian bersabda: “Apabila kalian tidur, matikanlah lampunya, karena syaithan seringkali berwujud seekor tikus” (H.R. Abu Dawud dengan sanad shahih)



DIAMANAKAH JIN TINGGAL?

Image

Sebagaimana makhluk lainnya, jin juga memiliki tempat tinggal. Lalu di manakah tempat tinggal jin?

a.    Di rumah-rumah
Dari Sa’id Al Khudri dikatakan Rasulullah s.a.w. bersabda : Di dalam rumah terdapat penghuni-penghuni (jin) maka jika kamu melihat sesuatu (yang aneh) maka usirlah ia 3X kalau ia pergi maka biarkanlah, tapi jika ia membandel (tidak mau pergi) maka bunuhlah, sebab ia pasti jin kafir (H.R. Muslim)

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada satu rumah orang muslim pun kecuali di atap rumahnya terdapat jin muslim. Apabila ia menghidangkan makanan pagi, mereka (jin) pun ikut makan pagi bersama mereka. Apabila makan sore dihidangkan, mereka (jin) juga ikut makan sore bersama orang-orang muslim. Hanya saja, Allah menjaga dan menghalangi orang-orang muslim itu dari gangguan jin-jin tersebut” (H.R. Abu Bakar dalam Kitab Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Atsqolani).

b.    Di Jamban / WC
Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya jamban-jamban (WC) itu dihuni oleh Jin” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

c.    Di Lubang-Lubang
Dari Abdullah bin Sarjas, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah seseorang di antara kalian kencing di lubang”. Mereka bertanya kepada Qatadah: “Mengapa tidak boleh kencing di lobang?” Qatadah menjawab: “Rasulullah S.a.w. mengatakan karena lubang itu adalah tempat tinggalnya golongan jin” (H.R. Nasai dan Ahmad)

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepada saya Ayahku dari Qatadah dari Abdullah bin Sarjis bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang kencing di lubang. Mereka bertanya kepada Qatadah; “Apa yang membuat kencing di lubang dilarang?” Dia menjawab; “Dikatakan bahwa ia adalah tempat tinggal jin.” (H.R. Abu Daud No. 27 dan Imam Ahmad No. 19847) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if namun Ibnu Hajar Asqolani, Yahya bin Ma’in, Al-Ajli dan Ibnu Hibban mengatakan semua perawinya tsiqoh tsabat

d.    Di Padang Pasir dan Goa
“Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Suatu hari kami (para sahabat) berkumpul bersama Rasulullah S.a.w.. tiba-tiba kami kehilangan beliau, lalu kami cari-cari di lembah-lembah dan kampung-kampung (akan tetapi kami tidak mendapatkannya). Kami lalu berkata: “Rasulullah S.a.w. telah diculik dan disandera”. Pada malam itu, tidur kami betul-betul tidak menyenangkan. Ketika pagi hari tiba, tampak Rasulullah S.a.w. sedang bergegas menuju kami dari arah sebuah gua yang berada di tengah padang pasir. Kami lalu berkata: “Ya Rasulullah s.a.w., malam tadi kami betul-betul kehilangan Anda, lalu kami cari-cari kesana kemari akan tetapi kami tidak menemukan anda. Lalu kami tidur dengan sangat tidak menyenangkan”. Rasulullah S.a.w. kemudian bersabda: “Malam tadi saya didatangi oleh utusan dari kelompok Jin, ia membawa saya pergi menemui kaumnya untuk mengajarkan al-Qur’an“. (H.R. Muslim)

Sahl bin Abdullah telah menceritakan ketika aku berada di salah satu kawasan tempat kaum ‘Ad tiba-tiba aku melihat suatu kota yang terbuat dari batu yang dilubangi. Di lubang batu itu yakni di tengahnya terdapat sebuah gedung yang dijadikan tempat tinggal para jin.Lalu aku memasukinya, maka tiba-tiba aku bertemu seorang yang sudah tua dan sangat besar tubuhnya sedang mengerjakan shalat. Orang tua itu memakai jubah dari bulu yang dianyam dengan sangat indahnya (Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab Shafwatush Shafwah)

e.    Di Dalam Air
Dari Jabir Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya Iblish memiliki singgasana di atas air” (H.R. Muslim dan Ahmad, shahih menurut Imam Suyuthi)

f.     Di Pasar
“Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali masuk ke pasar atau menjadi orang yang paling akhir keluar dari pasar, karena pasar itu merupakan tempat berseterunya para syaithan. Dan di pasarlah syaithan menancapkan benderanya” (H.R. Muslim)

g.    Di Kandang Unta
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah kalian shalat di kandang-kandang unta karena di sana terdapat syaithan, shalatlah di kandang domba karena dia itu membawa berkah” (H.R. Muslim,Abu Dawud dan Ibnu Majah).

h.    Di Masjid Ada Jin?
Sering kita dengar cerita bahwa orang yang melihat Jin berada di dalam masjid melaksanakan sholat, atau orang yang tidur di depan mihrab kemudian terbangun dalam keadaan berada di dalam bedug atau di atas pohon (karena dipindahkan oleh Jin) maka hal itu mungkin saja karena jin-jin memang juga berada di masjid, terutama jin yang muslim mereka juga ada yang tinggal di masjid dan melaksanakan sholat di masjid
Dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa Jin telah berkata kepada Rasulullah s.a.w. : “Wahai Rasulullah ijinkahlah kami (para jin) untuk ikut melakukan shalat secara berjamaah bersamamu di masjid mu” Maka Allah menurunkan firmanNya : “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, dan janganlah kalian menyembah seorangpun di dalamnya di samping menyembah Allah” (Q.S. Jinn [72] : 18) (H.R. Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Jalalain Jilid IV)


BAGAIMANA JIN MERASUKI TUBUH MANUSIA?

Image

Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan adanya fenomena manusia kerasukan syaithan sebagaimana ayat sbb:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila (Q.S. Al-Baqarah : 275)
Dari Shafiyyah binti Huyay, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh anak Adam sebagaimana darah mengalir dalam tubuhnya” (H.R. Muslim)

Sehubungan dengan masalah kesurupan ini, Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Majmu al-Fatawa (24/276), berkata: “Para ulama ahli sunnah wal jama’ah sepakat, bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh dan badan manusia.

Hal ini berdasarkan firman Allah sbb: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila” (Q.S. Al-Baqarah:275).”

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah bertanya kepada ayahnya, Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya orang-orang berkata bahwa jin tidak bisa masuk ke badan orang-orang yang kesurupan.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Anakku, mereka berkata bohong.  Mereka hanya berkata dengan ucapannya sendiri”

Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Perkataan ini (jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia) adalah perkataan yang masyhur (dikenal oleh semua ulama). Orang yang kemasukkan jin (kesurupan) tidak akan merasakan sakit ketika dipukul, kata-katanya akan ngelantur. Orang yang kemasukan jin ini akan menampakkan banyak keanehan,mulai dari bicara dan gerakannya. Seolah-olah yang berkata dan bergerak itu adalah orang tersebut (orang yang kesurupannya), padahal hakikatnya adalah jenis lain, bukan manusia (yaitu jin)”.

Bahkan, Ibnu Taymiyyah masih dalam al-Majmu Fatawa nya mengatakan: “Tidak ada seorangpun ulama yagn mengingkari bahwa jin dapat memasuki tubuh manusia yang lalai mengingat Allah. Barangsiapa yang mengingkari hal ini dan mengatakan bahwa syara’ tidak mengakui hal demikian, maka sungguh dia telah mendustai syara itu sendiri. Tidak ada dalam dalil-dalil syara yang menolak hal itu (tidak ada dalil satu pun yang mengingakari bahwa jin dapat masuk ke tubuh manusia yang kesurupan). Mereka yang mengingkari hal ini hanyalah sekelompok kecil dari golongan Mu’tazilah yakni Imam Al-Jubai dan Abu Bakar ar-Razi.

Bagaimana Jin Memasuki Tubuh Manusia?

“(aku berlindung) dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (Q.S. Al-Falaq:3-4)
Salah satu modus masuknya jin ke dalam tubuh manusia ialah melalui ritual tertentu para tukang sihir atau dukun pemuja setan, kemudian mantera itu dihembuskan kepada manusia baik langsung maupun melalui medium buhul –buhul yaitu boneka yang dibuat dari ikatan kain-kain. Maka jin akan mengikuti hembusan itu memasuki target yang telah ditetapkan tukang sihir.

Biasanya untuk menentukan target tsb tukang sihir mengambil beberapa helai rambut atau benda-benda pribadi milik orang yang menjadi target atau sambil menyebutkan nama lengkap dan orangtuanya (bin / binti). Dengan cara demikian jin akan mengendus mencari dimana posisi orang tsb.
Jin masuk melalui mulut

“Abu Said berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila seseorang dari kalian menguap, letakkanlah tangannya pada mulutnya (tutuplah), karena setan akan masuk bersama dengan orang yang menguap (yang mulutnya tidak ditutup)” (H.R. Muslim)

Abu Hurairah berkata, Rasulullah S.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila seseorang bersin lalu mengucapkan al-hamdulillah, maka muslim yang mendengarnya harus mendoakannya. Adapun menguap datangnya dari setan, karenanya tahanlah sedapat mungkin. Apabila ia menguap terus keluar suara “haaa”, maka setan akan tertawa” (H.R. Bukhari)

Jin masuk melalui kuku
Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang. (H.R. Ahmad)

Jin masuk melalui hidung
Bahwa Nabi s.a.w.. bersabda: Apabila salah seorang di antara engkau bangun tidur, hendaklah mengeluarkan air dari hidungnya (istintsar) tiga kali, karena setan itu menginap di batang hidungnya. (H.R. Muslim)

Jin memasuki telinga
Abdullah berkata, “Disebutkan di sisi Nabi bahwa ada seorang laki-laki yang selalu tidur sampai pagi tanpa mengerjakan shalat (malam). Lalu beliau bersabda, ‘Setan telah kencing di telinganya (H.R. Muslim)


APAKAH JIN DAPAT DILIHAT?

 Image

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Jin tidak dapat dilihat secara mutlak dalam kondisi apapun, dan orang yang mengaku melihatnya adalah bohong. Mereka berpendapat demikian berdasarkan ayat sbb:
Sesungguhnya ia (jin) dan pengikutnya melihat kamu (manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka (Q.S. Al-A’raaf : 27)

Imam Al-Qusyairi menyatakan, “Allah SWT sudah menetapkan (mengikut hukum alam) bahwa anak cucu Adam tidak akan dapat melihat syaitan di dunia.” An Nuhhas berkata : Jin itu tidak bisa dilihat kecuali pada masa Nabi saja sebagai bentuk pemuliaan masa Nabi. Ibnu Hazm Azh-Zhahiri (Aliran zhahiriyah yang menerjemahkan ayat secara arti zhohirnya) berkata : Kalau Allah memberitakan kepada kita bahwa kita tidak dapat melihatnya maka barang siapa mengklaim diri telah melihat mereka, maka dia telah berdusta, kecuali dia seorang nabi sebab para nabi melihat jin adalah sebagai mukjizat (Al Fishal fo Al Milal wa An Nihal Juz V/12)

Ayat ini menjadi landasan orang yang berpendapat bahwa manusia tidak dapat melihat jin. Namun kenyataannya kita menjumpai banyak dalil dan kesaksian bahwa manusia dapat melihat jin. Demikian pula Rasulullah SAW dan para sahabat dan tabi’in juga diriwayatkan dapat melihat jin

Salah satu peristiwa itu adalah ketika serombongan jin dari dusun Nashibin menyatakan masuk Islam setelah mendengar bacaan Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah s.a.w. :
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka (jin itu) berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”  (Q.S. Al-Ahqaf [46] : 29-30)

Telah bercerita kepada kami Abu Ahmad telah bercerita kepada kami Sufyan dari Ibnu Abi Laila dari saudaranya dari ‘Abdur Rahman bin Abu Laila dari Abu Ayyub bahwa ia tengah mengurus untanya lalu ada jin datang dan mengambilnya, ia mengadukan hal itu kepada Nabi s.a.w.  beliau bersabda: “Bila kau melihatnya, ucapkanlah BISMILLAAH, turutilah Rasulullah.” Makhluk itu datang lagi lalu Abu Ayyub Al Anshari mengucapkannya tapi ia tetap mengambil unta miliknya lalu jin itu berkata padanya; Sesungguhnya aku tidak akan kembali. Kemudian ia melepasnya lalu datang lagi kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda kepadanya: “Bagaimana keadaan tawananmu?” ia menjawab: Aku telah mengambilnya. Lalu ia berkata padaku: Sesungguhnya aku tidak akan kembali. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam melepasnya lalu ia datang lagi dan ditangkap sebanyak dua atau tiga kali, setiap kalinya jin itu berkata: Aku tidak akan kembali. Ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam lalu beliau bersada: “Bagaimana kondisi tawananmu?” ia menjawab: Aku telah mengambilnya. Aku tidak akan kembali.” Tapi ia tetap datang dan Abu Ayyub Al Anshari menangkapnya. Jin itu berkata: Lepaskan aku, aku akan mengajarimu sesuatu yang kau ucapkan lalu tidak akan ada sesuatu pun yang mendekatimu; ayat kursi. Abu Ayyub Al Anshari mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam lalu memberitahukan hal itu kepada beliau, beliau bersabda: “Ia benar dan ia amat pendusta.” Telah bercerita kepada kami Ya’qub telah bercerita kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq telah bercerita kepadaku Muhammad bin ‘Abdur Rahman lalu ia menyebut hadits ini dengan sanadnya, yaitu hadits tentang jin. Berkata Abu Ayyub, Khalid bin Zaid. (H.R. Ahmad No. 22488)

“Sesungguhnya telah datang kepadaku (saya Muhammad SAW) utusan jin dari Nashibin” (H.R. Tirmidzi)
Jelas dari hadits-hadits di atas mengisyaratkan bahwa Nabi s.a.w. dan para sahabat bisa melihat jin bahkan menangkapnya.

Apakah Hanya Nabi Yang Bisa Melihat Jin?
Ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah perkecualian, dan hanya para Nabilah yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk melihat jin. Ulama yang berpendapat seperti ini misalnya adalah Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i rahimahulloh berkata, “Barangsiapa yang mengaku dirinya bisa melihat jin (dalam bentuk aslinya), maka kami tolak kesaksiannya kecuali dia seorang nabi.” (Kitab Fathul Bari: 4/ 489)

Para ulama juga mendasarkan diri pada hadits ini : Rasulullah Saw bangun, tiba-tiba kami mendengar Rasulullah mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah darimu”, kemudian Rasulullah Saw juga berkata: “Allah telah melaknatmu” sebanyak tiga kali. Rasulullah lalu menghamparkan tangannya seolah-olah beliau sedang menerima sesuatu. Ketika Rasulullah selesai shalat, kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami mendengar anda mengatakan sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Kami juga melihat anda membukakan kedua tangan anda”. Rasulullah menjawab: “Barusan Iblis, musuh Allah datang membawa anak panah api untuk ditancapkan di muka saya, lalu aku berkata: “Aku berlindung kepada Allah darimu” sebanyak tiga kali, kemudian saya juga berakata: “Allah telah melaknatmu dengan laknat yang sempurna” sebanyak tiga kali. Kemudian saya bermaksud untuk mengambilnya. Seandainya saya tidak ingat doa saudara kami, Sulaiman, tentu saya akan mengikatnya sehingga menjadi mainan anak-anak penduduk Madinah” (H.R. Muslim)

Dalam hadits di atas disampaikan bahwa orang lain hanya melihat Rasulullah menggerakkan tangannya namun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Artinya orang lain tidak melihat adanya Jin yang sedang mengganggu Rasulullah sedangkan Rasulullah melihatnya.

Namun dalam hadits lainnya Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa andaikan Beliau tidak ingat doa Nabi Sulaiman niscaya akan mengikat Jin yang mengganggunya dan semua orang akan bisa melihatnya.
Dari Abu SA’id Al Khudri Rasulullah SAW melaksanakan shalat subuh dan Abu Sa’id bermakmum di belakang Beliau. Tiba-tiba bacaan Beliau keliru. Sesudah selesai melaksanakan shalat Beliau berkata : “Kalau engkau bisa melihat aku dengan Iblis, maka dia (Iblis) menarik-narik lenganku. Aku terus  menerus mencekiknya sampai aku dapat menjadikan permainan di antara jari-jariku ini (ketika Beliau mengatakan ini Nabi mengisyaratkan dengan ibu jari dan jari telunjuknya). Kalaulah aku tidak ingat doa saudaraku Sulaiman niscaya dia akan tetap terikat di salah satu pagar masjid untuk dijadikan mainan anak-anak kota Madinah. Karena itu barangsiapa yang dapat shalat tanpa dipisahkan antara dirinya dengan kiblat oleh siapaun hendaknya ia melakukannya (mepet dengan tembok) “ (H.R. Ahmad)

Tapi ia (Jin) tetap datang dan Abu Ayyub Al Anshari menangkapnya( Jin) (H.R. Ahmad No. 22488)
Selain itu, juga banyak hadits lain yang menceritakan para sahabat Rasulullah yang telah melihat / berjumpa dengan jin

a.    Utsman Melihat Jin
Dalam sebuah hadits dikatakan,bahwa Utsman bin al-Ash pernah datang ke pada Rasulullah Saw sambil berkata: “Ya Rasulullah,sesungguhnya syaithan telah menghalang-halangi antara saya dengan shalat dan membaca (al-Qur’an) saya, dengan cara menjelma dalam wujud Ali”. Mendengar hal itu Rasulullah SAW bersabda: “Syaithan yang mengganggu kamu itu bernama Khinzib. Apabila kamu merasakan datangnya, maka berlindunglah kepada Allah dari godaannya dan meludahlah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali”. Utsman berkata: “Lalu aku melaksanakan petunjuk Rasulullah Saw tadi, sehingga Allah mengusir syaithan itu dari saya” (H.R. Muslim)

b.    Abu Hurairah Melihat dan Mencekik Jin
Dari Abu Hurairoh, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Ifrit itu dari golongan jin yang berusaha menghalangiku untuk shalat, Lalu Allah SWT memberiku kemampuan untuk menghadapinya maka aku mencekiknya, dan aku (Rasulullah SAW) bermaksud mengikatnya di salah satu pagar masjid agar kalian semua bisa melihatnya. Tapi aku teringat doa saudaraku Sulaiman a.s. : Ya Tuhanku ampunilah aku dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tak pernah dianugerahkan kepada orang setelahku”, (Maka Nabi mengurungkan niatnya mengikat jin) (H.R. Muslim)

c.    Ibnu Zubari Melihat dan Memukul Jin
Ibnu Zubair (yaitu sahabat Rasulullah SAW) meriwayatkan bahwa sekali waktu ia melihat seorang laki-laki mengenakan pakaian yang biasa digunakan orang bepergian namun tingginya hanya sejengkal. Lalu Ibnu Zubair bertanya : “Siapa engkau?” Makhluk itu menjawab : “Aku Izib” Lalu Ibnu Zubair berkata : “Apa itu Izib?” Makhluk itu menjawab : “Izib ya Izib”. Lalu Ibnu Zubair memukulnya dengan tongkat sampai makhluk itu lari terbirit birit. (Al-Syibli Al Hanafi dalam Ahkam Al Marjan fi Ghara’ib Al Akhbar wa Ahkam al Jan hal 224)

d.    Amr bin Yasir Melihat Dan Berkelahi Dengan Jin
Dari Hasan dari Amar bin Yasir berkata : Rasulullah mengirimku ke sumur tempat mengambil air lalu aku melihat setan, dia menyerangku dan akupun menyerangnya sehingga kami terlibat dalam perkelahian suatu saat aku menghantam hidungnya dengan batu sekepalan tangan. Nabi mengatakan : Ammar bin Yasir bertemu setan di sumur dan dia membunuhnya. Abu Hurairoh berkata : Ammar bin Yasir mendapat pahala dari Allah dengan mengalahkan setan menurut ucapan Rasulullah (H.R. Baihaqi)

e.    Imam Mujahid (Tabi’in) Melihat Dan Mengejar Jin
Imam Mujahid berkata: “Suatu malam ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba muncul
makhluk sebesar anak laki-laki di hadapan saya. Lalu saya desak dia untuk ditangkap. Akan tetapi ia bangun dan lompat ke belakang dinding sehingga saya mendengar jatuhnya. Setelah itu, ia tidak penah datang lagi” (H.R. Ibnu Abi Dunya).

f.     Abdullah bin Mas’ud Melihat Jin
Dalam kitab Al-Sihr wa al-Saharah wa al-Mashurum disebutkan banyak hadis yang menyebut sahabat nabi melihat jin dalam bentuk tidak asli, di antaranya sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud melihat jin seperti orang2 Sudan, atau dari Hindia, terkadang seperti burung nasar. Ibnu Mas’ud, yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat jin datang untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an, menggambarkan mereka sebagai makhluk dengan bentuk yang berbeda-beda, beberapa menyerupai burung bangkai (burung nasar) dan ular, yang lain  berupa laki-laki berperawakan tinggi berpakaian putih

Jin Bisa Dilihat Orang Banyak Jika Menampakkan Diri Dalam Wujud Manusia
Apa yang dikatakan dalam Q.S. Al-A’raaf:27 itu adalah Jin dapat melihat kita dari suatu tempat yang kita tidak bisa melihatnya. Artinya, yang tidak bisa dilihat manusia adalah Jin tsb ketika berada di “suatu tempat” yang manusia tidak dapat melihatnya. Namun jika jin itu sendiri yang mengubah dirinya sehingga bisa dilihat manusia, maka manusia bisa melihatnya. Atau, jin itu keluar dari posisinya (suatu tempat) yang tidak bisa dilihat manusia, maka niscaya manusia akan bisa melihatnya.
Hal ini berdasarkan berbagai dalil yang menyatakan bahwa jin dan iblish mengubah dirinya menjadi berwujud manusia dan muncul di tengah-tengah manusia.

a.    Jin Datang Ke Darun Nadwah Dalam Wujud Seorang Tua Dari Nejd
Dalam shirah Nabawiyah karangan Ibnu Hisyam diceritakan : Iblish menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki dari Nejd saat orang-orang Quraisy berkumpul di Darun Nadwah guna mengatur strategi membunuh Rasulullah SAW. Iblish lah yang menyarankan agar diutus seorang pemuda dari tiap kabilah untuk mengepung Muhammad dan membunuh beramai-ramai sehingga menyulitkan Bani Hasyim jika hendak menuntut balas atas kematian Muhammad

Maka pada hari kamis tanggal 26 Shafar tahun 14 dari nubuwah, bertepatan dengan tanggal 12 September tahun 622 M, atau kira-kira selang 2 bulan setengah setelah Bai’at Aqabah Kubra, maka diadakan pertemuan anggota Parlemen Makkah di Darun-Nadwah (rumah Qusaiy bin Kilab). Maka pada saat itu tiba-tiba muncul lelaki asing yang mengaku utusan dari daerah Nejd mengenakan shama’ yaitu sejenis pakaian yang menutupi seluruh badan dari kepala hingga kaki sehingga tidak jelas wajahnya.
Saat pembicaraan berlangsung, dan salah seorang mengusulkan agar Rasulullah s.a.w.ditahan atau dipenjara, maka Iblis menyahut, “Jangan! Pendapat kalian ini tidak tepat. Jika kalian menawannya sebagaimana pendapat kalian, maka lelaki ini (Muhammad s.a.w.) tetap akan keluar dari balik pintu yang kalian tutup rapat dan akan sampai ke telinga para pengikutnya, sehingga mereka akan menyerang kalian dan merebutnya dari kalian. Kemudian mereka akan membanggakan diri di hadapan kalian dengannya sehingga bisa mengalahkan kalian.”

Kemudian salah seorang lagi mengusulkan agar Rasulullah s.a.w.diasingkan. Iblis inipun menolak pendapat ini seraya mengatakan, bahwa tutur bahasa Muhammad s.a.w. yang menyejukkan hati mampu menarik banyak orang untuk mengikutinya. Sehingga ia pun akan mampu mengalahkan Quraisy.

Terakhir, Abu Jahal mengusulkan agar memilih seorang pemuda terpandang lagi kuat dari masing-masing kabilah. Masing-masing pemuda ini diberi pedang tajam. Dengan pedang-pedang ini, mereka menyerang Muhammad s.a.w.secara bersama-sama, sehingga tanggung jawab atas kematiannya akan terbagi ke dalam beberapa kabilah. Dengan demikian, akan dapat memaksa Bani Abdul Manaf rela menerima diyat (tebusan harta atas kematian seseorang), sebab mereka tidak akan mampu memerangi sebuah kabilah yang terlibat dalam pembunuhan ini.  Mendengar pendapat Abu Jahal yang busuk ini, sang Iblis mendukungnya, dan seluruh peserta pun menyepakatinya. Pertemuan kaum kafir Quraisy di Darun-Nadwah ini menghasilkan suara bulat.

Maka berkaitan dengan peristiwa ini Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad :
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Q.S. Al-Anfal:30)

(Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan peristiwa tersebut. Imam Ahmad membawakan kisah tersebut dalam Al-Musnad, 5/87. Syakir berkata, “Dalam sanadnya ada catatan, disebabkan oleh keberadaan Utsman Al-Jazari ….” Hadits ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (4/49). Hadits ini dalam Majma’uz-Zawaaid (7/27) dinisbatkan kepada Ath-Thabrani. Penulis   kitab Majma’iz  Zawaaid berkata,”Di dalam sanadnya terdapat Utsman bin ‘Amr al-Jazari. Dia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban, tetapi dianggap lemah oleh ulama lainnya. Sedangkan para perawi selain Utsman, semuanya shahih Ibnu Hisyam juga meriwayatkan hadits yang sama dalam Sirah Nabawiyahnya Jilid II)

Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa Jin (dalam hal ini Iblish) bisa menjelma dalam wujud manusia dan dalam kondisi seperti itu maka ia bisa dilihat oleh siapa saja, tidak perlu usaha khusus dan ritual khusus untuk melihatnya.

b.    Jin Muncul Dalam Perang Badar Dalam Wujud Suroqoh bin Malik
Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka, lalu (setan itu) mengatakan : Tidak seorang pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini dan sesungguhnya aku (jin) adalah perlindungmu. Maka ketika kedua pasukan (pada perang Badar) saling melihat, setanpun berbalik ke belakang seraya berkata : Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu. Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat. Sesunguhnya aku (jin) takut kepada Allah dan Allah sangart keras siksaNya (Q.S. Al-Anfal : 48)

Menurut Imam Qurthubi : Diriwayatkan pada Perang Badar para jin menjelma sebagai sekelompok pasukan yang datang dipimpin oleh Iblish lalu membisikkan kepada Quraisy bahwa mereka pada hari itu tidak akan terkalahkan. Ibnu Abbas mengatakan : “Iblish muncul di tengah pasukan setan dengan membawa bendera, dia menampakkan diri dalam wujud seorang laki-laki dari Bani Mudlij dalam sosok Suroqoh bin Malik bin Ju’syam. Iblish berseru : Hari ini tidak akan ada yang mengalahkan kalian sebab aku mendampingi kalian. Kemudian Jibril datang menemui Iblish. Ketika Jibril melihatnya saat itu Iblish sedangmenggandeng tangan salah seorang musyrikin. Kemudian Ia melepaskannya lalu lari bersama pengikutnya. Laki-laki yang digandeng tadi berteriak : “Wahai Suroqoh bukankah engkau mengatakan akan membantu kami?”

“Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu Abbas, katanya: Iblis datang pada hari Badar sebagai tentara diri golongan setan, dia adatang membawa panjinya, dalam tampilan seorang laki-laki dari Bani Mudlij, dan setan dalam bentuk Suraqah bin Malik bin Ju’syum.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/73)
Adh-Dhahak berkata : “Pada perang Badr datang iblish dan pengikut-pengikutnya lalu mengatakan kepada kaum musyrikin bahwa mereka tidak terkalahkan.

c.    Jin Muncul Menemui Rasulullah Dalam Wujud Seorang Kakek
Dari Ibnu Umar r.a. berkata : Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.” Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?” Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.” Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.” Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”. Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.” Ibnu Abbas r.a. berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Prof. Sayyid Sabiq dalam Kitabnya Aqidah Muslim berkata, jin itu secara aslinya tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tidak diketahui bagaimana bentuk aslinya tetapi mereka mempunyai kemampuan menjelma diri menjadi bentuk lain menyerupai sahabat, kekasih atau suami seorang wanita dan hewan.

d.    Jin Muncul Menemui Utsman Dalam Wujud Menyerupai Ali
Dalam sebuah hadits dikatakan,bahwa Utsman bin al-Ash pernah datang ke pada Rasulullah Saw sambil berkata: “Ya Rasulullah,sesungguhnya syaithan telah menghalang-halangi antara saya dengan shalat dan membaca (al-Qur’an) saya, dengan cara menjelma dalam wujud Ali”. Mendengar hal itu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Syaithan yang mengganggu kamu itu bernama Khinzib. Apabila kamu merasakan datangnya, maka berlindunglah kepada Allah dari godaannya dan meludahlah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali”. Utsman berkata: “Lalu aku melaksanakan petunjuk Rasulullah s.a.w. tadi, sehingga Allah mengusir syaithan itu dari saya” (H.R. Muslim)

Jin Dapat Menjelma Menjadi Anjing?
Sebagian ulama berkata bahwa jin dapat menjelma menjadi binatang sehingga bisa dilihat. Namun dari berbagai hadits diketahui bahwa bukanlah ia menjelma, melainkan anjing dan ular ini adalah salah satu dari jenis jin.

Dari Jabir ibnu Nafis dari Abi Tsa’labah Al-Khuntsa r.a. bahwa Rasululah s.a.w. bersabda : “Jin itu terbagi 3 kelompok, yang pertama adalah jin yang punya sayap bisa terbang di udara, yang kedua jin berbentuk ular dan anjing (binatang) yang ketiga adalah yang bisa berubah-ubah bentuk dirinya” (H.R. Baihaqi & Al-Hakim)

Atsar dari Ibnu Abbas : “Jin terbagi 3 kelompok, yang pertama ada di udara, yang kedua adalah jin yang bisa berubah sekehendak hati, yang ketiga adalah jin yang berbentuk ular dan anjing (binatang)” (H.R. Ibnu Abbas)

Di sini yang dimaksud adalah bahwa bentuk ular dan anjing itu bukanlah bentuk dalam alam kasar (manusia) melainkan ia memang dari jenis anjing dan ular pada alam jin.

Namun ada juga yang memang jin yang ia bisa menjelma di alam manusia berupa anjing sehingga ia bisa ditangkap dan dibunuh. Tidak diketahui apakah jin yang menampakkan diri sebagai anjing di alam manusia itu juga pada asalnya di alam jin adalah berupa anjing atau bukan

Dari Ibnu Az-Zubair dari Jabir bin abdullah : “Rasulullah memerintahkan kepada kami membunuh anjing sampai-sampai ada seorang wanita yang membawa anjingnya kemudian kami bunuh. Kemudian Nabi SAW melarang kami membunuh semua anjing seraya mengatakan : “Bunuhlah anjing yang hitam legam dengan dua titik putih di atas mata nya sebab dia adalah penjelmaan setan” (H.R. Muslim)

Jin Dapat Menjelma Menjadi Ular?
Dalam riwayat Abu S’id Al Khudri diceritakan mengenai penampakan ular di alam kasar / alam manusia yang sebenarnya ia adalah jin. Tidak diketahui apakah jin yang menampakkan diri sebagai ular di alam manusia itu juga pada asalnya di alam jin adalah berupa ular atau bukan.
Abu As-Sa’ib menemui Abu Sa’id Al-Khudri di rumahnya. Ketika itu ia (Abu Sa’id) sedang sholat, karena itu aku duduk menunggu hingga selesai sholat. Tiba-tiba kudengar suara gemerisik di urjun (lapisan penyangga atap) tiba-tiba saya melihat seekor ular. Karena itu saya berdiri hendak membunuhnya. Tapi Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar tetap duduk. Akupun kkembali duduk. Ketika ia telah menyelesaikan sholatnya dia menunjuk salah satu ruang di rumahnya lalu berkata : “Engkau lihat kamar itu?” Aku menjawab : “Ya” Lalu Abu Sa’id berkata : “Dulu di sini tinggal seorang pemuda baru menikah. Suatu kali kami pergi ke perang Khandaq bersama Rasulullah. Pemuda itu minta ijin agar diperbolehkan ikut perang sampai tengah hari. Suatu hari pemuda tsb minta ijin pada Nabi untuk pulang ke rumah. Nabi SAW berkata : “Bawalah senjatamu sebab aku khawatir Bani Quraidhah (Yahudi di Madinah) mengganggumu. Pemuda itu mengambil senjatanya lalu pulang. Setiba di rumah dilihatnya istrinya sedang berdiri antara pintu rumah dan pintu halaman. Terdorong oleh rasa cemburu dia menghambur hendak menikam istrinya dengan tombak. Istrinya berteriak : “Tahan tombakmu, masuklah dan lihatlah apa yang menyebabkan aku keluar rumah” Pemuda itupun masuk ke rumah dan dilihatnya ada seekor ular besar melingkar di tempat tidurnya. Dia membidik tombaknya ke arah ular itu dan mengenainya. Ia keluar rumah dan membiarkan ular itu di dalam kamar. Tiba-tiba ular itu menyerangnya dan membelitnya. Mereka bergulat entah siapa yang segera mati. Kami mendatangi Rasulullah menceritakan kejadian pemuda itu. Kami mohon pada beliau : “Ya Rasulullah mohonlah kepada Allah agar dia bisa tetap hidup bersama kita”. Nabi SAW berkata : “Sebaiknya kalian memohonkan ampunan kepada Allah untuk dia. Di Madinah terdapat jin yang menyatakan diri masuk Islam kalau kalian melihat gelagat tak baik dari mereka (jin jin itu) maka usirlah dia selama 3 hari. Jika lebih dari itu mereka masih membangkang maka bunuhlah dia sebab pasti dia itu setan (jin kafir)” (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ular-ular itu adalah jin yang mengubah rupa dan bentuknya sebagaimana Bani Israil yang berubah bentuk menjadi rupa monyet dan babi” (H.R. Thabrani dengan sanad yang sahih)

Ibnu Taimiyyah berkata :”Jin bisa menyerupakan dirinya dalam wujud manusiaataupun binatang. Mereka bisa berwujud ular, kalajengking, sebagaimana mereka juga bisa berubah mwujud menjadi unta sapi kambing kuda keledai atau berupa burung juga bisa menyerupai salah satu anak cucu Adam. (Risalatul Jin hal 32)
Umar bin Khattab berkata : sesungguhnya seseorang di antara kalian tidak mungkin berubah bentuk dari bentuk dirinya yang telah diciptakan Allah tetapp mereka (jin) mempunyai sihir seperti halnya sihir di kalangan kalian (manusia) (Fathul Bari VI/344)

Jika Malaikat Dapat Dilihat Oleh Orang Banyak Demikian Pula Jin
Bagi orang-orang yang masih meragukan bahwa jin bisa dilihat, maka kita tinjau perkara makhluk ghaib satu lagi yaitu malaikat. Secara umum malaikat tidak bisa terlihat oleh mata manusia karena materinya yang terbuat dari cahaya. Namun atas kehendak Allah, dan jika malaikat itu sendiri yang memperlihatkan dirinya, maka malaikat dapat menjadi terlihat oleh mata manusia

Dari Usaid bin Hudhair r.a., dia mengatakan ketika dia membaca surat Al-Baqarah di malam hari,kudanya yang sedang tertambat tiba2 berputar-putar, lalu ia (Usaid) diam, dan kuda itupun diam, Kemudian dia teruskan bacaannya, lalu kuda itu berputar lagi, lalu ia bangkit karena putranya Yahya berada di dekat kuda tersebut dan khawatir akan tersepak kuda. Ketika ia mengambil putranya ia melihat ke langit dan menyaksikan sesuatu. Keesokan harinya ia menceritakan peristiwa itu pada Rasulullah SAW lalu Nabi bersabda : “Bacalah wahai Ibnu Hudhair. Dia menjawab : Wahai Rasulullah saya kasihan pada putra saya Yahya malam itu ia berada di dekat kuda, lalu saya mengangkat kepala saya dan bangkit menujunya, saya melihat ke arah langit tiba-tiba di sana ada seperti atap dan ada beberapa pelita, saya keluar untuk menyaksikan namun sudah tidak ada lagi. Beliau SAW bersabda : “Tahukah kamu apa itu?” Dia menjawab : “Tidak” Rasulullah bersabda : “Itu adalah malaikat yang mendekat karena mendengar suaramu. Seandainya kamu terus membaca surat Al-Baqarah itu, tentu orang-orang akan melihat malaikat secara jelas” (H.R. Bukhari)

Jika malaikat saja yang terbuat dari cahaya (materinya lebih halus daripada Jin dari api)  menurut Rasulullah bisa terlihat dengan jelas oleh orang ramai (tidak hanya Nabi dan orang sholeh saja) maka demikian pulalah perkaranya pada Jin. Terlihatnya malaikat ini tidak menyalahi rumus umum bahwa kita tidak bisa melihat malaikat, karena bukan manusia yang mengubah kondisinya sehingga bisa melihat malaikat melainkan malaikatlah yang mengubah kondisinya sehingga terlihat oleh manusia.

Dari Isyah r.a. Nabi SAW bersabda : kadang-kadang Malaikat datang dalam bentuk seorang pria dan berbicara kepada saya dan saya memahami apa katanya. ” ‘Aisha menambahkan: Sesungguhnya aku melihat Nabi menerima wahyu Ilahi pada hari yang sangat dingin sementgara melihat keringat jatuh dari keningnya(H.R. Bukhari).

Jadi pada dasarnya manusia memang tidak mampu melihat malaikat namun dalam kondisi tertentu jika malaikat menurunkan getaran energi elektron penyusun tubuhnya dan menampakkan diri manusia baik dalam wujud aslinya maupun dengan cara menyerupai manusia atau makhluk lain, maka pada kondisi seperti ini manusia mampu melihat malaikat. Demikian pula cara yang sama dengan jin.

Anjing Dan Keledai Dapat Melihat Jin
Rasulullah bersabda, “Apabila kalian mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari (kejahatan) syetan. Karena ia telah melihat syetan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari, maka berlindunglah kepada Allah. Karena mereka sedang melihat apa yang tidak kalian lihat.” (H.R. Abu Daud, no. 5103).

“Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok maka mintalah karunia dari Allah, karena sesungguhnya ayam itu melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, berlindunglah kepada Allah dari godaan dan tipu daya syaithan karena keledai itu telah melihat syaithan“. (H.R. Bukhari Muslim)

Hadits di atas makin menguatkan lagi teori bahwa sesungguhnya jin itu bukan sama sekali tidak bisa terlihat melainkan karena materi / dzat yang menyusun tubuh jin terbuat dari inti api (mariij) sehingga memiliki molekul / elektron yang bergetar dengan frekuensi dan panjang gelombang tertentu yang di luar range (jangkauan) mata dan telinga manusia. Terbukti anjing dan keledai dapat mendengar dan melihat jin, jadi tidak benar bahwa hanya para Nabi saja yang bisa melihat jin. Mengapa anjing dan keledai bisa melihat jin? Hal ini dikarenakan anjing dan keledai / kuda memiliki telinga dan mata yang bisa menangkap gelombang lebih dari telinga dan mata manusia.

Jin Dapat Terlihat Jika Ia (Jin Itu) Memperlihatkan diri
Al Wadhi Al Baqilani mengatakan Dari Ibnu Habib meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Aku ingatkan kalian (wahai jin) dengan janji yang telah kalian perbuat bersama Sulaiman bin Daud bahwa kalian tidak akan menyakiti kami dan tidak pula memperlihatkan diri kalian kepada kami
Demikian pula Malik mengatakan : “Cukuplah jika dikatakan kepada mereka (Jin) : ‘Aku ancam engkau dengan nama Allah dan hari akhir hendaknya engkau tidak memperlihatkan diri kalian kepada ku dan jangan pula mengganggu ku.

Sesuatu Yang Tidak Dapat Dilihat Bukanlah Hal Tidak Masuk Akal
Di alam ini terdapat banyak sekali materi yang ada / wujud namun tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar maupun diraba oleh manusia dan hal ini bukanlah hal yang aneh. Dalam ilmu fisika diketahui bahwa semua benda di alam ini terdiri dari molekul, dan semua molekul terdiri dari elektron, proton dan neutron. Elektron adalah partikel bermuatan negatif. Dan diketahui pula bahwa semua partikel penyusun molekul ini bergertar dengan frekuensi tertentu. Nah, frekuensi inilah yang menentukan sifat dari zat tersebut, termasuk apa warnanya, bagaimana wujudnya. Sedangkan di sisi lain ilmu fisika juga mengetahui jika sebuah partikel bermuatan (apakah negatif atau positif) jika bergerak atau bergetar ia akan menimbulkan gelombang elektromagnetik / medan elektromagnetik di sekitarnya.

Gelombang Elektromagnetik ini memiliki frekuensi dan panjang gelombang. Jika frekuensinya terlalu tinggi maka tidak akan terlihat oleh mata kita. Demikian pula jika frekuensinya terlalu rendah juga tidak akan tertangkap oleh mata kita. Dalam ilmu fisika diketahui bahwa mata manusia hanya bisa menangkap gelombang elektro magnetik dengan frekuensi 1014 – 1015 Hz. Di luar rentang ini yaitu lebih kecil dari 1014 Hz atau lebih tinggi dari 1015 Hz, mata manusia tidak bisa menangkapnya.

Antara 101 – 105 Hz adalah gelombang radio dan televisi, Antara 105 – 1010 Hz adalah gelombang radar, 1010 – 1014 adalah gelombang cahaya infra merah yang sering digunakan untuk remote, pembaca vcd dll. Semua ini di bawah jangkauan mata manusia. 1014 – 1015 Hz adalah sinar ultraviolet, 1015 – 1020 Hz adalah daerah sinar X sedangkan 1020 – 1025 Hz adalah daerah sinar gamma, sinar alfa dan beta. Bagaimana dengan frekuensi di atas 1025 Hz ? Belum ada yang tahu. Kita tahu malaikat terbuat dari sinar. Maka mungkin saja ia terbuat dari sinar yang di atas 1025 Hz.

Dari segi panjang gelombangnya, diketahui bahwa mata manusia hanya bisa menangkap gelombang elektro magnetik dalam rentang (range) antara 400 sampai 700 nm (nano meter) namun dilaporkan ada juga yang sanggup melihat dalam rentang panjang gelombang antara 380 sampai 780 nm. Jika dinyatakan dalam satu angstrom maka rentang gelombang yang nampak oleh mata manusia adalah antara 4.000 Angstrom (warna ungu) hingga 8.000 Angstrom (warna merah).

Sinar gamma, Sinar beta, sinar alfa,  sinar X (rontgen) sinar ultraviolet adalah sinar frekuensi tinggi di atas daya tangkap mata manusia. Sedangkan sinar inframerah,  gelombang mikro (radar dan TV) dan gelombang radio adalah gelombang elektromagnetik yang memiliki frekuensi rendah di bawah jangkauan mata manusia.
Banyak binatang diketahui memiliki penglihatan lebih dari manusia. Misalnya lebah, burung dan serangga dapat melihat sinar ultraviolet (300-400nm)
Demikian pula dengan pendengaran. Sebagian besar orang dapat mendeteksi suara pada kisaran frekuensi 20 Hz hingga 20 KHz (20.000 Hz), tetapi batas bawah dan batas atas tersebut dipengaruhi faktor kesehatan dan usia. Di atas 20.000 Hz disebut gelombang suara ultrasonic dan di  bawah 20 Hz disebut gelombang suara infrasonic.

Kesimpulan
Jin dapat dilihat jika diri jin itu sendiri menghendaki untuk bisa dilihat. Namun hal ini hal yang sulit karena mengubah partikel asli dirinya sebagai yang ghaib menjadi rentang gelombang yang terlihat diperlukan energi. Banyak partikel di alam ini yang tidak terlihat karena bergetar dengan frekuensi di luar jangkauan indera manusia. Untuk mengubahnya menjadi terlihat ia harus menurunkan energinya, mendinginkan dirinya sedemikian rupa sehingga partikelnya bergetar lebih lambat. Hal ini bisa mengancam nyawa si Jin itu sendiri.
Apa yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an dan Hadits bahwa jin terbuat dari inti api, maka api adalah termasuk wujud gas. Api itu sendiri bukan jenis dzat, melainkan adalah wujud dari reaksi dzat dengan dzat lain (diantaranya oksigen). Yang jelas partikel berwujud gas bergetar lebih cepat dibandingkan dengan wujud cair atau padat.

Maka wujud penampakan jin yang selama ini terlihat entak itu berwujud binatang, manusia, hal-hal aneh, asap, cahaya dan lain-lain tak ada yang tahu pasti apakah itu wujud asli Jin ataukah itu adalah wujud penyerupaan / penjelmaan saja. Karena jin sebagai wujud gas adalah tanpa bentuk dan bisa menyerupai apa saja.

Wallahua’lam


sumber :
http://misterighaib.wordpress.com/2012/10/02/mengenal-makhluk-jin/
 

1 komentar:

  1. terima kasih atas ilmu yang diberikan, semoga bermanfaat.

    BalasHapus