Laman

Rabu, 17 Juli 2013

Ziarah Ke Makam Pelacur

Malam itu, Jack dengan jamaah pelacur kelas tinggi sedang berbincang di hotel bintang lima.Di bulan suci, apa yang mereka inginkan?Ya,mereka juga pasti ingin hari raya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh. Di antara mereka banyak yang libur melacur, hanya minta kiriman lewat ATM para pelanggannya. Ada pula yang masih ngebut mencari “tumpangan” layaknya angkot. Ada pula yang sudah berjanji, selepas lebaran, dunia kelam akan ditutup selamanya dalam hidupnya. Macam-macamlah.
Jack bercerita banyak tentang sejarah pelacuran di dunia,sampai profil-profil pelacur hingga seorang pelacur yang menjadi permaisuri raja, dan sempat menyelamatkan negrinya. Tak kurang pula bagaimana Jack mengisahkan tobatnya para pelacur dan sejumlah pelacur yang memondokkan anaknya di pesantren, dari hasil pelacuran.
“Malam inikita akan lanjutkan ziarah bersama ke sebuah makam seorang perempuan mulia di mata Allah tapi hina di mata manusia…”
“Apakahdiaseorang penjahat? Koruptor? Kanibal?Atau…? Seperti kita-kita ini, Mas? tanya salah satu hostes di hotel itu.
“Ya, Anda tebak sendiri. Kita kesana, kita tahlil, danberdoa bersama?”
Para pelacur itu sepertinya sudah mengerti siapa yang akan di ziarahi itu.Wajah-wajah mereka mengekspresikan pancaran yang beragam. Ad yang kelihatan pucat pasi,ada pula yang gembira, ada pula yang menunduk, ada pula yang langsung menitikkan air mata.
“Bagaimana kisahnya Mas Jack,kok sampai dia begitu mulia di hadapan Allah? Apakah kita-kita ini yang sangatkotor juga bisa?”
Mata Jackmenerawangjauh. Lalu ia kisahkan tentang kehidupan pelacur itu. Ia adalah seorang hostes yang sangat cantik dan sangat laris. Semua orang di jakarta yang hobi berselingkuh dengan dunia perempuan tahu namanya. Begitu juga orang-orang di kampungnya tahu profesinya.Makanya, ketika tiba-tiba meninggal dunia, hampir tak ada yang mau mngubrnya. Sanak saudaranya juga tidak jelas. Akhirnya pelacur ini dikubur saja asal-asalan, di kuburan dekat sungai, yang tempatnya jauh dari kuburan umum. Masyarakat merasa jijik, dan sekaligus menjadikan momentum, agar dikenang, bahwa seorang pelacur kalau matitidak akan dikubur di makam umum. Mungkin masyarakat mau menghukum pelacur ini.
Sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba ada proyek pelebaran sungai. Tentu kuburan pelacur ini akan digaruk begitu saja. Benar, ketika kuburan pelacur itu di buldoser, tiba-tiba buldosernya macet, dan berulang kali demikian. Akhirnya seorang kyai di kampung itu datang bersama masyarakat untuk mengeduk kuburan itu. APa yang terjadi?Mereka semua terkejut setangah mati ketika melihat mayat pelacur sepuluh tahun yang lalu masih utuh, kafannya masih bersih, kulitnya masih mulus. Mereka terhenyak, dan hampir semua yang melihat disana menangis, memohon ampun kepada Allah atas dosa dan penghinaan yang mereka lakukan selama itu. Akhirnya dikuburkan di makam umum, dihormati layaknya orang yang lain.
Jack terdiamsejenak hampir tersedak suaranya. Sementara para pelacur lainnya itu, sudah saling berpelukan menahan tangis atas kisah tragis itu.
“Apa yang dilakukannya selama jadi pelacur Mas?”
“Saya tidak tahu. Mungkin hatinya tidak pernah melacur, jiwanya untuk Allah. Dan setiap dia melacur dia hanya ingat Allah,bahkan menjerit-jerit.Saya dengar dari dunia waktu yang saya tembus, melihat dia menjelang meninggalnya menangis sampai kering air matanya, dan menjerit sampai pingsan atas pertobatannya, sampai wafatnya… Allah mengampuni segala dosanya yangberlalu. Saya merasa mendengarkan munajatnya begini:Tuhan,Engkau tahu aku hamba yang Engkau Ciptakan, dan Engkau pun tahu aku seperti initidak lepas dari TakdirMu. Kini aku hanya ingin kembalikepadaMu, setelah seluruh isi makhlukMu tidak ada yang menjadi harapanku.Kalu seluruh makhlukMu saja mencaciku, menghinaku,menghempaskanku
, lalu Engkaupun juga hendak membuangku,lalu siapa lagi yang bakal menerima hamba yang hina iniTuhaaan… PadahalEngkaulah satu-satunya harapanku…Karena itu terimalah aku di PangkuanMu ya Tuhaaann…”
Hotel berbintang ituseakan-akan mau roboh mendengar kisah Jack,karena setelah kisah itu diuraikan, berurai pula air mata dan jeritan jama’ah pelacur itu…
M. Luqman Hakim.

 Sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar