Halaman

Selasa, 30 Juli 2013

Menguak Misteri Dunia Jin

MENGUAK DUNIA JIN, MENGAPA ORANG BERDZIKIR BISA KESURUPAN JIN





Yang dimaksud menguak dunia jin dalam pembahasan ini bukan dalam arti mengenali makhluk jin di alam jin, atau di tempat-tempat yang angker, melainkan mengenali dampak gangguan jin yang ada dalam tubuh manusia. Jin di alam jin, tidak mungkin manusia dapat mengetahui hakekatnya, karena wujud jin tidak bisa dilihat manusia dengan matanya. Oleh karena jin tidak dapat dilihat dengan mata maka wujud jin pasti tidak mungkin dapat dibayangkan dalam hayal manusia. Jika ada orang mengaku pernah ketemu jin dan bisa membayangkan wujudnya, berarti orang tersebut telah tertipu baik oleh jin maupun oleh hayalannya sendiri. Maka mengenali jin yang dimaksud hanya dari akibat perbuatan jin terhadap manusia, seperti orang kesurupan atau orang terkena penyakit akibat perbuatan jin, kena santet misalnya.


Seringkali ada kejadian, orang yang sebenarnya ingin berbuat baik tapi malah berakibat buruk, hal itu disebabkan karena perbuatan tersebut kurang didukung penguasaan ilmu yang memadai, apalagi melakukannya hanya atas dasar ikut-ikutan saja. Seperti yang terjadi dalam pelaksanaan ruqyah yang pernah marak dilakukan sekelompok orang beberapa tahun lalu. Oleh karena kurang menguasai ilmunya, orang-orang tersebut yang sebenarnya ingin menolong temannya supaya tidak kesurupan jin malah berakibat sebaliknya, orang yang ditolong itu, yang sebelumnya tidak pernah kesurupan jin malah menjadi kesurupan jin, bahkan yang asalnya tidak sakit malah jadi sakit.


Ruqyah yang dahulu marak dilakukan itu, ternyata kini masih saja ada orang yang melakukannya. Jika dulu dilakukan dengan membaca ayat-ayat suci Alquran kini dengan membaca wirid dan dzikir berjama’ah, namun akibatnya sama, orang-orang yang berdzikir dalam majlis dzikir itu menjadi bergelimpangan tidak sadarkan diri. Para dzakirin yang naas itu bareng-bareng kesurupan jin, mereka lupa ingatan dan berteriak-teriak seperti orang gila. Namun anehnya, pimpinan majlis dzikir itu mengatakan, yang mereka lakukan itu sarana untuk mengeluarkan jin dari tubuh manusia. Apakah benar pelaksanaan dzikir seperti itu bisa dikatakan ruqyah? Mengapa orang yang asalnya sadar menjadi tidak sadar dan kesurupan jin dikatakan mengeluarkan jin dari tubuh orang tersebut ? Bagaimana logikanya orang yang asalnya sadar menjadi tidak sadar dan bahkan dapat berakibat sakit yang berkepanjangan malah dikatakan ruqyah, yang artinya menyembuhkan orang sakit ? Barangkali masih ada yang perlu diteliti dari apa yang mereka lakukan itu, pelaksanaan dzikir tersebut boleh jadi justru menyimpang dan menyalahi aturan dari apa yang dimaksud dengan ruqyah itu sendiri.


Coba kita renungkan, seandainya kesadaran orang yang sedang terganggu akibat kerasukan jin di dalam majlis dzikir tersebut tidak dapat dipulihkan kembali, hingga menjadi seperti orang gila dalam waktu yang panjang, mereka berteriak-teriak sepanjang jalan seperti saat pertama kali kesurupan jin pasca berdzikir, apa jadinya ? siapa yang dapat menolong mereka serta bertanggung jawab atas semua kejadian itu?
Apakah para pelaksana majlis dzikir itu mampu memberikan jaminan dapat memulihkan kembali kesadaran orang yang sedang dikuasai makhluk jin tersebut? Apakah mereka itu tidak berfikir bahwa orang yang sedang kesurupan jin itu berarti sedang menderita sakit akibat luka, terlebih luka itu berada di wilayah kesadaran mereka ?


Penulis merasa perlu menanggapi kejadian tersebut sebagai bentuk pengabdian hakiki seorang hamba yang dhoif kepada Tuhannya, demi keselamatan anak cucu kita semua dari tipudaya dan gangguan setan jin yang terkutuk. Penulis berpendapat bahwa majlis dzikir yang sekali waktu ditayangkan di tv yang menyebabkan pengikutnya menjadi kesurupan massal yang mereka katakan ruqyah untuk mengobati orang sakit, sesungguhnya itu bukan mengeluarkan jin dari tubuh manusia, melainkan justru sebaliknya, yakni membantu jin masuk ke tubuh manusia dan menguasai kesadarannya.
Perbuatan itu sesungguhnya bisa membahayakan kesehatan orang yang ikut berdzikir dalam majlis tersebut. Bahaya jangka pendek, orang yang pernah kesurupan itu akan berpotensi jadi langganan kesurupan jin lagi dan bahaya jangka panjang, orang yang pernah kesurupan jin itu bisa berakibat terjangkit penyakit jin di fisik, mudah terkena santet nyasar dan gila.


Ruqya dan Mantra


Ruqyah menurut bahasa artinya mantra atau jampi – jampi. Sedangkan yang dimaksud ruqyah adalah cara penyembuhan orang sakit sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang zaman jahiliyah, yang kemudian bagi pelaksanaannya yang sesuai dengan cara islami dibenarkan dan diperbolehkan oleh Baginda Nabi saw; sebagaimana contoh kejadian yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw. yang tersebut di dalam hadis berikut ini:


حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا فِي سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَتَبَسَّمَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a ,” Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah saw sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah sebuah kampung Arab dan mereka berharap boleh menjadi tamu kepada penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak menerima. Tetapi ada yang bertanya: Apakah ada di antara kamu yang bisa menjampi?, Karena ketua kampung kami terkena santet. Salah seorang dari para Sahabat menjawab: Ya, ada. Lalu beliau menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan surat Al-Fatihah. Ketua kampung tersebut sembuh, maka Sahabat diberi beberapa ekor kambing. Namun sahat tersebut tidak mau menerima pemberian itu dan mengajukan syarat: “Aku akan menyampaikan terlebih dahulu kepada Nabi s.a.w”. Para sahabat rasul itu pun pulang dan menemui Nabi s.a.w dan menyatakan pengalaman tersebut. Sahabat itu berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi/meruqyah dengan surat Al-Fatihah. Mendengar kata-kata itu, Rasulullah saw tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan jampi (ruqyah). Baginda bersabda lagi: Ambillah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kamu. (Riwayat Bukhari di dalam Kitab Pengobatan hadits nomor 5295, Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4080, Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Sholat nomor 1989.)


Menurut hadis Nabi saw. di atas, yang dimaksud ruqyah adalah membacakan mantra atau jampi-jampi, baik dengan ayat suci Alquran al-Karim maupun dengan kalimat doa kepada orang yang sakit, supaya orang yang sakit itu menjadi sembuh. Ruqyah bukan dibacakan kepada orang yang sehat dan sadar kemudian malah menjadi kesurupan jin.


Kalau ditanyakan, mengapa orang yang berdzikir dalam majlis dzikir tersebut bisa kesurupan jin, padahal diyakini oleh pelakunya sebagai sarana mengeluarkan jin dari tubuh manusia?
Mari kita lebih mendalami berkenalan dengan jin. Jin adalah makhluk yang lebih kuat dari manusia. Mereka diciptakan dari api sedang manusia diciptakan dari debu. Jin dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihat Jin. Jin bisa masuk tubuh manusia melalui urat darahnya, sedangkan manusia tidak dapat memasuki tubuh mereka. Bahkan iblis dan balatentaranya yakni para setan jin yang terkutuk telah ditetapkan sebagai musuh utama manusia. Allah SWT. berfirman:


إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” QS Fathir ayat 6.


Supaya setan jin dapat melancarkan tipudaya dan menguasai pikiran manusia dengan mudah maka manusia yang telah ditentukan sebagai target sasarannya harus terlebih dahulu dikuasai kesadarannya. Dalam kaitan upaya ini Jin rupanya perlu bantuan dan bekerja sama dengan manusia yang kurang mengerti ilmu jin, maka kita lihat dalam fenomena ruqyah tersebut, upaya setan jin untuk menguasai kesadaran manusia itu benar-benar telah terfasilitasi. Dengan pelaksanan dzikir khusu’ yang dipaksakan itu, para dzakirin tersebut tanpa sadar justru terjebak mengundang jin untuk menguasai kesadaran mereka sendiri, terbukti dengan begitu cepat mereka kesurupan jin.


Mestinya dengan dzikir berjamaah itu kesadaran para pelakukan yang harus paling terjaga, karena hanya dengan kesadaran yang waras, dzikir yang dilakukan bisa dianggap sebagai ibadah, tanpa kesadara berarti apa saja yang dilakukan orang tidak termasuk ibadah. Oleh karenanya kesadaran tidak boleh dipertaruhkan dengan apa saja, terlebih dengan alasan yang tidak pasti. Yang pasti adalah kesadaran itu sendiri, apabila dirasakan sehat, berarti tidak ada jin di dalamnya. Kalau ada jin di dalamnya, berarti orang tersebut kesurupan jin.


Hanya dengan kesadaran yang sehat, manusia dapat mengingat Allah Ta’ala dan bersyukur atas segala karuniah dan anugerah. Dengan kesadaran yang dikuasai jin berarti manusia sedang lupa dan tidak waras. Bagaimana orang yang sedang tidak waras atau sakit ingatan dikatakan berdzkir kepada Allah?. Barangkali para pelaksana dzikir ruqyah yang terkadang ditayangkan tv itu kurang faham, bahwa sesungguhnya jin dapat bebas keluar masuk ke dalam tubuh manusia melalui jalan darahnya, baik sekedar untuk memberi informasi kepada manusia maupun mengadakan tipudaya bahkan langsung melalui hatinya. (QS. An-Nas ayat 5-6)


Jadi, mengeluarkan jin dari tubuh manusia itu dengan membebaskan kesadaran manusia dari penguasaan jin bukan sebaliknya. Bukan orang yang asalnya sadar menjadi tidak sadar, melainkan orang yang tidak sadar menjadi sadar.



MENGUAK DUNIA JIN, MELIHAT JIN DENGAN MATA KEPALA..?


Jika yang dimaksud melihat Jin dalam arti melihat dengan mata kepala maka pasti manusia tidak dapat melakukannya, karena Allah Ta’ala telah menetapkan jin tidak dapat dilihat mata manusia. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. QS:7/27.

Demikian pula yang dinyatakan Ibnu Abbad r.s dalam sebuah hadis Nabi s.a.w. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. berkata:
مَا قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْجِنِّ وَمَا رَآهُمُ
Yang artinya: Rasulullah saw tidak membacakan al-Quran jin dan tidak pula melihat mereka.


Jika yang dimaksud melihat jin dalam arti mengenali keberadaan jin, maka orang tidak harus menggunakan mata kepala, dengan perasaan atau indera batin yang disebut indera hayali seorang yang ahli bisa merasakan keberadaan jin, baik yang berada di suatu tempat ataupun jin yang sedang nyurup dalam tubuh manusia. Seorang yang ahli bisa mengenali keberadaan jin yang sedang nyurup dalam tubuh manusia itu melalui perubahan karakter manusia yang kesurupan jin tersebut, namun yang bisa memastikan hal ini hanya orang yang ahli dalam ilmunya. Orang awam sulit bisa membedakan antara orang yang sakit jiwa dengan orang yang kesurupan jin, karena gejalanya hampir sama.


Seperti orang bisa mengenali suatu benda dengan inderanya, dengan penciuman atau pendengaran misalnya orang bisa mengenali bauh atau suara. Asal dengan inderanya tersebut orang dapat mengenali sifat dan wujud suatu benda maka hal itu boleh dikatakan ‘rukya’ atau melihat. Seperti contoh orang buta bisa mengenali uang kertas, padahal seumur hidupnya tidak pernah melihat uang itu dengan matanya, melainkan meraba dengan tangannya. Dengan mencium orang dapat mengenali kwalitas tembakau, dan dengan mendengarkan orang dapat mengenali seseorang melalui suaranya, bahkan melalui suara langkah kakinya.


Orang bisa mengenali jenis suara, padahal suara itu tidak dapat dilihat dengan mata. Meski hanya dengan pendengaran, ketika seseorang dapat mengenali suatu benda, maka orang itu berarti mengenali benda tersebut. Seperti orang makan salak secara terus-menerus sehingga menjadi tahu dengan persis bahwa salak yang dimakan itu salah pondoh misalnya, orang tersebut berarti termasuk orang yang kenal salak pondoh. Bahkan semakin ahli, semakin itu pula dia dapat mengetahui dengan tepat terhadap segala jenis-jenis salak secara spesifik.


Melihat jin itu tidak harus dengan mata kepala, yang pasti jin itu ada. Jin dapat melihat manusia, manusia tidak dapat melihat jin. Kehidupan jin dekat dengah manusia, hanya saja manusia tidak dapat merasakannya. Demikianlah yang dinyatakan Allah dengan firman-Nya. Oleh karena alam jin adalah alam ghaib (bagi indera lahir), maka untuk mampu mengenalinya, pertama seorang hamba wajib beriman terhadap apa-apa yang disampaikan oleh Allah Ta’ala melalui wahyu-Nya. Ketika alam jin dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya, maka seorang hamba wajib mengimaninya. Selanjutnya, apabila orang beriman tersebut ingin memperdalam imannya sampai menjadi yakin hingga dengan yakin itu diharapkan bisa merasakan keberadaan jin, maka dengan kemampuan imaginasi yang ada orang tersebut harus bersungguh-sungguh mengadakan kajian dan penelitian dengan cara yang benar dan tentunya dengan mendapatkan bimbingan dari guru ahlinya, memadukan antara ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat, dengan ilmu Allah dan izin-Nya orang tersebut akan dibukakan penutup matanya sehingga mendapatkan sesuai apa yang diharapkan.
Ketika Allah SWT. berfirman:
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا- الفرقان:25/53
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.QS:25/53.


Manusia harus mengimani firman Allah Ta’ala tersebut, karena hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya. Menurut ayat diatas, alam manusia bagaikan samudera dan alam jin juga bagaikan samudera, namun antara keduanya dibatasi barzah atau ruang waktu dan dinding-dinding yang membatasi. Maksudnya, alam manusia adalah suatu dimensi dan alam jin juga suatu dimensi, masing-masing dimensi itu dibatasi oleh dimensi lain pula. Seperti alam mimpi adalah dimensi dan alam jaga juga dimensi, masing-masing dimensi tersebut dibatasi oleh dimensi yang lain yaitu alam tidur. Alam tidur dikatakan sebagai pembatas antara alam sadar dengan alam mimpi, karena mimpi itu terjadi di alam tidur meski tidak semua orang tidur bisa bermimpi, hal ini membuktikan bahwa alam tidur berbeda dengan alam mimpi.


PENAMPAKAN YANG MENGHANTUI HAYAL


Ketika orang mendapati penampakan secara hayali, baik didapatkan sebagai hasil wiridan dan mujahadah atau karena ingatannya sedang sakit. Orang tersebut kemudian mengira penampakan yang muncul dalam hayal itu adalah bentuk jin yang asli, maka perkiraan tersebut salah, karena jin telah ditetapkan tidak dapat dilihat dengan mata maka wujud jin pasti tidak mungkin dapat dibayangkan dalam hayal manusia. Penampakan-penampakan tersebut sesungguhnya hanyalah bentuk gambar (visual) yang ditusukkan jin ke dalam alam hayal manusia, itu bisa terjadi, karena orang tersebut sebelumnya telah menghayal jin sesuai gambaran yang dalam hayalnya sendiri. Oleh karenanya, ketika bayangan gambar jin yang ada dalam hayalan orang tersebut bentuknya putih, maka penempakan yang muncul akan berbentuk putih-putih, demikian pula apabila hayalan itu berbentuk hitam, maka penampakan yang muncul juga berupa hitam-hitam.


Penampakan itu sesungguhnya hanyalah hasil tipuan sihir jin, bukan bentuk asli jin. Dengan mengambil bahan-bahan yang sudah tersedia dalam rekaman memori hayal manusia yang sedang dalam keadaan kesadarannya kurang sehat, sedang dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar tapi sadar, Jin yang berbuat sihir itu membentuk bahan yang diambil tersebut menjadi visual dan dimasukkan lagi ke dalam bilik hayal sehingga orang yang tersihir itu seakan-akan melihat ada orang berdiri di depannya, padahal visual itu hanya gambar virtual yang tidak berwujud. Dalam kaitan ini banyak orang ahli wirid dan mujahadah terperangkap di dalam tipudaya setan jin. Terlebih lagi ketika penampakan itu kemudian mengeluarkan suara dan mengaku ruh wali, maka ahli wirid itu menghadapi jebakan setan yang sangat mematikan, karena selanjutnya jin bisa menjadi orang tersebut menjadi sombong karena merasa dirinya lebih baik dibanding orang lain.


Orang tidak dapat melihat jin karena mata lahirnya sedang ditutupi, atau karena sorot pandangnya sedang diselimuti hijab-hijab basyariah. Ketika hijab-hijab itu dihapus sehingga penutupnya menjadi buka, maka dengan izin-Nya manusia dapat merasakan keberadaan jin. Allah telah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya:
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”. QS:50/22.


Seandainya ada orang dapat melihat jin karena sorot matanya telah menjadi tajam dan tembus pandang dan ketika ternyata bentuk jin itu tidak sama dengan segala bentuk yang ada di alam dunia, dapatkah orang tersebut memberikan contoh kepada orang lain yang belum pernah melihat bentuk asing tersebut…?
Ketika pandangan mata manusia telah menjadi tembus pandang, berarti saat itu orang tersebut tidak melihat dengan mata lahir melainkan dengan mata batin atau matahati, karena hanya dengan indera batin orang dapat melihat alam batin. Keadaan yang dilihat oleh matahati , dapatkah hal tersebut diperlihatkan kepada orang lain melalui mata lahirnya? tentunya tidak bisa. Seperti orang dapat mengenali suara dengan pendengarannya misalnya, dapatkah suara itu dikenalkan kepada orang yang tidak punya indera pendengaran? Atau dikenalkan melalui indera penciuman, karena orang tersebut indera pendengaran sedang sakit….?


Walhasil, apa saja yang dapat dicontohkan oleh manusia tentang bentuk jin melalui gambar yang dapat dilihat oleh mata lahir manusia, sesungguhnya itu hanyalah kebohongan belaka, baik kebohongan yang disebarkan oleh jin terhadap manusia yang dapat dibohongi ataupun oleh manusia yang memang suka berbuat bohong. Sesungguhnya bentuk jin itu tidak dapat dilihat oleh manusia dengan panca inderanya atau disebut bashoroh melainkan dirasakan dengan indera batin yang disebut indera hayali atau bashiroh. Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui kepada segala ciptaan-Nya.



MENGUAK DUNIA JIN, PENYAKIT AKIBAT GANGGUAN JIN



Sebagai dampak kesurupan jin, pasca kesurupan itu orang tersebut berpotensi rentan terjangkit penyakit jin atau yang disebut penyakit non medis. Apabila penyakit jin yang dimaksud menyerang pada wilayah kesadaran secara permanen, berarti orang tersebut menjadi hilang ingatan atau gila. Apabila menyerang jasad berarti orang tersebut terkena penyakit jin. Penyakit jin yang menyerang jasad ini bentuk wujud aslinya berupa angin dimensi jin. Angin itu masuk ke badan manusia kemudian menempel di salah satu bagian organ tubuh. Apabila angina jin ini menyerang kaum ibu, kedudukan angin jin tersebut seringkali nempel di bagian payudara dan rahim.


Seperti tanah liat ketika dibakar akhirnya menjadi batu bata, maka seperti itu pula ketika makhluk jin yang asal kejadiannya api itu tinggal di dalam jasad manusia yang asal kejadiannya tanah, maka lama kelamaan anggota tubuh yang ditempeli itu terbakar sehingga mengeluarkan reaksi. Awalnya mengeluarkan lendir, kemudian lendir itu menjadi darah lalu menjadi segumpal daging. Ketika dampak angin jin itu sudah berbentuk daging, apabila dideteksi secara medis, maka gejala sakit tersebut di-indikasikan sebagai tumor atau kanker, bahkan tumor atau kanker ganas dalam arti ketika daging penyakit itu diangkat menyebabnya seketika menjalar ke tempat lain. Maka orang yang terkena tumor atau kanker yang penyebabnya benda jin ini meski berkali-kali tumornya diangkat secara medis, sakitnya tidak juga kunjung sembuh, bahkan semakin membahayakan karena sumber tumor tersebut malah berkembang biak.


Gejala awal yang tampak, orang yang terkena penyakit jin ini sekujur tubuhnya terasa sakit, bahkan terkadang sumber sakitnya berpindah-pindah tempat. Seperti ada angin yang berjalan di dalam tubuh. Tanda-tanda kalau sakit tersebut akibat benda jin, ketika orang yang sakit itu diperiksakan secara medis, dokter yang memeriksa tidak menemukan penyebabnya. Dokter yang satu mengatakan sakit ini dan dokter yang lain mengatakan sakit yang lain pula. Ketika penyakit tersebut diobatkan ke dukun, maka dukun itu seringkali menvonis sebagai terkena sihir atau santet, padahal orang sakit seperti itu tidak selalu akibat disantet orang. Bahayanya lagi apabila yang dituduh berbuat santet itu kerapkali disebutkan oleh dukun tersebut secara jelas. Akibatnya, usaha pengobatan melalui dukun itu kerapkali tidak menjadikan orang sakit menjadi sembuh, bahkan malah menyebabkan timbul fitnah berkepanjangan dan berbuntut menjadi permusuhan yang tiada henti.


Secara ilmu agama, penyakit yang penyebabnya angin jin itu memang ada dan terkadang hasil ulah manusia dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada dimensi jin. Manusia bekerja sama dengan jin yang lazim dikatakan santet atau sihir. Dari dahulu sihir itu memang ada dan bahkan Rasulullah s.a.w. pernah terkena sihir yang dilakukuan oleh orang Yahudi. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh sebuah hadits.


Diriwayatkan dari Aisyah r.a berkata: Rasulullah saw pernah disihir oleh orang Yahudi dari Bani Zuraiq yang bernama Labid bin al-A’sham sehingga Rasulullah saw merasakan seolah-olah berbuat sesuatu yang bukan perbuatannya. Pada suatu hari atau suatu malam Rasulullah saw berdoa dan terus berdoa, kemudian beliau bersabda: Wahai Aisyah, apakah engkau merasa bahwa Allah telah memberiku pertunjuk mengenai apa yang aku mohonkan kepada-Nya ? Dua Malaikat telah datang kepadaku. Salah satunya duduk di samping kepalaku dan yang satu lagi duduk dekat kakiku. Malaikat yang berada di samping kepalaku berkata kepada Malaikat yang berada dekat kakiku atau sebaliknya:


مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ مَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِي أَيِّ شَيْءٍ قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ , قَالَتْ : فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ : يَا عَائِشَةُ وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ


Yang artinya: Apa sakit orang ini ? Yang ditanya menjawab: Tersihir. Seorang lagi bertanya: Siapakah yang menyihirnya ? Yang satu lagi menjawab: Labid bin al-A’sham Salah seorang bertanya: Di manakah sihir itu ditempatkan ? Yang satu lagi menjawab: Pada sisir dan rambut yang jatuh pada sisir serta simpul yang dibuat dari akar kurma jantan. Salah satunya bertanya : Di manakah benda itu diletakkan ? Yang satu lagi menjawab: Di dalam telaga Zu Arwan. Aisyah ra meneruskan : Lalu Rasulullah saw pergi ke telaga tersebut bersama-sama para Sahabat. Kemudian baginda bersabda: Wahai Aisyah demi Allah, seakan-akan air telaga itu berwarna kuning kemerah-merahan dan akar-akar kurma yang ada di situ bagaikan kepala-kepala syaitan. Aku (Aisyah) bertanya: Ya Rasulullah, mengapakah engkau tidak membakar saja benda itu ? Rasulullah saw menjawab: Tidak. Mengenai diriku, Allah telah berjanji akan menyembuhkanku dan aku tidak suka membuatkan orang banyak menjadi resah, oleh karenanya aku menyuruh menanamnya.

Riwayat Bukhari di dalam Kitab Pengobatan hadits nomor 5324
Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4059.
Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Pengobatan hadist nomor 3535.


Penyakit non medis itu memang terkadang akibat disihir orang, namun juga terkadang akibat orang kesurupan jin. Apabila orang menemukan gejala sakit sebagaimana disebutkan di atas, maka sebaiknya tidak hanya berobat secara medis saja, namun juga secara non medis. Dalam arti memeriksakan sakit tersebut kepada ahlinya. Banyak hal yang bisa menyebabkan orang terkena penyakit non medis. Tidak hanya dari dimensi jin saja, namun juga terkadang dari akibat pola pikir yang tidak sehat. Yang asalnya pola pikir tidak sehat, ketika terjadi ketidakseimbangan antara emosionalitas, rasionalitas dan spiritualitas sehingga pikiran orang tersebutmenjadi bleng. Pikiran yang bleng tersebut bisa dimanfaatkan jin untuk memasukkan penyakit dalam tubuhnya.


Untuk mendiagnosa penyakit tersebut, dibutuhkan orang yang matahatinya cemerlang. Sorot matanya mampu menembus beberapa lapisan dimensi yang ada sehingga dia mampu menemukan penyebab penyakit tersebut. Orang yang demikian itu bukan seorang dukun yang memang sengaja membuka praktek untuk mencari uang, melinkan orang-orang yang ahli ibadah dan hatinya ihlas. Mereka menolong manusia semata-mata mengamalkan ilmu yang dimiliki sebagai bentuk wujud pengabdian hakiki kepada Tuhannya secara horizontal. Sebagai buah ibadah yang dilakukan, hati mereka menjadi bersih dari kepentingan dunyawiyah sehingga sorot matanya menjadi cemerlang dan tembus pandang.

Setelah diagnosa dilakukan dengan benar, biasanya cara penyembuhannya malah menjadi ringan, bahkan lebih mudah daripada diagnosanya. Hal tersebut bukan berarti ahli ibadah itu dapat menyembuhkan orang sakit, tetapi melalui tangannya, Allah Yang Maha Menyembuhkan memberikan kesembuhan kepada orang yang harus ditolongnya. Banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang penyakit non medis ini, namun karena luasnya ilmu tersebut, maka tidak mungkin dapat diuraikan secara mendetail dalam bahasa tulisan yang terbatas, kecuali ditindaklanjuti dengan cara berdialog secara interaktif kasus per kasus. Oleh karena itu, apabila pembaca ingin memperdalam pembicaraan silahkan memanfaatkan ‘rubrik konsultasi’ ( http://alfithrahgp.blogspot.com/p/blog-page_9.html#/ ) untuk bertukar fikiran dengan penulis. Semoga Allah Ta’ala membukakan pintu hidayah-Nya untuk kita dan memberikan hikmah guna memahami romantika kehidupan ini.



MENGUAK DUNIA JIN, HIKMAH AQIQOH DALAM PRESPEKTIF PENYEMBUHAN PENYAKIT


Sejak seorang suami memancarkan sperma kepada istrinya, lalu sperma itu berlomba-lomba mendatangi panggilan indung telur melalui signyal kimiawi yang dipancarkan oleh indung telur, sejak itu tanpa disadari oleh calaon kedua orang tua tersebut, sungguh setan jin sudah berusaha mengadakan penyerangan kepada calon anaknya itu. Hal tersebut dilakukan oleh jin dalam rangka membangun pondasi di dalam janin yang masih sangat lemah itu, supaya kelak di saat janin tersebut menjadi anak dewasa dan kuat, setan jin tetap dapat menguasai target sasarannya itu. Maka sejak itu pula Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada umatnya tata cara untuk menangkal serangan yang sangat membahayakan itu sebagaimana yang disampaikan dalam sabda Beliau saw.:


حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا *
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a berkata: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: apabila seseorang diantara kamu ingin bersetubuh dengan isterinya hendaklah dia membaca:


بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


Yang artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku! Jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami. Sekiranya hubungan aantara suami istri itu ditakdirkan mendapat seorang anak. Anak itu tidak akan diganggu oleh setan untuk selamanya
· Riwayat Bukhari di dalam Kitab Nikah hadits nomor 4767.
· Riwayat Muslim di dalam Kitab Nikah hadits nomor 2591.
· Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Nikah hadist nomor 1012.
· Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Nikah hadits nomor 1846.


Disaat anak manusia sedang melakukan bagian kehidupan duniawi yang paling nikmat, mereka tidak boleh lupa diri, tidak boleh lupa kepada Allah Ta’ala. Kebahagiaan hidup itu harus dimulai dengan berdzikir menyebut asma-Nya dan membaca do’a. Hal itu harus dilakukan, supaya kebutuhan biologis manusiawi tersebut dinilai sebagai amal ibadah. Ketika perbuatan yang sering menjadikan manusia lupa diri itu menjadi amal ibadah, disamping mereka mendapatkan pahala besar, juga apa saja yang ditimbulkan darinya akan menjadi buah ibadah pula. Oleh karena ibadah berarti menolong di jalan Allah, maka Allah Ta’ala akan selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang beriman itu. Allah Ta’ala menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ – محمد:47/7
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. QS:47/7.


Dengan sebab pertolongan Ilahiyah tersebut, sejak saat itu juga calon anak manusia itu akan mendapatkan perlindungan dari-Nya. Janin yang masih sangat lemah itu dimasukkan dalam benteng perlindungan-Nya yang kokoh sehingga setan jin tidak mampu lagi mengganggu untuk selama-lamanya. Allah Ta’ala telah menyatakan pula dengan firman-Nya:
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ – الحجر:15/42
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. QS:15/42.


Adakah kasih sayang yang melebihi kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, dan kasih sayang Rasulullah saw. kepada umatnya? Betapa indahnya ajaran Islam ini kalau kita mau benar-benar mendalaminya. Betapa seandainya tidak ada kasih sayang itu. Seandainya kita tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. usaha tandingan untuk menangkal bahaya besar yang tidak banyak disadarai oleh manusia itu, adakah kira-kira manusia dapat selamat dari ancaman setan jin yang sangat mengerikan itu? Sementara sepasang anak manusia sedang asyik-asyiknya dalam keadaan lupa diri, ternyata setan jin telah menyiapkan jurus-jurus ampuh untuk melumpuhkan target sasarannya. Jika seandainya tidak ada penangkal tersebut barangkali dapat dipastikan tidak ada seorang manusiapun mampu menyelamatkan diri dari serangan jin yang mematikan itu.
Allah Taala menegaskan hal itu dengan firman-Nya:




وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS.An-Nisa’/83)
Buah ibadah yang dilakukan oleh seorang laki-laki sebelum mendatangi istrinya itu disebut “Nismatul ‘ubudiyah” sedangkan kehidupan yang mendiami janin di dalam rahim seorang ibu itu disebut “Nismatul adamiyah”. Selama keberadaan nismatul adamiyahdidampingi nismatul ‘ubudiyah, sampai kapanpun anak manusia tetap mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala. Dengan perlindungan itu setan jin tidak mempunyai kekuatan untuk menguasainya, kecuali manusia tersebut terlebih dahulu merusak sistem perlindungan itu dengan berbuat maksiat dan dosa. Akibat dosa-dosa yang dilakukan itu dengan sendirinya nismatul ‘ubudiyahakan meninggalkan nismatul adamiyah, sehingga terbuka peluang bagi setan jin untuk menguasai manusia.


Ketika persetubuhan itu tidak dilandasi dengan nuansa ibadah, tidak diniati dengan niat yang baik, hanya memperturutkan dorongan hawa nafsu belaka, terlebih lagi dilakukan dalam kondisi masih haram, sehingga sejak proses awal kejadian anak manusia itu tidak mendapatkan nismatul ‘ubudiyah, tidak mendapatkan sistem penjagaan malaikat untuk melindungi jalan hidupnya, maka sejak masih berbentuk janin itu, anak manusia tersebut sudah terkontaminasi anasir jin. Akibatnya, sejak itu pula menjadi sangat rentan mendapatkan gangguan setan jin, baik jasmani maupun ruhaninya. Jasmaninya dalam arti berpotensi mendapatkan berbagai macam penyakit yang penyebabnya datang dari dimensi alam jin dan ruhaninya dalam arti baik kesadaran maupun karakternya rentan mendapatkan gangguan jin. Dengan demikian itu berarti, bagian kehidupan anak manusia tersebut telah tergadai di dalam kekuasaan setan jin sehingga kapan saja jin dapat melaksanakan niat jahatnya. Allah Ta’ala telah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ – المدثر:74/38
Tiap-tiap jiwa dengan apa yang telah diperbuatnya akan tergadai. QS:74/83.


Akibat dari kesalahan orang tua yang manusiawi tersebut, tanpa sengaja jiwa anaknya seakan sudah tergadaikan kepada setan jin, maka orang tua itu harus menebus anaknya guna membebaskannya dari ancaman setan jin yang setiap saat bisa menerkam. Namun berkat rahmat-Nya yang Agung, Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan kepada setiap orang tua untuk menebus jiwa anaknya tersebut dengan melaksanakan sunnah Rasulullah saw yang disebut Aqiqoh.


Sebagaimana pelaksanaan ibadah qurban – laki-laki dengan dua ekor kambing dan perempuan dengan satu ekor kambing – Aqiqoh juga demikian. Rasulullah saw. sebagai seorang Rasul yang “Ma’shum” atau yang sudah mendapat jaminan keselamatan dan penjagaan dari akibat kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa, Beliau melaksanakan Aqiqoh untuk putra-putrinya selang tujuh hari setelah hari kelahirannya. Hal itu berarti mengandung pelajaran bagi umatnya tentang demikian besarnya hikmah Aqiqoh tersebut.
Jika diambil arti secara filosofis, tujuan aqiqoh juga seperti tujuan ibadah qurban, dalam arti melaksanakan tebusan atau yang disebut dengan Fida’. Maksudnya, yang mestinya Nabi Ismail as. mati kerena Nabi Ibrahim as. mendapatkan perintah untuk menyembelihnya, namun kematian itu tidak jadi dan ditebus oleh Allah Ta’ala dengan kematian seekor binatang qurban, maka sejak saat itu, setiap hari Raya Qurban kaum muslimin disunnahkan melaksanakan ibadah qurban dengan menyembelih binatang qurban. Seperti itu pula tujuan aqiqoh yang dilakukan oleh kedua orang tua terhadap anaknya. Yakni melaksanakan penebusan barangkali kedua orang tua tersebut di saat melaksanakan kuwajiban nafkah badan ada kehilafan.


Oleh karenanya, hendaknya umat Islam melaksanakan aqiqoh untuk anak-anaknya dengan sungguh-sungguh, dilaksanakan dengan ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala. Aqiqoh boleh dilaksanakan bersamaan pelaksanaan hajad-hajad yang lain, karena daging aqiqoh tersebut dianjurkan dibagikan dalam keadaan matang. Boleh untuk walimatul ‘ursy, atau walimatul khitanmisalnya, asal dalam pelaksanaan itu tidak dicampuri dengan niat-niat yang tidak terpuji. Aqiqoh tidak boleh dibarengi dengan niat-niat yang dapat membatalkan pahala ibadah, seperti berbuat bangga-banggaan, riya’, pamer, atau perbuatan yang sifatnya mubadzdzir menurut hukum agama islam, seperti pesta pora resepsi perkawinan yang sifatnya hanya untuk menunjukkan status dan kehormatan duniawi, hanya untuk pamer kesombongan dan bangga-banggaan. Hal itu harus dilakukan supaya aqiqoh yang dilaksanakan benar-benar mencapai target sasaran. Menjadikan kafarot atau peleburan bagi dosa-dosa dan kesalahan yang telah terlanjur dilakukan oleh kedua orang tua.


Jadi, salah satu hikmah aqiqoh disamping diniatkan untuk melaksanakan sunnah Rasul saw, juga dapat dijadikan media bagi usaha penyembuhan terhadap orang yang jiwanya terlanjur tergadaikan kepada setan jin sehingga badannya dihinggapi berbagai macam penyakit jin. Aqiqoh yang dilakukan itu bukan dalam arti kambing yang disembelih dipersembahkan kepada jin hingga hukumnya menjadi syirik, sebagaimana yang disangkah oleh orang yang tidak memahami ilmunya, melainkan dilakukan semata-mata melaksanakan syari’at agama. Dengan asumsi, bahwa ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba bukan untuk kepentingan Allah Ta’ala, tetapi pasti ada kemanfaatan bagi orang yang malakukan, karena secara sunatullah, Allah Ta’ala sudah menetapkan bahwa setiap amal kebajikan pasti dapat menghilangkan kejelekan, asal kebajikan tersebut dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah-Nya. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ – هود:11/114
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. QS:11/114.



Oleh Muhammad Luthfi Ghozali.
http://alfithrahgp.blogspot.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar