Laman

Kamis, 25 Juli 2013

Jilbab Gaul, Berjilbab tetapi Telanjang

Berjilbab tapi telanjang, sebuah ungkapan yang mungkin terlalu kasar atau bagaimana gitu. Tapi memang seperti itulah faktanya sekarang ini, begitu banyak akhwat yang berjilbab tapi mereka terkesan mempermainkan kesan jilbab tersebut tanpa memperhatikan dan memperdulikan aturan-aturan seputar jilbab tersebut.

Berjilbab adalah perintah dari Allah agar para wanita bisa menjaga auratnya. Akan tetapi sekarang jilbab cuma menjadi sekedar mode belaka, ngga lebih. Banyak orang yang berjilbab yang hanya ikut-ikutan saja tanpa memperdulikan “bener ngga sih jilbab gue ini?” atau “jilbab gue ini sudah sesuai islam ato cuma penutup kepala doang ya?”. Mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh idolanya saja, “cantik bener tuh artis A pake jilbab diiket ke leher, gue ikutin ah” atau “gaul juga ya artis B itu, pake jilbab tapi masih pake kaos ketat ato pake celana jeans ketat, gue ikutin ah”.

Dilihat dari keadaan sekarang, emang bener sih ngga mutlak 100% kesalahan para jlbabers gaul itu. Peran televisi, artis, dan para idola mereka juga cukup demikian besar membentuk suatu stigma dan paradigma tentang apa itu jilbab, dan bagaimana cara berjilbab yang benar. Sebagian besar orang sekarang ini hanya menganggap jilbab sebagai suatu penutup kepala doang, “gue udah pake tutup kepala, jadi gue udah berjilbab dong, jadi terserah gue mau pake baju kaya gimana” mungkin itu yang ada dipikiran mereka. Tapi maaf, pernyataan itu 1000% salah. Jilbab bukan hanya sekedar penutup kepala, tapi jilbab merupakan suatu kesatuan pakaian yang berfungsi sebagai penutup aurat bagi seoarang wanita atau perempuan.

Sungguh miris sebenarnya keadaan ini, karena tanpa mereka sadari berjilbab dengan hanya ikut-ikutan artis atau idola tanpa memperhatikan aturan yang ada itu bisa termasuk dalam kategori mempermainkan agama. Sedangkan Allah sendiri sangat membenci dengan orang yang menjadikan agama sebagai bercanda atau senda gurau belaka.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. At-Taubah [9] : 65-66)
Karena itu coba deh kita perhatikan dengan sungguh-sungguh perintah berjilbab yang telah diberikan Allah dan RasulNya, agar ngga termasuk dalam golongan yang mempermainkan agama.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri engkau, anak-anak perempuan engkau dan isteri-isteri orang mu’min, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang, maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah pengampun lagi pengasih.” (QS. Al-Ahzab [33] : 59 )

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24] : 30 )

Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadist beliau yang artinya:“Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil rasulullah (saw) menunjuk muka dan kedua tapak tangannya”.

Dari ayat quran dan hadist diatas sudah sangat jelas tentang perintah berjilbab dan cara berjilbab dan keutamaan berjilbab. Jadi berjilbab itu bukan hanya sekedar menutup kepala, akan tetapi jilbab itu adalah suatu tata cara berpakaian yang menutup aurat yang sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya.


Mungkin ada sebagian orang yang berpikir “ya lumayanlah daripada tidak berjilbab sama sekali”, tapi mengapa harus berpikiran seperti itu. Lumayan daripada tidak berjilbab ok, tapi kalau bisa lebih baik lagi mengapa tidak. Mengapa kita hanya mengambil batu jika begitu banyak emas yang tersedia, mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk menjawabnya.

Jadi mumpung sebentar lagi bulan Ramadhan, perbaiki deh jilbabnya. Jangan hanya sekedar berjilbab tanpa mengikuti aturan yang kaffah.

Firman Allah (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 208)

Inilah yang kami sedihkan pada kaum wanita saat ini. Zaman sudah semakin rusak. Perzinaan di mana-mana. Pornografi yang sudah semakin marak. Bahkan hal-hal porno semacam ini bukan hanya digandrungi oleh orang dewasa, namun juga anak-anak. Bahkan terakhir ini yang sudah membuat kami semakin geram, tidak sadar-sadarnya wanita dalam berpakaian. Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini.

Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,
“Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,

“Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.
Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.
Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini???

Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakai pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”

Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:

Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!
Para muslimah, mari kita waspada. Inilah hal-hal yang dapat menjadikan jilbab kita sebagai ajang meraup dosa:

1. Jilbab Dengan Bahan Tipis dan Transparan
Mengenakan jilbab dengan bahan yang tipis memang terlihat modis. Ya, rata-rata bahan pakaian yang tipis akan menjadi model busana yang ‘jatuh’ menjuntai. Belum lagi jika kita tinggal di daerah yang notabene berhawa panas. Jilbab dengan bahan tipis menjadi pilihan yang nyaman dipakai. Tapi sadarkah para muslimah, jilbab dengan bahan tipis dan transparan ini adalah kriteria jilbab yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa. Untuk kategori pakaian yang seperti ini, Rasulullah menyebutnya dengan istilah “Berpakaian tapi telanjang” sebagaimana sabda beliau:

“Dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepalanya bagaikan punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan dari jarak sekian dan sekian.” 
(HR. Muslim)

Ini dia contohnya:

 

2. Jilbab Ketat / Jilbab Lemper
Turunnya ayat yang mewajibkan muslimah berjilbab diantaranya adalah agar lekukan-lekukan tubuhnya dapat tertutup sempurna sehingga ia terbebas dari fitnah. Akan tetapi, hal ini tidak mungkin terwujud jika muslimah bermaksud menutupi auratnya dengan pakaian yang ketat. Meski terkadang pakaian seperti ini menutupi warna kulit, namun tetap saja pakaian ketat dapat menampakkan seluruh lekuk tubuh atau sebagiannya.


Ini dia contohnya:
 

3. Jilbab Berparfum
Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasanya ia berkta Rasulullah bersabda :

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” 
(HR. An-Nasai II:38,Abu dawud II:92, At-Tirmidzi IV:17, At-Tirmidzi menyatakan hasan shahih)

Perlu diketahui, di dunia barat sekuler, salah satu “fungsi” parfum adalah sebagai alat seducing man (menggoda laki-laki). Begitulah mudharat parfum yang dipakai oleh perempuan (ketika keluar rumah).

4. Jilbab Yang Menyerupai Pakaian Lelaki

Tidak asing dalam keseharian kita dapati muslimah yang merasa diri telah menutup aurat dengan celana jeans yang ketat, dipadu kemeja atau kaos lengan panjang, dan kerudung yang sekedar menutup kepala tanpa menjuntai hingga dada sebagaimana perintah Allah dalam Qur’an surat An Nuur ayat 31. Sedangkan hingga belahan dunia mana pun terlebih di Indonesia, kita mendapati bahwa celana dan kemeja adalah pakaian kaum lelaki.

Oleh karena itu, jika kita dapati muslimah dengan paduan busana yang demikian, maka sebenarnyalah ia sedang tampil menyerupai kaum laki-laki. Sedangkan Abu Hurairah berkata:“Rasulullah saw melaknat lelaki yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita, dan melaknat wanita yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian lelaki.” 

Ini dia contohnya:
 

5. Jilbab Yang Menyerupai Wanita-wanita Kafir
Semakin pesatnya perkembangan mode --beberapa mengklaim sebagai mode busana muslimah-- menuntut kewaspadaan kaum muslimah. Pemahaman yang benar tentang jilbab yang memenuhi kaidah yang ditetapkan oleh hukum syara mutlak dimiliki oleh setiap muslimah. Jika tidak, alih-alih ingin mengenakan jilbab, ternyata pakaian yang kita kenakan justru menyerupai pakaian wanita-wanita kafir. Na’udzubillah. Sedangkan Abdullah bin Amru bin Ash berkata:
“Rasulullah melihat saya mengenakan dua buah kain yang dicelup dengan warna ushfur, maka beliau bersabda: Sungguh ini merupakan pakaian orang-orang kafir maka jangan memakainya”
(HR. Muslim 6/144, hadits Shahih)


Ini dia contohnya:
 

Jelas bukan, jilbab seperti apa yang dapat menjerumuskan muslimah dalam dosa. Selain pemahaman yang benar akan ketentuan berjilbab yang sesuai dengan hukum syariat, tentunya penting bagi muslimah untuk terus berada dalam lingkaran saudara-saudara seiman yang tak lelah mengkaji dan mengaplikasikan ilmu-ilmu Allah. 

Hal ini sengaja pihak Gelora Sriwijaya lakukan agar muslimah dapat senantiasa istiqomah menjalankan syariat Allah, juga agar muslimah tidak menjadi sasaran musuh-musuh Islam yang tak henti-hentinya mempropagandakan hal-hal yang dapat merusak pemahaman terlebih keimanan kita. Tak terkecuali dalam hal berbusana.

Omelan Masyarakat  kepada Penyanyi dan Aktris
Jangan Ikut2an Tanpa Cari Ilmu (sumber: Al Isra: 36)
Penyanyi

Di depan TV dua orang perjaka tinting sedang menonton iklan acara

“wessh, gile body nye , boljug” “apaan tuh boljug?” “boleh juga”

sambil melihat adegan dua sejoli GADIS & PRIA dengan mesra menari-nari dan bernyanyi india, goyangan pinggul/dada si gadis terlihat jelas berbaju ketat di berkeliling di antara pepohohan.

Kalau sekedar berbaju ketat mungkin tidak aneh, tapi muslimah berjilbab berbaju ketat?

“BODOH....” Begitulah seperti yang dikatakan lagu “minah tudung”, lagu yang berlogat malaysia.

Sudah pamer aurat suara, ditambah pamer lekak lekuk tubuh dengan jilbab yang ketat, ditambah lagi pamer lenggak lenggok menari india dengan laki2.

”pantaskah muslimah berjilbab seperti itu disebut muslimah yang soleha ?”


Aktris

Artis pemain sinetron ini memang belum bernyayi dan menari, pakaian jilbabnya tetap tampak ketat di bagian body, tonjolan di dada masih terlihat jelas. Karena jilbabnya terikat ketat di leher. Dan bajunya ketat.

Apakah berjilbab seperti itu? yang yang dipakai dan dicontohkan istri-istri nabi ? ” Bertanyalah kepada para ulama yang ikhlash, jadi:

Jangan Ikut2an Tanpa Cari Ilmu (sumber: Al Isra: 36)

Mohon maaf buat para penggemar mereka, kita berprasangka baik bhw mereka masih dalam proses menuju muslimah yang soleha, semoga mereka tidak mengalahkan jilbab oleh kepentingan rasa untuk penampilan, tuntutan peran dan tuntutan pengelola bisnis hiburan dan TV.

Rosullullah telah memberitahu kita bahwa ada wanita yang berpakaian tetapi sesungguhnya telanjang.

Sekarang, sudah makin parah terjadi di Indonesia, dengan niat sekedar menggugurkan kewajiban memakai jilbab, tetapi mengabaikan syariat berjilbab yang benar.

Dan lebih mementingkan keindahan syahwat dengan memakai jilbab yang ketat terikat di leher, dan baju muslimah yang ketat sehingga terlihat bentuk indahnya tonjolan di dada dan pinggul.

Kenapa adzab masih tertunda untuk turun di ibukota jakarta. Padahal perzinaan dan pakaian mendekati zina sudah banyak terjadi?

Kemungkinan besar masih lebih Banyak muslimah berjilbab longgar namun tetap terlihat indah, sopan, tidak pamer dan mengajak kebaikan. Selama Mereka terus berjuang, maka insya Allah, azab masih terus ditunda.


Menurut Penelitian, Hal yang demikian terjadi karena beberapa sebab, misal :
1. Maraknya tayangan televisi dan bacaan yang terlalu berakibat pada model barat. Faktor ini adalah yang paling modern.

2. Minimnya pengetahuan anak pada nilai-nilai Islam sebagai akibat dikuranginya jam pendidikan agama disekolah-sekolah umum. Faktor ini merupakan realitas yang menyakitkan. Betapa di Negara mayoritas Islam yang seharusnya syari’at Islam dijungjung tinggi, tapi kenyataanya dipinggirkan. Akibatnya, generasi muda Islam semakin jauh dari Islam dan kehilangan arah dalam menentukan sikap termasuk cara berpakaian. Tujuan utama dikurangi jam pelajaran agama agar anak lebih menguasai bidang iptek untuk mengejar ketinggalan dunia barat. Namun pada kenyataanya, justru lebih hancur karena mental anak didiknya kosong dari nilai-nilai agama.

3. Kegagalan fungsi keluarga. Munculnya fenomena jilbab gaul secara tidak langsung menggambarkan kegagalan fungsi keluarga sebagai kontrol terhadap gerak langkah ahak-anak muda. Para orang tua telah gagal memberikan pendidikan agama yang benar. Parahnya, orang tua cenderung terbawa arus modern, terbukti jilbab gaul (berjilbab tapi telanjang) telah merambah pula pada orang tua dengan dalih yang sama dengan para remaja: ikut model! saat ini, sunnah kaum muslimin telah bergeser fungsi dari lembaga pendidikkan informal, tempat mendidik putra-putrinya menjadi anak soleh, menjadi bioskop, restoran atau hotel. Rumah tak ubahnya seperti bioskop, sekedar tempat nonton, orang tua dan anak-anak sama-sama kerajingan siaran televisi, rumah juga tak ubahnya sebagai hotel, hanya sekedar tempat tidur dan tak ubahnya restoran hanya sekedar tempat makan, sementara ruh dari rumah itu sendiri yaitu pendidikan akhlak dan aqidah sudah sangat jarang diberikan di rumah. Akibatnya ketika anak keluar rumah, tak ubahnya seperti kuda yang kehilangan kendali.

4. Peran para perancang yang tidak memahami dengan benar prinsip pakaian Islam. Sebagaimana kita maklumi, gairah generasi muda Islam dalam menekuni Islam setelah runtuhnya orde baru cukup segnifikan. Untuk merespon kecenderungan ini, banyak para perncang yang sesungguhnya tidak mengerti aturan pakaian Islam, mencoba merancang pakaian Islam dengan polesan model yang lagi trend. Kemudian diadakan fashion show, ditayangkan di televisi dan dimuat di tabloid-tabloid dan berbagai surat kabar.Parahnya, model itu banyak keluar dari rel Islam. Sementara remaja Islam yang minim pengetahuannya tentang pakaian Islam, menganggap bahwa jilbab dari para pereancang itu mutlak benar. Akibatnya jilbab mengalami distorsi dan sudah keluar jauh dengan trend jilbab gaul.

5. Munculnya para mualaf di kalangan artis atau artis yang baru menggunakan kerudung. Artis di era modern tak ubahya seorang nabi yang segala tingkahnya dan ucapannya “teladan” bagi fansnya. Ketika sang artis itu masuk Islam (mualaf) dengan menggunakan kerudung apa adanya, banyak fansnya atau penggemarnya yang ikut ikutan meniru gaya artis tersebut atau di era refornasi ini banyak artis yang menggunakan jilbab, namun tetap berpakaian ketat. Banyak para penggemarnya yang ikut-ikutan meniru gaya berjilbab. Mereka yang berpakaian ala artis dianggapnya remaja gaul.
Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya!
Foto-foto yang ditampilkan diambil dari Google agar para muslimah tidak meniru cara berpakaian yang malah memperbanyak dosa. Semoga bermanfaat. 
Wallahu’alam bi showwab.

sumber :
http://mutasis.blogspot.com/2012/08/5-ciri-wanita-berjilbab-yang-penuh-dosa.html
http://www.eramuslim.com/oase-iman/abdul-al-hafizh-berjilbab-tapi-telanjang.htm#.UfCaMaKQaZc
http://bahterailmu.wordpress.com/2012/03/18/dosa-dibalik-jilbab-gaul/#comment-523
http://bahterailmu.wordpress.com/2011/07/13/berjilbab-tapi-telanjang/
http://ayahara.abatasa.co.id/post/detail/1046/berjilbab-tapi-telanjang.html
http://lppm.narotama.ac.id/2013/06/05/%E2%80%9Cfenomena-pakaian-remaja-modern-yang-berjilbab-tapi-telanjang%E2%80%9D/

1 komentar: