Laman

Kamis, 04 Juli 2013

Kerajaan Atlantis di Indonesia

MUSIBAH alam beruntun dialamiIndonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis? 

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis. Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato‘s Lost Civilization (2005).santos-atlantis.jpgSantos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara
Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan IndiaSri LankaSumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di IndiaSelatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saaitu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak
Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantaibenua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, ”Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui),
tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat  mengatasinya.

dari artikel lain,

Bagi teman-teman yang telah membaca buku Atlantis: "The Lost Continent Finally Found" tentu mengetahui cerita tentang Peradaban Atlantis yang tenggelam di Indonesia, tepatnya di Selat Sunda di mana Gunung Krakatau terbentang. Di sanalah pusat legenda Atlantis yang hilang, sebagaimana spekulasi atau tepatnya penelitian yang akhir-akhir ini muncul dari seorang Arysio Santos, seorang geolog dari Amerika Latin, penulis buku tersebut.


Cerita Arysio Santos ini telah memperkuat ujaran filsuf Yunani kuno, Plato (427 - 347 SM), yang
menulis kisah-kisah Peradaban Atlantis dalam bukunya yang berjudul Critias dan Timaeus.
Cerita Plato itu pada mulanya dianggap sebagai mitos yang menghayalkan tentang peradaban besar yang sangat canggih di masa lalu, sekitar 11.000-12.000 tahun lalu. Salah satu kisah yang diceritakan Plato ada di buku Timaeus yang menyatakan bahwa di hadapan selat Mainstay Haigelisi ada sebuah pulau yang sangat besar. Dari pulau tersebut, orang-orang bisa bepergian menuju pulau lain. Pulau yang dikelilingi oleh laut atau samudera itu adalah Kerajaan Atlantis. Sebelum pulau yang di atasnya adalah Kerajaan Atlantis itu tenggelam, pimpinan kerajaan berencana akan melakukan ekspansi melalui perang besar dengan Athena. Rencana yang didukung oleh kecanggihan itu tiba-tiba saja sirna sebelum terlaksana, sebab di luar dugaan Atlantis mengalami gempa bumi dan banjir yang dahsyat. Kurang dari sehari semalam, pulau itu tenggelam di dasar laut. Begitulah kisah Kerajaan Atlantis yang besar itu dan memiliki peradaban tinggi itu lenyap seakan tak ada jejaknya.

Berkaitan dengan kisah tersebut, Tim Studi Bencana Katastropika Purba yang diinisiasi tim Staf Khusus Presiden Indonesia dan tim ahli gempa, tsunami, serta ahli geologi telah merekomendasikan
beberapa hasil temuan penelitian mereka untuk menjadi cagar budaya. Tim ini menemukan sebuah sisa peradaban kuno yang sudah terbenam di dasar laut (vivanews). Lalu, benarkah mereka menemukan sisa-sisa peradaban Kerajaan Atlantik? Kita tunggu saja. Penelitian yang dilakukan itu, ternyata merupakan riset atau uji materi untuk kasus yang sama sekali baru, yaitu pembuatan katalog tsunami dan pemetaan potensi gempa pembangkit tsunami, terutama yang pernah terjadi dalam waktu-waktu lampau.

Usaha penelitian ini sangat menarik, sebab menambah informasi kebencanaan yang semakin luas dan akurat. Hanya saja, kita perlu mencoba berpikir agak normatif dalam menanggapi masalah ini. Jika kita mempercayai ujaran Plato dan Arysio Santos, mengapa kita tak meyakini firman Allah swt. tentang Nuh dalam al-Qur'an, terutama bagi masyarakat muslim. Jika kita mau berpikir atau membaca al-Qur'an dengan ilmu yang integral, terutama membaca sejarah Nabi Nuh dan arkeologi Kerajaan Atlantis, tidakkah ditemukan benang merah bahwa potensi bencana besar itu cenderung lebih banyak di wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah. Sebagaimana dikisahkan saksi kehidupan Kerajaan Atlantis, Inggrid Benette, bahwa Peradaban di pulau Atlantis itu lenyap disebabkan oleh keserakahan dan kebejatan segelintir orang di Kerajaan Atlantis. Bahkan, kisah Inggrid Benette yang mirim novel kahayalan itu juga mengisahkan ada sebagian orang Atlantis yang dapat melakukan transplantasi kawin silang antara hewan dan manusia, demi keharmonisan alam, dan sebagian melupakannya untuk tujuan seks.

Kisah tersebut tentu tak jauh beda dengan kaum Sodom pada masa Nabi Lut yang melampiaskan nafsu seksnya kepada sesame jenis. Model pembacaan semacam ini seharusnya dilakukan oleh para
ahli agama untuk mengubah paradigm parsialis tentang agama, alam, dan ilmu. Teman-teman boleh saja mencaci bahwa pemikiran semacam ini mengada-ada. Namun, perlu diingat, "Innama amruhu idza arada syaian anyakula lahu kun fayakun-(Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.)-(Yasin [36]:82).

Profesor Arisiyo Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Ini adalah kesimpulan setelah meneliti selama 30 tahun. Sebuah waktu yang tidak sebentar hingga memunculkan kata akhir ini. Sebenarnya saya
sendiri belum terlalu tertarik dengan bahasan Atlantis ini. Maklum, selama ini kesannya hanya dalam tataran teori, serta mengarah kepada sesuatu yang fiksi. Apalagi banyak yang membahas atlantis terlalu erat dengan simbol-simbol yang agak sulit dicerna dinalar dengan akal terbatas ini.

Tetapi setelah seorang saudara yang saya tahu cukup mumpuni dalam bidang pengetahuan dan strategi sedang membaca buku tulisan Pak Santos tersebut serta mengajak diskusi, saya jadi tertarik. Pasalnya, dengan beberapa dugaan kuat, kaitan Atlantis dengan Indonesia yang menurut Pak Santos ini semua 53 ciri-cirinya terpenuhi, kemungkinan besar adalah erat juga dengan peristiwa banjir besar yang terjadi pada masa kenabian Nabi Nuh Alaihis Salaam.

Mengapa sampai kepada dugaan itu ? Apa yang bisa mengarahkan ke sana ?

Pak Santos sendiri dalam bukunya memang tidak menyebutkan kaitan Nabi Nuh dengan Atlantis maupun Indonesia. Bahkan ybs nyaris tidak menyinggung Nuh sama sekali. Apalagi yang dibahas
dalam buku tersebut lebih banyak merujuk kepada mitologi Yunani, Romawi, Inca Maya Aztec,
serta mengkaji dari literatur kitab suci agama Hindu. Adapun kitab Injil, dan rujukan Yahudi berupa Talmud hanya dibahas sedikit, tetapi tidak membahas sama sekali dari Quran.

Kembali ke Quran, yang memang ada beberapa kali membahas tentang peristiwa Nabi Nuh ini, memang tidak disebutkan penyebab mengapa air bisa naik, banjir plus hujan yang bahkan saking tingginya hingga menyebabkan gunung-gunungpun tersapu air dan tidak bisa dijadikan tempat untuk berlindung.

Melalui pemaparan Pak Santos, disebutkan bahwa peristiwa tenggelamnya benua Atlantis berlangsung sekitar 11600 tahun yang lalu. Peristiwa ini selain menyebabkan Atlantis lenyap, juga membinasakan sekitar 20juta penduduknya yang saat itu sudah dalam kebudayaan yang modern. Adapun untuk penduduk yang masih bisa selamat, menyelamatkan diri menggunakan perahu. Peristiwa migrasi dengan perahu ini juga digambarkan dalam simbol-simbol suku Mesir kuno, Inca Maya Aztec dan beberapa tradisi kuno.

Karena besarnya peristiwa ini, zaman es pleistosen yang saat itu terjadi selama beberapa ribu tahun menjadi berakhir. Es yang selama itu melingkupi mayoritas permukaan bumi mencair karena tertutup abu. Abu hasil letusan pilar Herkules yang setelah diteliti lebih lanjut secara literal, khususnya karya Plato, menurut Pak Santos adalah gunung Krakatau purba.

Adapun pilar Herkules yang lainnya adalah gunung Dempo. Dahsyatnya letusan Krakatau ini memutuskan pulau Jawa dan Sumatera, menyemburkan air yang berada di dekatnya ke angkasa sehingga menimbulkan hujan besar dan badai, menimbulkan tsunami, mencairkan es, dan menaikkan permukaan air laut hingga 200-an meter. Akibat langsungnya Atlantis tenggelam sekitar 150 – 200 meter. Jika dalam quran, peristiwa nabi Nuh ini disebutkan sebagai ayat atau pertanda untuk semesta alam.

Mungkin sedikit pemaparan ringkas ini kurang pas dan tidak bisa dipahami. Sehingga ada baiknya bila kawan2 membaca sendiri buku setebal enam ratusan halaman tersebut, serta membandingkan dengan isi quran maupun injil tentang peristiwa Nabi Nuh. Beberapa ciri yang disebutkan oleh Pak Santos dari literatur tulisan Plato adalah sbb : Atlantis berada di wilayah tropis dengan suhu hangat, panen padi-padian dua kali setahun, tanahnya sangat subur. Adapun bukti bahwa tenggelamnya hanya di kisaran 200 meter, diyakini oleh Pak Santos dari peta Bathymetri Indonesia yang memiliki perairan dangkal di sekitar pulau-pulaunya khususnya Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Saya pernah mendengar dari kawan bahwa memang ada kontroversi tentang hal ini bahkan sampai dibukukan. Namun sayangnya saya belum pernah membaca buku tersebut. Keyakinan Pak Santos akan Indonesia sebagai Atlantis ini menguat setelah terjadinya tsunami besar yang melanda Aceh 26 Desember 2004 lalu.

Sayangnya, sebelum beliau sempat berkunjung ke Indonesia, keburu meninggal di pertengahan
2005. Untuk membuktikan klaim ini, Pak Santos menyarankan agar melakukan penelitian bawah laut di kedalaman 150 - 200 meter di perairan Indonesia, khususnya di lautan Jawa. Bila memang pada akhirnya terbukti Atlantis = Indonesia, menurut Pak Santos ini akan menjungkirbalikkan klaim dunia Barat khususnya Eropa bahwa segala kebudayaan dan kemajuan berasal dari sana. Juga menjungkirbalikkan teori tumbukan meteor yang menghantam bumi sehingga mengakibatkan terjadinya awal zaman es (padahal Gunung Toba meletus 75 ribu tahun silam), serta menyebabkan zaman es berakhir (padahal Gunung Krakatau yang meletus). Jadi Bapak Ibu guru harus segera merevisi penjelasannya kepada anak murid, bahkan termasuk teori evolusi yang diangkat oleh Darwin ditentang habis-habisan oleh Pak Santos. Pak Santos ini juga menyayangkan terpisahnya kajian dunia agama dengan dunia pengetahuan, padahal erat kaitannya.

Keterangan lebih lanjut, silahkan kunjungi website-website nara sumber artikel ini :
http://dederosyana.blogspot.com/2012/11/pakar-internasional-menyatakan-kerajaan.html
 


karena penulisan saya hanya singkat dan errornya besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar