Laman

Jumat, 02 Agustus 2013

Salah Satu Penyebab kehancuran umat beragama karena para ulama mengubah ajaran Allah dan RasulNya

Firman Allah:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Akan tetapi kaum Yahudi dan Nasrani telah melanggar janji mereka. Karena itu Kami laknat mereka, hati mereka Kami jadikan mengeras. Me­reka telah mengubah ayat-ayat Taurat dan Injil dari aslinya. Mereka telah meninggalkan sebagian dari perintah-perintah yang ada pada Taurat dan Injil. Wahai Muhammad, engkau se­nantia­sa akan melihat pengkhianatan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya sedikit dari kaum Yahudi dan Nasrani yang tidak berkhianat kepada kamu. Wahai Muhammad, maafkanlah kaum Yahudi dan Nasrani, dan berlapang dadalah kepada mereka. Allah menyu­kai orang-orang yang suka memberi maaf.” (QS. Al-Maidah: 13)

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Di antara kaum Yahudi ada yang mengubah kalimat-kalimat Taurat dari aslinya. Kaum Yahudi berkata: “Kami mendengar firman Allah, tetapi kami menentang kebenarannya.” Jika kaum Yahudi diperintahkan untuk mendengarkan Al-Qur’an, maka me­reka tidak mau mendengarkannya, bahkan mereka berkata kepada Nabi: “Wahai Muhammad, perhatikanlah perkataan kami.” Mereka memutar-balikkan ayat-ayat Taurat ketika membacanya dan mencela Islam. Sekiranya kaum Yahudi mau berkata: “Wahai Muhammad, kami mendengar dan kami menaati Al-Qur’an yang kamu baca,” bukan berkata: “Wahai Muhammad, dengarlah dan per­hatikan perkataan kami,” niscaya ucapan mereka ‘Kami mendengar dan kami menaati’ lebih baik bagi mereka dan lebih terpuji di sisi Allah. Namun kaum Yahudi memilih kafir kepada Muhammad, sehingga Allah melaknat mereka. Karena itu, hanya sedikit sekali orang Yahudi yang mau beriman kepada Muhammad.” (QS. An-Nisaa’: 46)

Kehancuran agama Yahudi dan Nasrani karena mereka mengkhiananti janji mereka untuk beriman kepada Rasul yang Allah kirimkan kepada mereka. Kaum Yahudi mengingkari janji untuk beriman kepada Nabi ‘Isa as. yang Allah utus sesudah Musa as. Kaum Nasrani mengkhianati janji mereka untuk beriman kepada Rasul yang Allah utus sesudah Nabi ‘Isa yaitu Nabi Muhammad saw.

Juga disebabkan adanya doktrin-doktrin sesat yang dibuat oleh para pendeta dan pastur mereka melalui upaya penyimpangan makna-makna ayat Taurat dan Injil yang sebenarnya.

Contoh, tentang kabar kenabian yang disebutkan dalam Taurat dan Injil bernama Ahmad atau Muhammad disamarkan dengan menyebut sifatnya dalam bahasa Ibrani yaitu, Paraklet, orang yang terpuji. Dengan penyamaran semacam ini, maka umat Yahudi maupun Nasrani tidak lagi dapat mengenali dengan mudah nama sebenarnya dari seorang Rasul yang dikabarkan di dalam Taurat dan Injil.

Sekalipun umat Yahudi dan Nasrani masih ada sampai hari ini, tetapi agama mereka telah rusak karena adanya doktrin-doktrin yang sesat, sehingga para pengikut kedua agama ini mengalami kerusakan akidah, moral dan seluruh perilaku hidupnya. Perilaku-perilaku yang semula terlarang dalam agama mereka, menjadi bebas dilakukan akibat dari ajaran-ajaran sesat para pendeta mereka.

Contoh, riba dan minuman keras yang semula haram menjadi boleh.

Hal semacam ini juga terjadi pada kaum muslimin karena meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. karena sibuk dengan pendapat para ulama, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ

Wahai kaum muslim. cukupkanlah diri kalian dengan apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kalian mendapat binasa karena mereka banyak bertanya dan suka menyalahi para Nabi mereka. Karena itu, bila aku perintahkan kalian mengerjakan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian. Dan apabila aku larang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah. (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ujarnya, saya mendengar Nabi saw. bersabda: “Allah tidak memusnahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diberikan kepada kalian, tetapi Al-Qur’an dan As-Sunnah akan musnah karena kematian para ulama penegak Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada saat itu manusia yang ada hanyalah orang-orang bodoh. Mereka dimintai fatwa, lalu memberikan fatwa dengan pendapat mereka sendiri dengan meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka ini sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)


Khalifah ‘Umar bin Khathab berkata:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاَنَّهُمْ أَقْبَلُوْا عَلَى كُتُبِ عُلَمَائِهِمْ وَاَسَاقَفَتِهِمْ وَتَرَكُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيْلَ حَتَّى دُرِسَا وَذَهَبَ مَا فِيْهِمَا مِنَ الْعِلْمِ

Wahai kaum muslim, hancurnya umat-umat sebelum kalian, karena mereka sibuk membaca kitab-kitab ulama dan pastur mereka, tetapi meninggalkan Taurat dan Injil, sehingga ilmu yang ada pada kedua Kitab ini lenyap. (HR. Abu Nashr)

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ مَا مِنْ عَامٍ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Az-Zubair bin ‘Adi berkata: Kami berkunjung ke Anas bin Malik, kami mengeluhkan kepadanya perlakuan yang kami terima dari Al-Hajjaj, lalu ia berkata: Setiap tahun terjadi perubahan, dimana tahun sesudahnya lebih buruk daripada tahun sebelumnya, sampai kalian menemui hari kiamat. Aku mendengar ucapan ini dari nabi kalian. (HR. Tirmidzi)

Hadits ini memberikan gambaran yang jelas bahwa secara berangsur-angsur kaum muslimn akan mengalami keadaan semakin buruk sampai hari kiamat. Bahkan Rasulullah saw. juga mengingatkan terjadinya kelangkaan ulama penegak ajaran Nabi saw. secara murni dan muncul ulama-ulama gadungan yang menyebarkan kesesatan di tengah umat Islam.
SOLUSI

Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan berkata:

لَاتَتْرُكُوا الْقُرْآنَ وَتَأْخُذُوْا أَقْوَالَ الْعُلَمَاءِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِأَخْذِهِمْ أَقْوَالَ أَسَاقَفَتِهِمْ وَتَرْكِهِمْ كِتَابَ اللهِ

“Wahai kaum muslim, janganlah kalian tinggalkan Al-Qur’an, lalu kalian ikuti omongan-omongan ulama. Karena hancurnya umat-umat beragama sebelum kalian disebabkan mereka mengikuti omongan para pendeta mereka dan meninggalkan Kitabullah.”

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Dari Tsauban, ujarnya: Rasulullah saw. bersabda: “Akan selalu ada sekelompok umatku yang selalu menegakkan Islam. Mereka tidak merasa terancam oleh orang-orang yang menghinakan mereka. Kelompok ini akan selalu ada sampai datang hari kiamat dan mereka tetap istiqamah.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw. menjamin kelompok yang senantiasa menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah, melepaskan diri dari kungkungan sektarian dan madzhab terus ada sampai hari kiamat, sekalipun mereka dianggap kelompok asing oleh umat Islam sendiri. Sebab mayoritas umat Islam pada hakekatnya sudah meniru perilaku umat Yahudi dan Nasrani. Mereka sibuk mengkaji pendapat-pendapat para ulama dan merasa tidak bersalah meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah pada hadits berikut:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Dari Sa’id bin Abi Waqash, ujarnya, Rasulullah saw. bersabda: “Kelompok yang terasing di kalangan umat Islam yang senantiasa menegakkan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan tetap ada sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Kelompok terasing ini memang menghadapi berbagai macam tantangan, baik dari internal umat Islam maupun golongan kafir, sehingga kehidupan mereka di dalam menegakkan Islam penuh dengan derita, celaan, ancaman yang membahayakan diri dan keluarganya. Namun hal semacam ini sudah merupakan sunnatullah, dan Allah menjanjikan bagi mereka balasan surga.

Allah berfirman dalam surah At-Taubah: 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sungguh Allah membeli jiwa dan harta orang-orang mukmin dengan pahala surga. Mereka telah berperang guna membela Islam, lalu mereka mem­bunuh atau dibunuh. Janji pahala surga ini termaktub dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Wahai kaum mukmin, siapa saja di antara kalian yang memenuhi janjinya kepada Allah, bergembiralah kalian dengan bai’at yang telah kalian lakukan dalam perjanjian itu. Demikian itu adalah keberuntungan yang amat besar bagi para syuhada.”

(Ukasyah/arrahmah.com)

Kerajaan Turki Usmani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan

Selama tiga abad --  1500 hingga 1800 M – peradaban Islam masih memiliki tiga kekuatan yang tersebar di Turki, Persia, dan India. Di Istanbul, Turki berdiri sebuah kerajaan besar yang juga sempat menjadi adikuasa selama lebih dari 600 tahun bernama Turki Usmani atau Ottoman.

Turki Usmani disegani dan memiliki pengaruh yang begitu hebat setelah menaklukan Bizantium pada 1453 M. Sebagai adikuasa, Kesultanan Turki Usmani mampu menguasai sebagian benua Asia, Eropa, dan Afrika.  Puncak keemasannya dicapai pada era kepemimpinan Sultan Sulaiman I (1520-1566 M).

Di Persia, berdiri sebuah kerjaaan Islam yang besar yakni Safawi. Kerajaan ini dididirikan oleh Syah Isma’il pada 1501 M di Tabriz, Iran.  Ia memproklamirkan Syiah Isna Asyariyah sebaga agama negara.

Di India, berdiri  kerjaan Islam bernama Mogul yang berkuasa dari abad ke-16 hingga 19 M. Kesultanan itu didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur  -- keturunan Timur Lenk, penguasa Islam asal Mongol. Pada era keemasannya,  Kerajaan Mogul berperan besar dalam mengembangkan agama Islam, ilmu pengetahuan, sastra, hingga arsitektur.

Jatuhnya tiga raksasa

•    Kerajaan Safawi

Kerajaan Safawi mulai mengalami kemuduran sejak Abas I turun tahta. Enam raja penggantinya tak mampu mendongkrak kemajuan, malah menunjukkan pelemahan dan kemunduran. Pada era kekuasaan Safi Mirza, Kerajaan safawi mulai menukik. Safi Mirza yang juga cucu Abbas I, dikenal sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Berbagai kota dan wilayah yang dikuasai Safawi mulai terlepas.

Setelah itu, Safawi dipimpin Sulaiman seorang raja pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar kerajaan. ‘’Akibatnya, rakyat masa bodoh terhadap pemerintahan,’’ papar Prof Badri Yatim. Selain itu, Safawi pun harus berhadapan dengan pemberontakan yang dilakukan bangsa Afghan.

Terlebih lagi,  Kerjaan Safawi kerap berkonfrontasi dengan Kerajaan Turki Usmani. ‘’Dekadensi moral yang melanda sebaian pemimpin Safawi turut mempercepat kehancuran kerajaan,’’ ungkap Prof Badri Yatim. Sultan Sulaeman adalah seorang pecandu berat narkotika dan senang kehidupan malam.

•    Kerajaan Mugal

Setelah satu setengah abad mencapai masa keemasan, Kerajaan Mugal di India akhirnya meredup dan hingga akhirnya hancur. Kerjaaan itu hancur pada 1858 M. Faktornya penyebabnya, menurut Prof Badri yatim, antara lain:
1.    Stagnasi pembinaan kekuatan militer. Akibatnya operasi militer Inggris tak terpantau. Kekuatan militer di laut dan darat Kerajaan Mugal menurun.
2.    Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik dan menyebabkan pemborosan keuangan negara.
3.    Pendekatan Aurangzeb yang terlampau ‘’kasar’’ dalam melaksanakan ide-ide puritan, sehingga konflik agama sangat sukar diatasi.
4.    pewaris tahta kerajaan pada paruh akhir adalah figur-figur yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

•    Kerajaan Usmani

Menurut Prof Badri Yatim, adikuasa dunia, Kerajaan Turki Usmani juga mengalami kehancuran karena berbagai faktor:
1.    Wilayah kekuasaan yang sangat luas.  Sehingga administrasi pemerintahan menjadi rumit dan tak beres. Di sisi lain, para penguasanya memiliki ambisi yang besar untuk memperluas wilayah kekuasaan.
2.    Heterogenitas penduduk. Akibat menguasai wilayah yang luas, Turki Usmani mengendalikan berbagai etnis pendduk. Heteroginitas itu memicu banyaknya pemberontakan.
3.    Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Turki Usmani dipimpin sultan-sultan yang lemah, baik keperibadian, maupun kepemimpinan. Akibatnya pemerintahan menjadi kacau.
4.    Budaya pungli. Perbuatan pungli melemahkan kekuatan kerajaan. Setiap orang yang menginginkan  jabatan harus menyuap atau membayar uang pelicin.
5.     Merosotnya ekonomi. Peperangan yang terus dilakukan membuat perekonomian merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja untung perang terus menguras anggaran negara.
6.    Stagnasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang telah dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tak dikembangkan para penguasa terakhir. Akibatnya, Turki Usmani kalah canggih dari segi persenjataan dibandingkan negara-negara Barat.


  1. http://www.arrahmah.com/kajian-islam/sebab-utama-kehancuran-umat-beragama-karena-para-ulama-mengubah-ajaran-allah-dan-rasul-nya.html
  2. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/03/03/m0bajh-ini-penyebab-kehancuran-tiga-imperium-islam-raksasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar