Laman

Senin, 12 Agustus 2013

Belajar Mengenal dan Mendalami serta Mengamalkan Al Quran

Al-Qur`an adalah kalamullah, firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad s.a.w selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Tidak main-main perkataan Allah ini dan tidak akan ada makhluk Allah yang dapat menyaingi ilmu-Nya untuk dapat membuat kitab serupa dengan Al Qur’an. Hal ini karena Allah Ta’ala telah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah s.a.w sebagai salah satu mukjizat Nabi dan sebagai pedoman bagi kita, umatnya, untuk menjalani kehidupan yang fana di dunia ini hingga akhir zaman.

Berinteraksi aktif dengan al-Qur`an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak maka dari itu merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim agar isi dari Al Qur’an tetap terjaga sejak zaman Rasulullah hingga saat ini.

Kitab Suci Al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan dan jalan keluar dari fitnah yang beragam. di dalamnya terdapat berita yang terjadi sebelum kalian dan kabar yang akan terjadi setelah kalian. Siapa yang meninggalkannya karena kesombongan, Allah akan memusuhinya. dan barangsiapa yang mencari petunjuk dari selain-Nya, maka Allah akan menyesatkannya.

Al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh, peringatan yang bijaksana, dan penunjuk jalan yang lurus. Dengannya hawa nafsu tidak akan tersesat, dan lisan tidak akan keliru. Ulama tidak pernah bosan mempelajarinya. Kebenarannya tidak terbantahkan, tak akan habis keajaibannya. Barangsiapa berkata dengannya, maka ia benar. Barangsiapa mengamalkannya, ia akan mendapatkan balasannya. Barangsiapa menghukumi persoalan dengannya, maka ia pasti adil. Barangsiapa menyeru kepadanya, maka ia akan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.

Itulah Kitabullah, Al-Qur’an Al-Karim. Maka bersegeralah untuk mempelajarinya, membacanya dan bertafakur tentangnya. Ajarkanlah anak-anakmu tentangnya. Tumbuhkanlah mereka di atas kecintaan kepadanya dan membacanya. Sehingga, hati mereka tunduk kepadanya dan selalu berhubungan dengannya. Maka, ia akan menyucikan akhlak mereka, membersihkan jiwa-jiwa mereka, dan mereka menjadi pembawa Al-Qur’an dan ahlinya. Karena, apabila anak mempelajari Al-Qur’an, ketika baligh ia mengetahui apa yang harus ia baca dalam shalatnya. dan, menghafal Al-Qur’an ketika kecil itu lebih baik dari pada menghafalnya ketika dewasa. Ia akan lebih kuat hafalannya, lebih meresap, dan lebih kokoh. Karena belajar ketika kecil seperti mengukir di atas batu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fatir: 29-30)

Imam Bukhari, meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Muslim, dari Umamah Al-Bahili Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yang membaca dan mengamalkannya) ”

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah rumah Allah (masjid) dalam rangka membaca Kitabullah (Al-Qur’an), mempelajari serta mengajarkannya di antara mereka, melainkan akan turun ketenangan dan ketentraman kepada mereka. Mereka akan dipenuhi oleh rahmat dan para malaikat akan senantiasa mengelilingi mereka serta Allah akan menyebut nama mereka di sisi para malaikat.”(HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada Hari Kiamat seraya memohon, ‘Ya Rabb! Hiasilah ia (pembaca Al-Qur’an), maka Allah-pun memakaikan mahkota kemuliaan. Lalu ia berkata lagi, ’Tambahkan ya Allah!’ Maka Allah-pun memakaikan perhiasan kemuliaan. Iapun meminta lagi, ’Ridhailah ia ya Allah’. Lalu Allah-pun meridhainya. Lalu ia berkata, bacalah dan perbaikilah bacaanmu, dan setiap ayat akan ditambahkan satu kebaikan.”(HR. At-Tirmidzi dan hadits ini hasan)


Namun, bagaimana seharusnya sikap kita dalam membaca Al-Qur’an?

Beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seorang Muslim yang hendak membaca Al-Qur’an Di antaranya adalah:

1. Mengikhlaskan niat semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya apabila Hari Kiamat tiba, Allah turun untuk mengadili para hamba-Nya, sementara semua umat pada hari itu berlutut. dan yang pertama kali dipanggil ialah para penghapal Al-Qur’an, lalu orang yang berperang di jalan Allah, kemudian orang-orang kaya. Lalu Allah bertanya kepada pembaca Al-Qur’an, ’Bukankah Aku telah ajarkan kepadamu Al-Qur’an yang aku turunkan kepada Rasul-Ku?’ Spontan orang itu menjawab, ’Benar ya Rabb!’ Lalu Allah bertanya lagi, ’Lalu apa yang telah kamu perbuat dengan ilmumu itu?’ Ia menjawab, ’Aku mengamalkannya siang malam.’ Allah-pun membantah, ’Bohong’. Malaikatpun berkomentar, “Justru niatmu adalah agar kamu dikatakan sebagai ahli baca Al-Qur’an, dan gelar itu sudah diberikan kepadamu. Artinya, kamu telah mengambil upahmu di dunia, lalu orang itupun di lemparkan ke dalam api neraka. na’udzubillah.“

2. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci itu lebih utama dari pada tidak bersuci.

3. Bersiwak (membersihkan mulut), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya mulut kalian adalah jalan keluarnya Al-Qur’an, maka bersihkanlah mulut kalian dengan siwak.”

4. Meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk ketika membaca Al-Qur’an, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ}

”Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

5. Membaca basmallah. Pada setiap permulaan surah selain Surah “Bara’ah”, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengetahui akhir surat dengan awal surat setelahnya melalui basmallah. Melainkan pada satu tempat, yaitu antara Surah Al-Anfaal dan Bara’ah.

6. Membaca Al-Qur’an dengan tartil (pelan-pelan dengan memperhatikan hukum tajwid yang ada). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bacalah Al-Qur’an dengan Tartil.” Dalam Kitab As-Shahihain terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ada seorang yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku membaca Mufasshal dalam satu rakaat. Maka Ibnu mas’ud berkata kepada orang tersebut, “Bacaanmu seperti membaca syair saja (beliau mengingkari bacaan orang tersebut yang begitu cepat). Sesunguhnya suatu kaum membaca Al-Qur’an, namun bacaan mereka tidak bisa mencapai kerongkongan mereka. Andai saja bacaan mereka merasuk ke dalam jiwa mereka, niscaya itu akan bermanfaat.” Ibnu Mas’ud juga berkata, , “Janganlah kalian membaca Al-Qur’an layaknya kalian membaca sajak korma busuk, dan jangan pula kalian membacanya seperti membaca syi’ir. Tapi berhentilah sejenak untuk menghayati keajaibannya dan gerakkan hati kalian dengannya, serta jangan sampai perhatian kalian hanya terfokus pada akhir surah saja.”

7. Mengindahkan suara dalam membaca Al-Qur’an. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Indahkan Al-Qur’an dengan suara kalian, karena suara yang merdu akan manambah keindahan Al-Qur’an.”

8. Melagukan Al-Qur’an. Rasulullah pernah bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barangsiapa yang tidak melagukan Al-Qur’an, maka tidak termasuk golongan kami..”

9. Melantangkan bacaan. Maksudnya tidak membaca Al-Qur’an layaknya suara wanita, apabila yang membaca laki-laki. Janganlah membaca Al-Qur’an layaknya suara laki-laki, apabila yang membaca adalah perempuan. Tetapi hendaklah masing-masing membaca sesuai dengan tabiatnya, laki-laki dengan tabiatnya, begitu pula perempuan, tidak boleh ada tasyabbuh di dalam membaca Al-Qur’an.

10. Berhenti pada penghujung ayat, sekalipun ujung ayat tersebut ada keterkaitan makna dengan ayat setelahnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Shahih-nya, Bahwa beliau pernah memotong bacaan beliau pada tiap ayat; (الحمد لله رب العالمين) , lalu berhenti sejenak, (الرحمن الرحيم) . Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, beliau pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah, maka beliau menjelaskan, Rasulullah kadang memotong bacaanya perayat; (بسم الله الرحمن الرحيم) (الحمد لله رب العالمين) .

11. Tidak boleh mengeraskan suara bacaan Al-Qur’an di sebelah orang lain, karena dapat mengganggu orang yang ada di sebelahnya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, “Ketahuilah setiap kalian bermunajat kepada Allah, maka jangan sampai ada yang saling mengganggu satu sama lain pada waktu membaca.”

12. Menghentikan bacaan ketika mengantuk. Imam Ahmad, Muslim, dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang dari kalian shalat malam, lalu bacaan Al-Qur’annya menjadi tidak jelas, lalu ia tidak paham apa yang ia baca, hendaklah ia pergi tidur, agar Al-Qur’an tidak sampai bercampur dengan yang lain, atau ayat-Nya tertukar, maju mundur, atau mungkin menyebut huruf yang bukan dari Al-Qur’an dan sejenisnya yang sering dilakukan oleh orang yang mengantuk. Karena itu, jika rasa itu mulai menyerang, hendaklah ia segera pergi dan tidur.



13. Memperhatikan surat-surat yang memiliki keutamaan serta sering-sering membacanya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah Seorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam? Sesungguhnya barangsiapa yang membaca Surah Al-Ikhlas pada suatu malam, maka sungguh ia telah membaca pada malam tersebut sepertiga Al-Qur’an.”

14. Tidak boleh membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,”Wahai manusia! Sesungguhnya tidak ada yang tersisa berita gembira para Nabi melainkan mimpi yang bagus, mimpi yang dilihat oleh orang Muslim, ataupun diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan ruku’ dan sujud. Adapun dalam keadaan rukuk’, maka agungkanlah Rabbmu, sedangkan dalam keadaan sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa di dalamnya niscaya doamu akan dikabulkan.”

15. Bersabar bagi orang yang kesulitan dalam membaca Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir, ia bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.”

Jadi seandainya ia bersabar atas kesulitan tersebut dengan senantiasa berusaha untuk terus belajar sesuai kemampuannya, pasti ia akan diberikan ganjaran yang sangat agung.

“ Yang termasuk sebagus-bagusnya suara adalah (dengan) membaca Al-Qur’an yang apabila kamu mendengarkan ia membacanya, kamu akan menduga ia takut kepada Allah.”(HR. Ibnu Majah)

Menyenandungkan Al-Qur’an tentu harus memperhatikan setiap ayatnya. Termasuk darri adab tilawah, yakni menjaga hukum-hukum tajwid, tentunya menyenandungkan dan bertilwah dengan menjaga adab-adab ini akan sulit dipenuhi bila tilawah kita sangat lirih.


AlQuran yang menakjubkan

Al Quran turun ke bumi, sebagai salah satu mukzizat Nabi Muhammad. Al Quran adalah kalamullah.. sehingga setiap jiwa yang mendengarnya pasti takjub.

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, ” (QS Jin (72) : 1-2)

Ya, setiap jiwa yang mendengarnya pasti takjub. Tak terkecuali tiga orang yang terdepan menentang dakwah Rasulullah saw. Mereka adalah Abu Sufyan, Abu Jahl dan Akhnas.



Saat itu, awal-awal fase dakwah Rasulullah di Mekah. Ketiga nama yang tersebut di atas, adalah orang Quraisy yang paling keras memusuhi Rasulullah. Mereka ternyata mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri; benarkah Muhammad mengajak orang kepada agama yang benar? Dan apa yang dijanjikan dan apa yang diperingatkan kepada mereka (orang Quraisy), apakah itu juga benar?

Malam itu, mereka pergi ingin mendengarkan Muhammad membaca Quran di rumahnya. Masing-masing mengambil tempat sendiri-sendiri untuk mendengarkan, tempat yang tidak diketahui satu sama lain. Seperti biasa, Rasulullah bangun tengah malam, kemudian membaca Quran dengan suara merdunya, hingga ayat-ayat Quran bergema ke dalam telinga dan kalbu.

Ketiga orang tadi, menyimak di tempat persembunyian masing-masing hingga hampir fajar. Sebelum gelap pergi, segera mereka berjingkat, pelan-pelan menyusuri jalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan, mereka bertemu, masing-masing saling menyalahkan.

Jangan terulang lagi. Kalau kita dilihat oleh orang-orang bodoh, ini akan melemahkan kedudukan kita, dan mereka akan berpihak kepada Muhammad.

Tapi pertemuan mereka, tak mengubah rasa penasaran mereka. Maka pada malam kedua, masing-masing mereka membawa perasaan yang sama seperti malam kemarin. Mereka seolah tak dapat menolak kakinya membawa mereka ke tempat yang sama. Tempat yang sama seperti malam kemarin, untuk mendengarkan lagi Rasulullah membaca Quran. Dan saat hampir fajar, mereka pulang dan kembali bertemu di perjalanan. Kembali saling menyalahkan satu sama lain.

Tapi tahukah sahabat Mata’? Sikap mereka yang saling menyalahkan tidak menghalangi mereka untuk pergi lagi pada malam ketiga.

Maka pada pertemuan mereka yang ketiga, mereka menyadari bahwa mereka merasa sangat lemah dalam menghadapi dakwah Rasulullah. Kemudian berjanjilah mereka untuk tidak saling mengulangi lagi perbuatan mereka selama 3 malam terakhir.

Sahabat Mata’, sepenggal kisah tadi setidaknya kembali mengingatkan kita tentang betapa menakjubkannya Al Quran. Kita seringkali lupa, lantas menganggap Al Quran sama seperti buku bacaan lainnya. Yang memiliki ilmu untuk diamalkan, dan memiliki hikmah untuk dipetik. Padahal sungguh, Al Quran tidak sama dengan bacaan-bacaan tebal di perpustakaan ternama. Ia adalah kalamullah, yang Allah turunkan untuk menjadi pedoman hidup kita. Pegangan kita hidup, di dunia yang melenakan ini.

Semoga kisah tadi, mengajak kita untuk bergegas menyegarkan kembali hubungan kita dengan Al Quran. Kembali membacanya dengan tartil. Kembali membacanya dengan hati dan tak sekedar di lisan. Dimaknai, dipahami, ditadabburi.. dan tak lupa diamalkan.

Wallahua’lam.

Wallahu a’lam bis shawwab.



Sumber :
http://matasalman.com/adab-membaca-al-quran/
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran-Imam Nawawi
http://www.minbarindo.com/_Dunia_Minbar/Tuntunan_Ibadah/Adab_dan_Etika_Membaca_Al-Qur%E2%80%99an.aspx

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar