Laman

Selasa, 06 Agustus 2013

“PACARAN” atau “TAARUF” adalah Pilihan

Bismillahirrahmanirahim,,

Sebelum saya membahas kedua gabungan kata antara Pacaran danTaaruf ,ada baiknya kita mengerti arti masing-masing kata di atas.Mungkin di antara dua pilihan kata antara Pacaran dan Taaruf,telinga kita lebih peka dan condong memilih Pacaran.Kenapa,sebab Pacaran lebih di kenal oleh masyarakat muslim di Indonesia.Seakan sebagian muslim sudah terbawa pergaulan dunia barat yang jauh dari syariat islam.
Perilaku orang tua dan pergaulan sekitar kita seakan telah menjerumuskan dan menghancurkan semua norma keislaman yang kita miliki secara hakiki.

Peran orang tua mungkin sangat berpengaruh besar,andaikan saja orang tua kita bisa lebih memahami dan menerangkan Taaruf mungkin kita juga tak akan pernah terjebak kisah cinta yang di halalkan setan di bandingkan di halalkan Allah.Sebenarnya tak ada yang harus di salahkan di sini,hanya diri kita sendiri yang bisa berpikir jernih untuk mulai menghidupkan kembali norma-norma keislaman yang kita punya.

Pacaran diartikan sebagai hubungan yang di jalani ketika seorang pria dan seorang wanita saling menyukai satu sama lain dan ingin menjajaki kemungkinan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi,atau sebagai status yang melegalkan mereka untuk merasa bebas saat terlihat berdua dan saling mengungkapkan ekspresi sayang.Dari pernyataan tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa dengan Pacarankita bisa lebih mudah mengikuti alur hawa nafsu ke arah negatif,Naudzubillahmindzalik.


Bayangkan saja kalau rasa cinta kita yang fitrah ini di umbar bebas tanpa batas ke pasangan kita yang belum halal apa yang terjadi?Anda bisa saksikan kehancuran moral sebagian kaum muslimin yang sudah terlanjur mengikuti arusnya,mereka sudah terhanyut dalam bisikan-bisikan setan yang mengajak kesenangan sesaat namun menjadi penyiksaan kita di akhirat selamanya.

Cinta itu terlahir alami,merupakan fitrah manusia sejak lahir.Maka dari itu kita wajib mengekspresikan cinta menurut hakikat dan syariat islam dengan benar.

Sekarang coba kita beralih mengambil makna dari Taaruf.



Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi,kalau pada masa kini kita bilang berkenalan bertatap muka,atau main dan bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan.Berkenalan di sini dapat diartikan untuk mencari jodoh.Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk melanjutkan ke jenjang khitbah.Taaruf di maksudkan untuk mempertemukan yang hendak di jodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan,Taaruf sangat berbeda dengan Pacaran.Taaruf secara syar’i memang di perintahkan oleh Rasullullah SAW bagi pasangan yang ingin menikah.

Di sini terlihat jelas perbedaan yang mendasar antara Pacaran denganTaaruf.JikaPacaran lebih kepada kenikmatan sesaat,zina dan maksiat.Taaruf lebih jelas tujuannya yakni untuk mengetahui kriteria calon pasangan.Taaruf juga mempunyai proses.Dalam proses inilah kita bisa lebih memahami kriteria calon pasangan kita nantinya.

Tahap awal dari upaya proses Taaruf dengan calon pasangan,pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan.Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya.Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja.Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya.Jadi,Taaruf bukanlah bermesraan berdua,tapi lebih mengangkat pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.Intinya ,Taaruf adalah proses saling mengenal antara pria dan wanita pra nikah yang dilandasi ketentuan syar’i.

Tidak seperti Pacaran yang hanya mementingkan tujuan ego/nafsu antara pasangan,Taaruf memiliki tujuan yang lebih di Ridhoi Allah.Taarufmerupakan media syar’i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan.Sisi pengenalan juga tak hanya terkait dengan data global,melainkan dengan hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting.Misalnya saja masalah kecantikan calon istri,dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang saksama,bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau melihat fotonya.Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung,bukan melalui media foto,lukisan ataupun video.Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukanlah aurat.


Sahabat,banyak yang dari kita masih berpikiran bahwa Taaruf sama saja membeli kucing dalam karung,padahal kenyataanya tidak demikian.Kita bisa lebih melihat secara hakiki calon pasangan hidup kita.Yang terpenting dari makna Taaruf adalah bisa menguatkan diri kepada Allah,bukan hanya memfasilitasi nafsu dunia yang tak kunjung usai.




Pilihlah Ta’aruf Jangan Pacaran


Pertama , ta’aruf itu sebenarnya hanya untuk penjajagan sebelum menikah . Jadi kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg bisa menyudahi ta’arufnya. Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus. Biasanya orang yang pacaran hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak cocok sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi ta’aruf, yang Insya Allah niatnya untuk menikah Lillahi Ta’ala, kalau tidak cocok bertawakal saja, mungkin memang bukan jodoh. Tidak ada pihak yang dirugikan maupun merugikan.

Kedua , ta’aruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing baik kebaikan maupun keburukannya . Bahkan kalau kita tidurnya sering ngorok, misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak menimbukan kekecewaan di kemudian hari. Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan lainnya, seperti mengidap penyakit tertentu, enggak bisa masak, atau yang lainnya. Informasi bukan cuma dari si calon langsung, tapi juga dari orang-orang yang mengenalnya (sahabat, guru ngaji, orang tua si calon). Jadi si calon enggak bisa ngaku-ngaku dirinya baik. Ini berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu dan penuh kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu (sampai makan pun jadi sedikit gara-gara takut dibilang rakus). Yang laki-laki biarpun lagi bokek tetap berlagak kaya traktir ini itu (padahal dapet duit dari minjem temen atau hasil ngerengek ke ortu tuh) he he he.

Ketiga , dengan ta’aruf kita bisa berusaha mengenal calon dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya . Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Coba bandingkan dengan orang pacaran yang sudah lama pacarannya sering tetap merasa belum bisa mengenal pasangannya. Bukankah sia-sia belaka?

Keempat , melalui ta’aruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan . Kalau ada hal-hal yang cocok Alhamdulillah tapi kalau ada yang kurang sreg bisa dipertimbangan dengan memakai hati dan pikiran yang sehat. Keputusan akhir pun tetap berdasarkan dialog dengan Allah melalui sholat istikharah. Berbeda dengan orang yang mabuk cinta dan pacaran. Kadang hal buruk pada pacarnya, misalnya pacarnya suka memukul, suka mabuk, tapi tetap bisa menerima padahal hati kecilnya tidak menyukainya. Tapi karena cinta (atau sebenarnya nafsu) terpaksa menerimanya.

Kelima , kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu ta’aruf ke khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama . Ini bisa menghindarkan kita dari berbagai macam zina termasuk zina hati. Selain itu tidak ada perasaan ”digantung” pada pihak perempuan. Karena semuanya sudah jelas tujuannya adalah untuk memenuhi sunah Rasulullah yaitu menikah.

Keenam , dalam ta’aruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan . Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-duaan) kecil yang artinya kita terhindar dari zina.



Nah ternyata ta’aruf banyak kelebihannya dibanding pacaran dan Insya Allah diridhoi Allah. Jadi, …kita mau mencari kebahagian dunia akhirat dan menggapai ridhoNya atau mencari kesulitan, mencoba-coba melanggar dan mendapat murkaNya

Adapun yang perlu kita ketahui dari pasangan ta’aruf kita (diambil dari http://www.eramuslim.com) yaitu:
Pertama, kenalilah calon pasangan anda. Apakah ia seorang yang memiliki komitmen terhadap agamanya? Apakah ia konsisten menjalankannya? Apakah ia selalu memperdalam pengetahuan agamanya? Apakah ia siap berubah sesuai arahan NabiNya (Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam)?

Kedua, amati bagaimana caranya mengatasi masalah hidup. Apakah ia mencari arahan dari Al Qur’an atau Sunnah Nabi ? Apakah ia cukup sabar dan tidak mengeluh dan menyalahkan nasib?

Ketiga, kenali bagaimana calon anda dalam menghadapi saat-saat senang atau gembira? Apakah ia mudah bersyukur? Apakah dalam bergembira ia tidak berlebihan?

Keempat, bagaimana caranya berinteraksi dengan anda dan orang lain? Apakah mudah berkomunikasi atau sulit? Apakah sering mengumbar janji muluk dan kata pujian? Dalam berbicara apakah siap bermusyawarah atau lebih suka menang sendiri? Apakah ia mudah menghargai orang lain?

Kelima, tentang sikap dan pandangannya tentang diri sendiri? Apakah ia terlalu percaya diri? Ataukah percaya diri secara proporsional dan berdasar? Apakah ia minder dan mudah putus asa?

Keenam, tentang sikap terhadap ilmu, apakah berwawasan luas dan mau belajar ataukah lebih suka membatasi minat dan perhatiannya terhadap hal-hal yang sempit?

Ketujuh, bagaimana sikapnya terhadap atasan dan bawahan dirinya? Apakah ia terlalu takut pada atasan? Apakah ia sewenang-wenang terhadap bawahan?

Kedelapan, kenalilah selera-seleranya, apakah ada yang sangat bertentangan dengan anda sendiri? Apakah tidak bisa saling memahami perbedaan selera ini?

Kesembilan, kenali keluarganya. Apakah ada hal-hal yang perlu menjadi catatan seperti apakah calon mertua sangat dominan terhadap anaknya ataukah biasa-biasa saja?

Mungkin masih banyak contoh-contoh pertanyaan dan pengamatan yang dapat diujikan kepada calon pasangan. Cari tahulah dengan berbagai cara, baik bertanya langsung, bertanya ke pada orang-orang dekatnya atau mengamati.

Sesudah mengumpulkan berbagai bahan ini, kemudian diskusikanlah dengannya beberapa hal berikut:

1. Bagaimana atau dari mana akan mengambil sumber hukum dalam kebijakan rumahtangga? Darimana sumber hukumnya dan bagaimana proses penetapan keputusannya?

2. Bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat dan ke mana mencari penengah?

Diskusikan juga berbagai hal kecil namun mungkin penting, misal akan tinggal di mana kelak? Dari mana sumber penghasilan keluarga? Apakah ada diantara anda berdua yang masih ingin melanjutkan sekolah? Apakah istri kelak akan bekerja? Bagaimana mengasuh anak? Dan masih banyak lagi, namun pilihlah yang bagi anda lebih penting.

Jika ha-hal ini sudah dibicarakan dan ternyata tak ada masalah atau perbedaan pendapat yang terlalu tajam antara anda berdua, barulah dapat dikatakan Insya Allah anda berdua cocok. Wallahua’lam .

7)} Bagaimana Bila Ta’aruf Gagal?

Karena ta’aruf adalah sarana pertama menuju pernikahan, maka adakalanya ia berhasil lalu berlanjut ke khitbah dan akad nikah, ada kalanya pula ia tidak berlanjut ke pernikahan. Bagaimana bila ta’aruf gagal? Ada empat tips dalam buku Tak Kenal Maka Ta’aruf yaitu :
  • Pertama, Yakinilah bahwa ini yang terbaik dari Allah. Bukankah lebih baik ta’aruf tidak dilanjutkan daripada menikah tetapi tidak ada kecocokan lalu timbul perselisihan dan banyak permasalahan?
  • Kedua, tetaplah memperbaiki diri. Kembali kepada QS. An-Nur : 26 bahwa perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik, demikian sebaliknya.
  • Ketiga, tak perlu malu dan trauma. Jangan takut untuk melakukan ta’aruf lagi.
  • Keempat, lakukan muhasabah dan evaluasi diri. Bisa jadi ta’aruf yang gagal membuat kita tersadar ada kelemahan yang harus diperbaiki. Dengan demikian kita menjadi lebih baik dan sempurna.

 
Memilih pasangan hidup seharusnya di dasari atas keimanan yang ia miliki dan keimanannya mampu menguatkan keimanan kita juga.Masalah kita mendapati pasangan yang ganteng atau cantik anggaplah semua bonus dari Allah untuk kita.Asalkan ia Sholeh dan Sholeha semua akan menjadi indah nantinya.
Semua kita kembalikan kepada pribadi masing-masing.Ingin terus melakukan Pacaran tapi tak kunjung menentukan tanggal pernikahan,malah menjebak kita kepada kemaksiatan belaka.Atau dengan proses Taaruf yang sangat di Ridhoi Allah dan di anjurkan Rasullullah,yang prosesnya pun tak memakan waktu yang lama untuk melakukan khitbah.Pilihlah yang lebih baik menurut Ridho-Nya dan ketentuan-Nya.Insya Allah kita mendapatkan pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan.
Aamiin Ya Rabb…..


ILLAH,BILLAH,ILLALAH



sumber :
http://muda.kompasiana.com/2013/01/01/pacaran-atau-taaruf-520714.html
http://kisahislami.com/pilihlah-taaruf-jangan-pacaran/
http://hendriyana.abatasa.co.id/post/detail/24937/perbedaan-pacaran-dengan-taaruf.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar