Laman

Sabtu, 03 Agustus 2013

Keindahan cinta dan kerendahan hati dari Umar ibn Khaththab Al-Faruq

Umar ibn Khaththab RA adalah seorang sahabat Nabi dan Khalifah kedua setelah wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Jasa dan pengaruhnya terhadap penyebaran Islam sangat besar, hingga Michael H. Heart telah menempatkannya sebagai orang paling berpengaruh nomor 51 sedunia sepanjang masa.

Sosok Umar ibn Khaththab sangat berpengaruh di kalangan bangsa Arab karena keberanian, ketegasan, dan keteguhan jiwanya. Ia adalah pendukung, pengikut utama dakwah Nabi Muhammad SAW.

1. Silsilah
Beliau lahir di Makkah tahun 581 Masehi. Berasal dari bani Adi, salah satu bagian suku Quraisy. Nama lengkapnya Umar ibn Khaththab ibn Nafiel ibn Abdul Uzza. Ayahnya bernama Khaththab ibn Nufail Al-Shimh Al-Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Suku Adi terpandang mulia dan mempunyai martabat tinggi di kalangan Arab. Garis keturunan Umar ibn Khathttab bertemu dengan Nabi SAW dalam leluhur generasi ke delapan yang bertemu pada moyang mereka yang bernama Ka’ab.



2. Sifat dan karakter
Umar mempunyai postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya keras, berani, dan berdisiplin tinggi. Pada masa remajanya, dia dikenal sebagai pegulat perkasa dan sering menampilkan kemampuannya itu dalam pesta tahunan di pasar Ukaz di Makkah. la memiliki kecerdasan yang luar biasa, mampu memprakirakan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang (prediksi/ramalan). Tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Kelebihan-kelebihan yang dimilikinya itu mengantarkan-nya terpilih menjadi wakil kabilahnya. la selalu diberi kepercayaan sebagai utusan yang mewakili kabilah Quraisy dalam melakukan perundingan dengan suku-suku lain di jazirah Arab. Keunggulannya berdiplomasi mem-buatnya populer di kalangan berbagai suku Arab.

Nabi SAW mengakui keunggulan-keunggulan yang dimiliki Umar, pemuda yang gagah berani, tidak mengenal takut dan gentar, dan mempunyai ketabahan dan kemauan keras. Oleh karena itu, untuk kepentingan perjuangan Islam, Nabi SAW pernah berdoa, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari Amr bin Hisyam atau Umar bin Khaththab.” Doa Nabi SAW diperkenankan Allah SWT dengan Islamnya Umar sekitar tahun 616 Masehi.

3. Kisah masuk Islam
Sebelumnya, Umar dikenal sebagai seorang tokoh Arab Quraisy yang paling gigih menentang seruan Nabi SAW. Meski dakwah beliau sudah berlangsung selama enam tahun, Umar tetap saja tidak mengindahkannya, bahkan secara terang-terangan menentangnya.

Suatu hari, Umar berjalan sambil menenteng pedang terhunus. Wajahnya jelas menunjukkan ekspresi murka. Ia berpapasan dengan Naim al-Nakham. “Mau kemana kau Umar dengan pedang terhunus seperti itu?” Kau ingin membunuh seseorang? Kau nampak mengerikan.” Tanya Naim.

“Ya. Aku akan membunuh Muhammad” Kata Umar dengan suara yang lantang. “Orang ini telah menceraiberaikan persaudaraan kita dan mengingkari tuhan-tuhan moyang kita” tambah Umar.

“Kau telah tertipu oleh dirimu sendiri, Umar. Lihatlah, orang-orang Bani Manaf meninggalkanmu. Mereka berharap kau mau membalas dendam mereka kepada Muhammad” Kata Naim. Ia terdiam sejenak lalu berkata; “Sekarang lebih baik kau lihat keluargamu sendiri. Memangnya kau tidak tahu bahwa saudarimu, Fathimah dan suaminya, Said telah menjadi pengikut Muhammad?”

Mendapatkan informasi itu, Umar makin marah. Ia murung menemui Muhammad SAW dan menuju ke rumah Fathimah. Sesampainya di sana, di depan pintu, ia mendengar lantunan ayat Al-Qur`an yang dibacakan oleh Khabab ibn Art untuk Fathimah dan Said. Ia mendapati adik, ipar, dan beberapa orang Muslim sedang mempelajari Al-Qur’an. Dari depan pintu itu, Umar berteriak menyuruh mereka keluar. Fathimah keluar, sementara Said dan Khabab tetap di dalam rumah.

“Aku sudah tahu kalian meninggalkan keyakinan nenek moyang kita dan mengikuti Muhammad. Kata Umar.

“Kami menemukan kebenaran pada ajaran Muhammad” Kata Fathimah tegas. “Apa pun yang ingin kau lakukan sekarang, kami tidak akan goyah dengan pilihan kami ini” Tambah Fathimah.

Seketika Umar menampar keras adiknya itu. Hidungnya pun sampai berdarah. Umar kemudian menerobos masuk ke dalam rumah, meraih Said, membantingnya, lalu menginjak dadanya. Sementara Fathimah berusaha menahan darah yang mengalir dari hidungnya agar tak menetes di lembaran Al-Qur`an yang di pegangnnya.
Di puncak kemarahannya, mata Umar menangkap sebuah lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an yang di pegang oleh adiknya itu, Fathimah. Umar berusaha merebut lembaran itu, tapi Fathimah menampik tangan Umar. Lalu berkata; “Ini kitab suci. Tidak boleh disentuh oleh orang kafir yang tak suci sepertimu” Kata Fathimah.

Mendengar itu, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan hatinya menjadi ciut. Ia tertusuk, lunglai dan seperti tersihir oleh kata-kata dari saudarinya itu. Umar pun segera mandi dan mengucikan diri lalu mem-baca ayat-ayat Al-Qur’an yang tertera di lembaran yang di pegang adiknya itu. Menurut sebagian riwayat, yang tertera di dalam lembaran itu adalah beberapa ayat dari permulaan surat Thaahaa. Yang tertulis:

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik),” (QS. Thaahaa [20] ayat 1-8)

Setelah membaca ayat-ayat itu, perasaannya menjadi tenang, dan rasa damai menyelinap di hatinya. Ayat-ayat itu menyentuh hati terdalam Umar. Timbul keinginan kuat untuk segera menemui Rasulullah SAW. la pun segera meminta maaf kepada adik Fathimah, iparnya Said dan temannya Khabab ibn al-Art, lalu bertanya; “Dimana aku bisa menemui Muhammad?”

Khabab yang sedari tadi hanya bersembunyi karena takut dengan kemarahan Umar, tiba-tiba muncul dan bicara; “Berbahagialah kau Umar. Allah telah membuka pintu hatimu untuk Islam. Rasul pernah berdoa mengharap keIslamanmu” dan setelah itu, ia di tunjukkan dimana biasa Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, yaitu di rumah Al-Arqam.

Selepas itu, Umar langsung menuju rumah Al-Arqam (rumah yang dihibahkan Al-Arqam kepada Rasulullah untuk dijadikan pusat dakwah Islam) di mana Nabi Muhammad SAW sedang menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sesampainya di rumah Al-Arqam, Umar segera mengetuk pintu. Mengetahui yang datang adalah Umar, sahabat-sahabat yang sedang bersama Nabi SAW menjadi gentar dan ketakutan, kecuali Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi SAW yang dikenal sebagai seorang yang gagah berani.

Para sahabat menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Umar. “Kita lihat saja” Kata Hamzah. “Jika Allah menghendaki kebaikan, maka Umar akan mendapatkannya. Jika bukan, berarti Umar sedang mengantar-kan nyawanya sendiri”

Nabi SAW menyuruh membuka pintu dan mempersilakan Umar masuk. Melihat sikap Nabi SAW yang sangat lembut dan bijaksana, Umar merasa kecil di hadapannya. Setelah Umar mendekat, Rasulullah segera menyambutnya. “Ada apa kau kemari, Umar?” Tanya beliau, ramah.

Umar membalasnya dengan senyuman dan berkata; “Aku ingin masuk Islam”

Sambil menggenggam leher baju Umar, Nabi SAW berkata dengan suara yang keras, “Islamlah engkau, wahai Ibnu Khaththab!” Umar pun lalu mengucapkan Dua Kalimat Syahadat di hadapan Rasulullah dan para sahabat., sebagai tanda ia telah masuk Islam. Semua yang hadir di rumah Al-Arqam bergembiran dengan peristiwa itu. Orang-orang yang berada di rumah pun bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke 40 masuk Islam.

Kemudian Nabi Muhammad SAW berdoa; “Ya Allah, ini adalah Umar ibn Khathttab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khaththab.” Dan dalam riwayat lain: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khaththab masuk Islam.”

4. Mendapat gelar Al-Faruq
Masuk Islamnya Umar segera diikuti oleh putra sulungnya, Abdullah, dan isterinya, Zainab binti Maz’un. Tapi tentunya keislamannya itu malah mengecewakan kalangan kafir Quraisy. Mereka merasa, pelan-pelan sandaran mereka mulai rapuh. Sebaliknya, bagi umat Islam, keIslaman Umar adalah rahmat. Setelah Hamzah, kini Umar. Pengikut Islam tak lagi dari kalangan budak, melainkan pembesar Quraisy.

Sebelum Umar menanggalkan kekafirannya, tak jarang umat Islam melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi. Keadaan itu barubah setelah Umar masuk Islam. Umar pernah berkata; “Bukankah kita ini benar ya Rasulullah? Lalu kenapa harus sembunyi-sembunyi?”

Sehingga sejak hari itu pula, Umar mendapat julukan Al-Faruq (sang pembeda kebenaran dan kebathilan). Dan umat Islam pun lebih tenang melaksanakan shalat berjamaah. Keikutsertaan Umar dalam barisan shaf membuat para jamaah yakin tak akan di ganggu oleh orang-orang kafir Quraisy. Tak hanya itu, ia pun di percaya oleh Rasulullah untuk mencatat wahyu, karena ia memanglah pintar dalam tulis menulis aksara Arab. Sehingga bertambah banyaklah dari kalangan sahabat yang mencatatkan ayat Al-Qur`an demi kelestariannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila seorang umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa`ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi, jika salah seorang dari umatku mendapat-kannya, maka Umarlah orangnya.”

Umar selalu mengikuti peperangan yang di pimpin oleh Rasulullah SAW dan peristiwa-peristiwa yang terkait dengannya, seperti perang Badar, Uhud, Khandaq. Ia terkait dalam pengepungan Bani Qainuqa, Bani Mushthaliq, Hunai dan Thaif. Ia tergabung dalam pasukan pada misi pembebesan Makkah (Fathu Makkah). Umar juga menjadi salah satu prajuri pasukan al-`Usrah (pasukan yang dipersiapkan untuk menyerang pasukan Romawi sebagai pembalasan kematian tiga pemimpin pasukan Islam (Zaid ibn Harits, Ja`far ibn Abu Thalib, dan Abdullah ibn Rawahah).

Pada semua peristiwa kepahlawanan itu, Umar menjadi teladan keberanian seorang prajurit yang ditakuti lawan. Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda; “Syaitan dari golongan manusia dan jin pun lari dari Umar” (HR. At-Tirmidzi)

Di lain waktu, Hafshah, Ummul Mukminin, putri Umar, menuturkan bahwa Rasulullah pernah mengatakan; “Sejak Umar masuk Islam, setiap syaitan yang bertemu dengannya akan tunduk” (HR. At-Thabrani)

Ketegasan dan keberanian Umar merupakan kekuatan besar dalam upaya mengembangkan Islam selanjutnya, sehingga bukan hanya Nabi SAW yang menaruh simpati dan kepercayaan yang besar kepadanya, melainkan juga para sahabat, khususnya Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Pada masa pemerintahannya, Umar selalu diangkat sebagai penasihat sekaligus hakim dalam menangani permasalahan-permasalahan hukum yang timbul ketika itu. Kemampuan Umar dalam hal memecahkan berbagai problema hukum yang dihadapkan kepadanya meyakinkan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA untuk mengangkatnya sebagai Khalifah penggantinya kelak.

Selain itu, keislaman Umar membuka jalan bagi tokoh-tokoh bangsa Arab lainnya masuk Islam. Sejak saat itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam, sehingga hanya dalam waktu yang singkat pengikut Islam bertambah dengan pesatnya.

Umar telah membawa cahaya terang dalam permulaan perjuangan Islam. Dakwah Islam, yang semula dijalankan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi, kini disiarkan secara terang-terangan. Umar menjadi pembela dan pelindung umat Islam dari segala gangguan. Ibnu Asir mengungkapkan bahwa Abdullah bin Mas’ud RA berkata, “Islamnya Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah suatu pertolongan, dan pemerintahannya adalah rahmat. Pada awalnya, umat Islam tidak berani mengerjakan ibadah shalat dengan terang-terangan, takut dianiaya oleh kafir Quraisy, tetapi setelah itu mereka dapat beribadah dengan leluasa tanpa merasa tertekan.”

Umar pun telah menunjukkan kesetiaan dan pengabdiannya tanpa pamrih demi kejayaan Islam, seolah-olah ia hendak menebus segala jenis kesalahan dan dosa yang diperbuatnya pada masa jahiliyah. Dan ini terbukti ketika semua umat Islam yang berhijrah ke Yastrib dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun Umar tidak demikian. Bahkan ia terang-terang menantang siapa saja yang hendak menghalanginya dalam berhijrah ke Yastrib (Madinah), dengan berkata: “Hai kalian! Aku akan hijrah ke Yastrib. Siapa yang ingin diratapi oleh ibunya, siapa yang ingin anaknya menjadi yatim, siapa yang ingin men-jadikan istrinya janda, maka hadapi aku di balik bukit”

Siapa yang berani menantang seorang pemberani dan satria seperti Umar? Sehingga ia pun dengan selamat tiba di Yastrib. Kedatangannya di sambut oleh Rasulullah, para sahabat dan keluarganya yang telah lebih dulu tiba disana.

5. Keadaan Umar ibn Khaththab selama menjadi Khalifah
Khalifah setelah Abu Bakar ini dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, demi menjaga perasaan rakyatnya. Umar juga sangat takut mengambil harta kaum Muslimin tanpa alasan yang kuat. la berpakaian sangat sederhana, bahkan tidak pantas untuk dipakai oleh seorang pembesar seperti dia. Umar pun meneladani perilaku Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupannya. Prinsip hidup sederhana juga diterapkan oleh Umar di lingkungan keluarganya. Istri dan anak-anaknya dilarang menerima pemberian dalam bentuk apa pun dari para pembesar maupun dari rakyatnya.

Umar pernah berkata, “Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi dikenakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin.

Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini, maka akan mendapatkan hukuman.

Umar juga membuat peraturan untuk para gubernurnya. Diantaranya:
1) Jangan memiliki kendaraan istimewa
2) Jangan memakai pakaian tipis (halus dan mahal harganya)
3) Jangan makan-makan yang enak-enak
4) Jangan menutup rumahmu bila orang memerlukanmu

Sebagai Khalifah, Umar dikenal sangat adil dalam menjalankan pemerintahannya. la tidak membedakan antara tuan dan budak, kaya dan miskin, juga penguasa dan rakyat jelata. Semua mendapat perlakuan yang sama. Yang salah dihukum dan yang benar dibelanya. Banyak didapati riwayat yang disampaikan Anas bin Malik RA, bahwa suatu ketika ia sedang duduk bersama Umar. Lalu datang seorang penduduk Mesir yang mengadukan perihal kezaliman Amr bin al-As, gubernur Mesir. Tentang perilaku sang gubernur yang menampar teman sebayanya. Dengan serta merta Umar mengirim surat kepada Amr bin al-Ash agar segera meng-hadap kepada Umar di Madinah. Setelah Amr bin al-Ash datang, ia pun diadili dan ternyata bersalah. Umar lalu menyuruh bocah yang teraniaya itu membalas sesuai dengan perlakuan yang diterimanya. Yaitu dengan menampar kembali sang gubernur, lalu ia berkata kepada Amr ibn Ash; “Mengapa kau memperbudak manusia yang telah dilahirkan merdeka oleh ibu-ibu mereka?” Begitulah gambaran nyata tentang keadilan seorang Umar ibn Khaththab RA, yang tak mengenal siapa orangnya.

Suatu hari, Umar pernah mengatakan; “Jika ada seekor unta saja yang tergelincir di jalan Iraq, di akhirat kelak, aku yang dituntut Allah: “Mengapa kau tak membuat jalan yang baik meski untk seekor unta?”

Pada masa Kekhalifahannya yang tepat pada tahun ke 18 Hijriyah, terjadi masa paceklik. Tak sedikit orang yang kelaparan, bahkan mati kelaparan. Saat itu, Umar mengharamkan dirinya makan daging. Ia hanya makan roti untuk sekian lama sampai wajahnya tampak seperti orang kekurangan gizi. Sehingga orang-orang pun berkata; “Jika umat tengah merasakan penderitaan, maka Umar adalah orang pertama yang merasakan penderitaan itu. Sedangkan saat umat merasakan kesenangan, maka ia adalah orang yang terakhir merasakannya”

Umar ibn Khaththab RA tidak hanya memberlakukan kesederhanaan pada dirinya saja, namun juga terhadap para pejabat di pemerintahannya sebagaimana uraian di atas. Sehingga tidak keliru bila umat di zaman kini kembali berkaca kepada kesederhanaan sahabat Rasululah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ini. Karena tentunya akan mendatangkan banyak sekali manfaatnya.

Mu`awiyah bin Abu Sufyan berkata, “Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikit pun menginginkan dunia dan dunia juga tidak ingin datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya. Adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia”

Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya; “Alangkah baiknya jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran. Maka Umar berkata; “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kedua sahabatku (Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka”

Anas berkata: “Di antara bahu dari baju Umar, terdapat empat tambalan, kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan pakaian yang memiliki dua belas tambalan. Ketika melaksanakan ibadah haji, beliau hanya menggunakan enam belas dinar, sementara beliau berkata kepada anaknya; “Kita ini terlalu boros dan berlebihan”. Pada tahun paceklik dan kelaparan, beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam. Beliau berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku bisa kenyang sementara rakyatku kelaparan. Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa diangkat ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum Muslimin pun menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya”

Saat menjabat sebagai Khalifah, Umar bin Khaththab berlaku sangat zuhud meski beliau sesungguhnya seorang yang sangat kaya. Ketika wafat, Umar ibn Khaththab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp. 160 juta – perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar telah meninggalkan warisan sebanyak Rp. 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp. 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp. 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan.

Umar memiliki 70.000 properti. Umar selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak habis hanya untuk di makan.

Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan. Sampai-sampai menjelang akhir kepemimpinannya, Ustman ibn Affan mengatakan; “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun dari Khalifah penggantimu kelak.”

Pernah suatu hari jamaah kaum Muslimin hendak menunaikan shalat Jum`at. Waktu sudah mepet dan khutbah Jum`at sudah saatnya untuk disampaikan tapi Amirul Mukminin Umar ibn Khathtahb belum juga keluar dari rumahnya. Sebagian jamaah mulai menebak-nebak, jangan-jangan Khalifah Umar sedang sakit karena tidak seperti biasanya ia terlambat menyampaikan khutbah Jum`at. Umar ibn Khaththab adalah seorang yang berdisiplin tinggi. Selama ini tidak pernah ia melalaikan kewajibannya sebagai seorang pemegang amanah umat.

Dan tak berapa lama kemudian Umar bin Khaththab keluar dari rumah menemui jamaah kaum Muslimin yang sudah menanti dimulainya khutbah Jum`at. Setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW dan menyampaikan pesan taqwa kepada jamaah, ia menyampaikan perihal keterlambatannya mengisi khutbah Umar berkata bahwa; “Aku hanya memiliki selembar pakaian ini saja yang selalu aku pakai setiap hari dalam menjalankan tugas Kekhalifahanku dan tadi aku mencucinya dan lama aku menungguinya hingga mengering”.

Sambil berkata seperti itu Umar selalu mengibas-ngibaskan pakaian gamisnya, karena belum kering sepenuhnya. Apa yang Umar adalah suatu teladan kesederhanaan yang sudah dicontohkan oleh dua orang sahabat-nya yang sudah wafat terlebih dahulu, yaitu Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Umar ibn Khaththab pernah berkata; “Rasulullah SAW telah mendahuluiku dan beliau telah memperoleh nikmat disisi Allah, begitu juga Abu Bakar juga telah berhasil mencontohnya, maka ia juga beroleh nikmat disisi Allah dan sekarang tinggal aku seorang yang belum jelas nasibnya, maka akan menyesal diriku bila tidak mencontoh mereka berdua”.

Kesederhanaan Abu Bakar sebagai pemimpin negara menjadi suri tauladan bagi para Khalifah setelahnya. Umar ibn Khaththab, Khalifah setelahnya, dikenal sebagai sosok yang sangat tegas dalam mentaati syariah Islam dan tegas pula dalam hal menjaga diri, keluarga dan para pejabat di pemerintahannya untuk tidak menyelewengkan kekuasaan demi kepentingan pribadi.

Umar ibn Khaththab pernah memaksa putranya Abdullah ibn Umar untuk segera menjual unta gemuk putranya itu yang digembalakan di tanah milik negara dan mengembalikan seluruh hasil penjualannya ke dalam kas negara (bait al-mal). Khalifah Umar tidak menginginkan anak-anaknya bersikap “aji mumpung” dalam memanfaatkan fasilitas negara selama beliau berkuasa. Karena itu adalah tindakan yang tidak sesuai dengan contoh yang diberikan Rasulullah SAW.

Kesederhanaan beliau juga tercermin dalam kisah berikut ini. Suatu saat, sejumlah sahabat di antaranya Utsman, `Ali ibn Abi Thalib, Zubair bin Awwam dan Thalhah RA berunding untuk mengusulkan agar santunan untuk Khalifah Umar dinaikkan, karena dianggap terlalu kecil. Namun, tidak ada seorang pun dari mereka yang berani mengajukan usul tersebut kepada Khalifah Umar yang terkenal sangat tegas dan “keras”. Mereka khawatir usulan itu tidak diterima.

Akhirnya, mereka menemui Hafshah RA, Ummul Mukminin, salah seorang istri Baginda Nabi SAW yang tidak lain putri Umar. Saat Hafshah menyampaikan pesan mereka terkait dengan usulan kenaikan santunan untuk Khalifah tersebut, Umar tampak seperti menahan marah. Beliau dengan nada agak keras bertanya; “Siapa yang berani mengajukan usulan itu?”

Hafshah tidak segera menjawabnya, selain berkata, “Berikan dulu pendapat Ayah.”

Umar berkata; “Seandainya saya tahu nama-nama mereka, niscaya saya pukul wajah-wajah mereka!”

“Hafshah, sekarang coba kau ceritakan kepadaku tentang pakaian Nabi SAW yang paling baik, makanan paling lezat yang biasa beliau makan dan alas tidur paling bagus yang biasa beliau pakai di rumahmu,” Kata Umar lagi.

Hafshah menjawab; “Pakaian terbaik beliau adalah sepasang baju berwarna merah yang biasa beliau pakai pada hari Jumat dan saat me-nerima tamu. Makanan terlezat beliau adalah roti yang terbuat dari tepung kasar yang dilumuri minyak. Tempat alas tidur terbagus beliau adalah sehelai kain agak tebal, yang pada musim panas, kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua; separuh beliau jadikan alas tidur dan yang separuh lagi beliau jadikan selimut.”

“Sekarang, pergilah. Katakanlah kepada mereka itu, Rasulullah SAW telah mencontohkan hidup sangat sederhana dan merasa cukup dengan apa yang ada demi mendapatkan akherat. Aku akan selalu mengikuti jejak beliau. Rasulullah, Abu Bakar dan aku bagaikan tiga orang musafir. Musafir pertama telah sampai di tujuan seraya membawa perbekalannya. Demikian pula musafir kedua, telah berhasil menyusulnya dan sampai di tujuannya. Aku, musafir ketiga, masih sedang dalam perjalanan. Seandainya aku bisa mengikuti jejak keduanya, tentu aku akan bertemu dengan mereka semua. Sebaliknya, jika aku tidak mampu mengikuti jejak keduanya, aku tidak akan pernah bertemu mereka,” Tegas Umar lagi.

Pada saat lain, ketika beliau sedang asyik makan roti, datanglah Utbah bin Abi Farqad RA. Utbah pun beliau persilakan masuk sekaligus beliau ajak untuk ikut makan roti bersama. Roti itu ternyata terlalu keras sehingga Uthbah tampak agak kesulitan memakannya. “Andai saja engkau membeli makanan dari tepung yang empuk,” Kata Uthbah.

Umar malah bertanya; “Apakah setiap rakyatku mampu membeli tepung dengan kualitas yang baik?”

“Tentu tidak,” jawab Uthbah.

“Kalau begitu, engkau jelas telah menyuruhku untuk menghabiskan seluruh kenikmatan hidup di dunia ini,” tegas Umar.

6. Khalifah Umar bila dibandingkan dengan para raja
Di Madinah yang tenang hari itu. Siang berlalu setengah perjalanan. Serombongan orang yang nampak asing berjalan memasuki kota suci Islam kedua itu. Ternyata ada satu rombongan Hurmuzan, panglima dan pangeran Persia yang telah ditaklukkan pasukan Muslim. Ia ingin bertemu dengan Amirul Mu’minin Umar ibn Khaththab RA.

Dengan ditemani Anas bin Malik RA, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya. Sementara itu sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung pada sabuknya. Ia bertanya-tanya dimana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh dunia pasti tinggal di sebuah istana yang megah.

Sampai di Madinah, mereka langsung menuju ke tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahukan bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga melihat Umar disana. Melihat rombongan itu, anak-anak Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan Masjid Nabawi dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal.

Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukkan kepadanya bahwa Umar adalah lelaki dengan pakaian seadanya yang sedang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya. Tetapi, memang itulah kenyataannya. Di Masjid itu tidak ada orang lain kecuali Umar.

Dalam riwayat lainnya dikatakan, sambil berdecak heran Hurmuzan bergumam, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan sangat adil, lalu engkau aman dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman.”

Selain itu, tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negara tetangga. Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Umar.

Maka pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk me-ngawalnya berkunjung ke pemerintahan Umar. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan got di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.

“Wahai saudaraku!” seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya. “Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan sing-gasana Umar?” Tanyanya kemudian.

Lelaki itu pun segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat. “Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?” Si penggali parit balik bertanya.”

Umar ibn Khaththab kepala pemerintahan kerajaan Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani,” Kata raja.

Lelaki penggali parit itu tersenyum. “Tuan salah terka. Umar ibn Khaththab kepala pemerintahan Islam sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang tuan duga. Ia orang biasa seperti saya,” Terang si penggali parit”

“Ah benarkah? Mana mungkin kepala pemerintahan Islam yang ter-kenal agung seantero negeri itu tidak punya istana?” Raja itu mengerutkan dahinya.

“Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya,” Sahut penggali parit itu.

Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju “istana” Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilahkannya duduk. Penggali parit itu pun pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu. “Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!” Kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. “Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar ibn Khaththab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!”

Hah?!” Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikit pun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana.

Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil menga-cungkan pedangnya.

“Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!” Ancamnya melotot.

Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri.” Di sini tidak ada rakyat yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar,” Kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.

Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan “istana” Umar itu. Lalu muncullah pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal untuk menjamu mereka dengan upacara kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.

“Benarkah ini istana Umar?” Tanyanya pada pelayan-pelayan.

“Betul, tuanku, inilah istana Umar ibn Khaththab,” Jawab seorang pelayan.

“Baiklah,” katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan pelayan itu. “Tapi, dimanakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!” ujar sang raja.



Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja. ” Yang duduk di hadapan tuan adalah Khalifah Umar bin Khaththab” Sahut pelayan itu.

“Hah!?” Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula pengawalnya. “Jad… jadi, Anda Khalifah Umar itu…?” tanya raja dengan tergagap.

Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah. “Sejak kita bertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khaththab!” ujarnya dengan tenang.

Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar ibn Khaththab. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggiran kotanya. Sejak itu, raja selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.

7. Prestasi yang pernah di raih
Setelah Umar menjadi khalifah, ia lebih disegani dan ditakuti negara-negara lain. Kekuasaan Islam pun tumbuh sangat pesat mencakup wilayah Mesopotamia (Iraq) dan sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara. Pengaruh Islam juga melebar ke Armenia setelah merebutnya dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636 M, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (636 M), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637 Masehi, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan di undang untuk shalat di dalam gereja. Umar memilih untuk shalat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia shalat.

Umar juga melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638 M, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di kota Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun keempat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai di hitung saat peristiwa hijrah.

Di bidang administrasi pemerintahan, Umar berjasa membentuk Majelis Permusyawaratan, Anggota Dewan, dan juga memisahkan lembaga pengadilan. la juga membagi wilayah Islam ke dalam 8 propinsi yang membawahi beberapa distrik dan subdistrik. Kedelapan propinsi itu adalah Makkah, Madinah, Suriah, Jazirah, Kufah, Basra, Mesir, dan Palestina. Untuk masing-masing distrik itu, diangkat pegawai khusus selaku gubernur. Gaji mereka di tertibkan. Selain itu, administrasi perpajakan juga dibenahi.

Untuk kepentingan pertahanan, keamanan, dan ketertiban dalam masyarakat, didirikanlah lembaga kepolisian, korps militer dengan tentara terdaftar. Mereka juga digaji yang besarnya berbeda-beda sesuai dengan tugasnya. Dia juga mendirikan pos-pos militer di tempat-tempat strategis. Untuk mengawasi dan menjaga keamanan negara.

Umar melakukan pembenahan peradilan Islam. Dialah orang yang pertama meletakkan prinsip-prinsip peradilan dengan menyusun sebuah risalah yang kemudian dikirimkan kepada Abu Musa al-Asy’ari. Risalah itu disebut Dustur ‘Umar atau Risalah al-Qada’.

Dalam upayanya meningkatkan mekanisme pemerintahan di setiap daerah, Umar melengkapi gubernurnya dengan beberapa staf yang terdiri dari katib (sekretaris kepala), katib ad-Diwan (sekretaris pada sekretariat militer), sahib al-kharaj (pejabat perpajakan), sahib al-ahdas (pejabat ke-polisian), sahib bait al-mal (pejabat keuangan), dan qadi (hakim dan pejabat jawatan keagamaan). Selain itu, ada staf yang langsung dikirim dari pusat.

Kebijaksanaan lain yang dilakukan Umar adalah mendaftar seluruh kekayaan pejabat yang akan di lantik. Ini ditempuh untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan wewenang dan tindakan korupsi, yang jelas akan menjaga kestabilan negara.


Selain itu, dengan semakin luasnya wilayah Islam, Umar melakukan berbagai macam penataan struktur pemerintahan, antara lain: Penataan administrasi pemerintahan dilakukan dengan melakukan desentralisasi pemerintahan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjangkau wilayah Islam yang semakin luas. Umar yang dikenal sebagai negarawan, administrator, terampil dan cerdas, segera membuat kebijakan mengenai administrasi pemerintahan.

Pembagian negeri menjadi unit-unit administratif sebagai propinsi, distrik dan sub bagian dari distrik merupakan langkah pertama dalam pemerintahan. Unit-unit ini merupakan tempat ketergantungan efesiensi administratif yang besar. Umar merupakan penguasa Muslim pertama yang mengambil kebijakan dengan melakukan disentralisasi semacam itu. Setiap daerah diberi hak kewenangan mengatur pemerintahan daerahnya, tetapi tetap segala kebijakan harus sesuai dengan pemerintahan pusat.

8. Wafat
Beliau wafat dalam usia 63 tahun setelah kurang lebih 10 tahun menegang amanat sebagai KhaIifah. Umar syahid setelah ditikam oleh Abu Abu Lu’luah (Fairuz), pada suatu subuh saat beliau akan memimpin shalat berjama`ah.

Abu Lu’luah, seorang budak warga Persia miliki Al-Mughirah yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lu’luah (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara digdaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, tanggal 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafatnya, maka jabatan Khalifah dipegang oleh Ustman bin Affan RA atas persetujuan kaum Muslimin.

Semasa Umar ibn Khaththab RA masih hidup beliau meninggalkan wasiat, yaitu:
1) Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
2) Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
3) Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah SWT. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamuselain Allah SWT.
4) Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkan kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
5) Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.
6) Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

9. Penutup
Umar adalah profil seorang pemimpin yang sukses, mujtahid (ahli ijtihad) yang ulung, dan sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang sejati. Kesuksesannya dalam mengibarkan panji-panji Islam mengundang rasa kagum dan cinta dari banyak kalangan.

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah sosok pribadi yang alim dan zuhud pada kehidupan duniawi. Beliau pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum Muslimin. Pemimpin yang terus menegakkan ketauhidan dan keimanan, membasmi bentuk kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah salah seorang yang paling baik dan paling berilmu tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.

Sungguh rindu diri ini mendapati sosok pribadi – terutama pemimpin – yang demikian ini. Seperti halnya Umar ibn Khaththab RA. Dan semoga saja bisa mengikuti perilaku beliau ini, karena akan menjadikan pribadi ini bertambah baik dan sempurna.

Yogyakarta, 27 Februari 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku: "Ratapan Hidup dalam Kehidupan", karya: Mashudi Antoro]

http://oediku.wordpress.com/2012/02/26/keindahan-cinta-dari-al-faruq-umar-ibn-khaththab-ra/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar