Halaman

Senin, 04 April 2011

Tingkatan-tingkatan Ibadah

Tingkatan-tingkatan Ibadah 

Kamis, 27 Maret, 2008

Posted by Quito Riantori 


“Sesungguhnya  ada  suatu kaum yang  beribadah  kepada  Allah  dengan pengharapan, yang demikian itu ibadah seorang pedagang dan  ada lagi kaum yang beribadat kepada Allah karena  takut, yang  demikian  itu ibadat seorang hamba (budak) dan ada  suatu  kaum yang beribadat kepada-Nya dengan perasaan syukur, yang  demi­kian itu ibadah seorang yang merdeka”
(Imam Ali as, Al-Bihar 78 : 69) 55]
 
Manusia memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap ibadah. Tidak semua manusia memandang ibadah dengan cahaya yang sama. Bagi sebagian orang, ibadah merupakan sejenis transaksi, barter dan pertukaran, ini seperti seorang yang bekerja demi mendapat upah. 

Seorang pekerja yang telah menghabiskan waktunya dan bekerja demi keuntungan sang majikan, maka ia mengharapkan upah sebagai balasannya, demikian pula seorang hamba yang beribadah demi mendapatkan pahala Tuhannya, maka ia mengharapkan dirinya akan diterima di akhirat. 

Menurut perspektif kelompok ini, jika seorang hamba beribadah demi pahala dalam bentuk kedamaian dan kesejahteraan – yang kelak diterimanya di akhirat – ia tak ubahnya seperti seorang buruh yang hanya bekerja demi mendapatkan upah. Memang, setiap majikan membayar upah sebagai balasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerjanya. 

Namun, keuntungan apa yang bisa Tuhan Semesta Alam dapat dari pekerjaan seorang hamba yang lemah dan rendah? Malahan, jika kita menganggap bahwa Majikan Besar (Tuhan) membayar hamba-hamba-Nya dalam bentuk rahmat dan ganjaran di akhirat, lantas mengapa Dia tidak memberikan balasan kepada mereka yang tidak berusaha dan menggunakan tenaganya? 

Inilah persoalan-persoalan yang tak pernah muncul pada kelompok saleh ini. Dari sudut pandang mereka, inti ibadah terletak pada gerakan-gerakan tubuh tertentu yang teramati dan komat-kamitnya lidah. Inilah satu sikap dan pandangan terhadap ibadah. 

Di dalam kata-kata Ibn Sina, sebagaimana ditunjukkan dalam bab kesembilan buku Al-‘Isyarat-nya, sikap itu merupakan “sikap orang tak tercerahkan dan jahil akan Tuhan (God-ignorant), yang hanya dapat diterima oleh para pekerja.”

Pendekatan lain terhadap ibadah adalah pendekatan terbuka. 

Di sini persoalan-persoalan yang disebutkan sebelumnya seperti pekerja dan majikan, pekerjaan dan upah, tidak punya relevansi. Dalam pendekatan ini ibadah dipandang sebagai langkah-langkah untuk mencapai kedekatan kepada Allah, sebagai sarana keunggulan manusia, pendidikan, pengangkatan jiwa dan perjuangannya menuju cakrawala keagungan ruhani yang tak terlihat, sebagai suatu latihan penguatan daya spiritualnya, sebagai suatu kemenangan jiwa di atas alam duniawi! 

Ibadah merupakan ekspresi tertinggi dari rasa syukur dan cinta manusia kepada Pencipta-Nya dan deklarasi cintanya kepada Yang Maha Sempurna dan Maha Indah, dan terakhir, perjalanannya menuju Allah!

Menurut pendekatan ini, ibadah memiliki suatu bentuk dan jiwa, penampakan dan makna batin. Apa yang diperagakan oleh lidah dan gerakan anggota-anggota tubuh lainnya, adalah bentuk, lapisan luar, dan penampakan lahiriah ibadah. 

Adapun jiwa dan maknanya sesuatu yang lain. Jiwa ibadah terkait dengan arti penting yang melekat pada ibadah yang dilakukan oleh si hamba, sikapnya terhadap ibadah itu sendiri, motif terdalamnya yang menggerakkannya kepada ibadah, kepuasan akhir dan manfaat yang ia ambil darinya, dan sampai ke tingkat di mana ia melintas Jalan-Nya dalam suluknya menuju Tuhan. 56]

Ibadah memiliki berbagai peringkat, dan peringkat ibadah yang tertinggi adalah ibadah yang tidak dilatar belakangi oleh hasrat kepada surga atau ketakutan akan neraka. Kendati demikian, ibadah yang dilatar belakangi hasrat surga atau ketakutan akan neraka masih tetap tergolong ibadah. 

Hanya sebagian kecil manusia yang beribadah karena syukur dan atas dasar cinta. Golongan ini menyembah Allah sebagaimana dituntut oleh fitrah teistiknya. Seandainya Allah tidak menjanjikan surga atau neraka pun, mereka tetap menyembah Allah.  57]


IBADAH HAMBA YANG BERSYUKUR

Setiap malam Rasulullah saww melalukan shalat malam. Hal ini diperhatikan oleh isterinya, ‘Aisyah, hingga ‘Aisyah pun bertanya kepada beliau,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyusahkan diri, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang dahulu maupun yang kemudian?” Nabi saww menjawab,”Wahai ‘Aisyah, tak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (‘abdan syakuran)?” 58]
 
Seorang hamba bisa dianggap telah bersyukur apabila dia sepenuhnya mengetahui hubungan makhluk dengan Sang Pencipta (al-Khaliq), mengetahui seluruh rahmat Ilahi, mengetahui awal dan akhir penyingkapan Ilahi, mengetahui kaitan satu karunia dengan karunia lainnya, dan mengetahui rantai wujud dengan sebenar-benarnya. 

Pengetahuan seperti ini tidak akan dapat dicapai oleh siapa pun kecuali para wali Allah (Imam al-Hadiyyin), dan yang paling mulia dan paling agung dari mereka semua adalah esensi kudus Nabi Penutup, Muhammad ibn ‘Abdullah Saww. 59]

Ibadah bagi kaum ‘arif merupakan riyadhah (latihan ruhani) agar dapat keluar dari wilayah fisik (thabi’ah) dan memasuki wilayah metafisik sehingga mereka dapat mi’raj bersama para kekasih-kekasih Tuhan untuk menjumpai (liqa’) Tuhannya.

http://qitori.wordpress.com/2008/03/27/tingkatan-tingkatan-ibadah/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar