Laman

Jumat, 01 April 2011

Saling berbagi cinta diantara sesama

Saling berbagi cinta diantara sesama

27 Jul


Sungguh cinta telah memiliki makna yang sangat banyak untuk dituliskan karena atas nama cinta, telah banyak terangkai mutiara kata nan indah. Atas nama cinta, telah banyak hadir kebahagiaan di hati. Atas nama cinta, telah beriring janji keceriaan hidup. Namun atas nama cinta juga, telah banyak tertulis untaian bait kekecewaannya. Atas nama cinta, telah banyak datangnya kesedihan di sanubari. Atas nama cinta, telah panjang antrian duka lara menunggu. Karena apa demikian?? Karena cinta adalah cinta. Ia akan bisa membuatmu bahagia ataupun duka tergantung kau yang memilih.

Hidup tanpa cinta bagai siang tanpa mentari, bagai jasad tanpa ruh, bagai hidup tanpa udara. Semua akan terasa hampa dan tidak berarti apa-apa. Maka dari itu janganlah engkau menghindarkan diri dari cinta, sebab jika engkau menghindar darinya, maka cinta akan tetap mencengkeram erat kepadamu dengan jari-jarinya yang kuat, hingga engkau tidak akan pernah lolos dan akan dibuatnya lemah serta bertekuk lutut dibawahnya. Engkau tidak akan sanggup berkelit di hadapannya. Engkau hanya akan merasakan kehadirannya, meng-ikuti kemana arahnya dan meresapi hikmahnya di dalam setiap kehidupanmu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa cinta yang begitu besarnya terkadang sering terselubung dan tak menampakan diri kepada siapapun kecuali sang kekasih. Tidak pernah terkabarkan kepada orang lain, karena cukup dirasakan berdua saja untuk menikmatinya. Dan jika itu adalah kekuatan, maka hingga kapan pun cinta sejati akan tetap hadir disekitar mereka berdua untuk selalu menyatukannya.

Rasulullah SAW bersabda;
“Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hamzah, Anas bin Malik RA)

Namun sadarilah, bahwa banyak pecinta yang tak mengenal cinta namun sanggup menikmati kehadirannya. Sedangkan cinta tak membutuhkan pengorbanan karena dalam cinta hanya ada keikhlasan.
Cinta adalah anugrah Tuhan yang paling berharga. Cinta adalah sebuah ketulusan yang membelai jiwamu dengan lembut. Maka dari itu selalu ingatlah bahwa ketika engkau berjalan di atas sebuah cinta, jadi-kanlah ketulusan hati sebagai landasannya.

Untuk itulah Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur`an surat Al-Hujuraat [49] ayat 7;
“….. Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” 

Cinta dapat diwujudkan ke dalam berbagai cara dan kelakuan. Ia bisa dengan cara yang tidak meriah, namun tetap akan memberikan kesan yang menarik dan indah bila dilakukan, walau hanya dengan cara yang sederhana.

“Barangsiapa diantara kalian yang mampu memberikan manfaat bagi saudaranya, hendaklah ia melakukannya” (HR. Muslim)

Tidak akan ada yang bisa memberikan batasan yang kaku tentang bagaimana mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang, karena ia tidak diukur dengan seberapa banyak harta dan kepemilikan, melainkan dengan tingkat ketulusan di dalam hati.

“Dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasululllah SAW bersabda; Bahwa Allah berfirman: “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan yang telah Aku anjurkan, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, (maka) Aku akan menjaga pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, maka pasti Aku akan melindunginya” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu contoh perilaku yang sangat baik bagi seseorang untuk dapat mewujudkan kecintaannya kepada mereka yang lain adalah dengan memberikan sebuah hadiah. Entah ketika di hari ulang tahun, atau hanya sebagai oleh-oleh pengikat kebersamaan. Yang jelas dengan pemberian hadiah kepada orang lain, maka akan menambahkan rasa kasih dan sayang bagi keduanya. Dan tentunya ini akan meningkatkan rasa cinta dari keduanya.

Tentang hal ini maka Rasulullah SAW bersabda;
“Saling memberi hadiahlah kamu, niscaya kamu akan saling menyukai” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, Al-Baihaqi dalam Asy-Syu`ab, Abu Ya`la, dan Ibnu `Aiy Al-Kamil)

Fungsi hadiah ini bagi yang memberikan adalah ungkapan cinta yang begitu mendalam. Sedangkan bagi yang menerima, maka akan menjadikannya sebagai pelipur lara, pemberi bahagia dan dapat meleyapkan kedengkian.

“Hadiah itu dapat melenyapkan rasa dengki” (HR. Thabarani, Ibnu `Adiy dan Ibnu Hibban)
Maka dari itu hai saudara tercinta, berbahagialah engkau ketika memiliki kesempatan untuk saling memberikan hadiah. Tidak harus bernilai harta yang tinggi, karena hanya dengan yang paling sederhana saja engkau tetap akan menebarkan kebahagiaan dan menumbuhkan rasa cinta yang lebih tinggi dari sebelumnya. Itu pun bukan untuk dirimu semata, melainkan juga bagi mereka yang lainnya secara bersamaan.

Contoh memberi kebahagiaan yang paling sederhana adalah saling mengunjungi antara sesama saudara, sahabat atau tetangga. Sifat ini telah di contohkan Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup dahulu. Bahkan terdapat sabdanya yang mengatakan;

“Saling berkunjunglah kalian sekali waktu, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Al-Baihaqi, Al-Bazzaar dan Ath-Thabrani)

Dan juga….
“Hai manusia, sebarkan salam, jalinlah tali kasih sayang (silaturahim), berilah makan (fakir miskin), dan shalat malamlah ketika orang-orang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat” (HR. Tirmidzi)

Sehingga tidaklah menjadi sebuah kewajiban bagi seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan harta bendanya dalam upaya membahagiakan orang lain. Ia tetap bisa banyak berderma dalam sebuah rangkaian kebaikan meski bukan dengan harta benda. Tetap bisa memberikan kebaikan meski dalam lingkup yang sangat sederhana. Karena tentunya ada sebuah solusi dengan contoh hanya saling kunjung mengunjungi diantara dua sahabat, saudara atau bahkan hanya tetangga adalah cukup baginya.
Sekarang bagaimana dengan Anda sekalian?


Yogyakarta, 27 Juli 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)
[Cuplikan dari buku "Ojo Ngepuk Jayaning Mrutu (jangan menyepelekan sesuatu)" karya Mashudi Antoro]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar