Halaman

Selasa, 27 Agustus 2013

Dunia Tak lebih Hanya Senilai Tetesan Air Kencing

Apakah Takdir Bisa Dirubah Dengan Do’a?

Kita sering menyatakan atas suatu kejadian: “Ah- itu semuanya adalah Takdir, ketentuan Allah yang tidak bisa dirubah”. Betulkah semua bentuk takdir tak dapat dirubah?

Dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam yang dibagi kedalam dua kelompok besar, yakni TAKDIR MUBROM dan TAKDIR MU’ALLAQ, sebagaimana penjelasan dibawah ini:


I. TAKDIR MUBROM (TETAP)
 
1.Takdir Dalam Ilmu Alloh.
Takdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda:
لاَيَهْلِكُ اللهُ إلاَّ هَالِكًا

“Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka, (yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Taala bahwa dia adalah orang celaka.)”

2.Takdir Dalam Kandungan.
Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut.
Maka takdir ini termasuk takdir yang tak dapat dirubah sesuai kelanjutan dari hadist tersebut. Takdir ini sebetulnya termasuk takdir dari Ilmu Alloh seperti no I/1 diatas yang telah digariskan dalam tubuh sang jabang bayi. (Dalam ilmu pengetahuan Genetika modern mungkin dapat digambarkan pada unsur DNA?)


II.TAKDIR MU’ALLAQ (TAKDIR YANG TERGANTUNG)

1. Takdir Dalam Lauh Mahfudh.
Takdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’du ayat 39 yang berbunyi:
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz).”

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam do’anya yaitu “Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia”.


2.Takdir Yang Diikuti Sebab Akibat
Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu DAN HAL- HAL yang telah ditentukan. Gambarannya: “Seandainya hambaku berdo’a atau bersilaturrahmi dan berbakti kepada kedua orang tua, maka Aku jadikan dia begini, jika dia tak berdo’a dan tidak bersilaturrahmi serta durhaka kepada kedua orang tua, maka ia Aku jadikan seperti ini..”

Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan:

“Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia.”

Dalam salah satu hadits lain Nabi Muhammad saw pernah bersabda;
إنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ

“Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.”

Khalifah Umar bin khattab, suatu ketika, pernah mau berkunjung ke Syam ( Yordania, Palestina, Suriah dan sekitarnya). pada saat itu di Syam sedang berjangkit penyakit menular, lalu Umar membatalkan rencananya tersebut. pembatalan tersebut didengar oleh seorang sahabatnya yang kemudian berkata : “Apakah anda mau lari dari takdir Allah ?”. Umar pun menjawab: “Aku lari dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain yang lebih baik”.

Hal senada itu juga dialami oleh Ali bin Abi Thalib, ketika beliau sedang duduk menyandar pada sebuah tembok yang ternyata rapuh, lalu beliau pindah ke tempat yang lain, sahabatnya bertanya : “Apakah anda mau lari dari takdir Allah?”. Ali menjawab bahwa rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit dan sebagainya adalah hokum dan Sunnatulloh. Maka apabila seseorang tidak menghindarinya maka ia akan mendapatkan bahayanya itu. ITULAH YANG DINAMAKAN TAKDIR. dan apabila ia berusaha menghindar dan luput dari bahayanya, itu juga disebut dengan TAKDIR. BUKANKAH TUHAN TELAH MENGANUGRAH KAN MANUSIA, kemampuan memilah dan memilih, dan kemampuan berusaha dan berikhtiyar. Kemampuan itu juga takdir yang telah ditetapkan-Nya.

Bahkan Rasululloh sebagai tauladan tertinggi, saat Hijroh dan dikejar musuh, beliau bersembunyi di gua Tsaur sebagai bentuk Ikhtiyar, bukan karena takut atau lari dari Takdir, dan Allah telah mentakdirkan seekor burung dan seekor laba- laba bersarang disana, dan Alloh pun telah mentaqdirkan beliau akan selamat sampai di Madinah dan telah menraqdirkan pula Islam sebagai agama dunia.

Syekh K.H. A.Rifa’i menulis dan menuqil dari Tuhfatul Murid Syarah Jauhar – At Tauhid dalam Kitab Ri’ayatul Himmah, demikian:
ﻮﻋﻨﺪﻨﺎ ﻟﻟﻌﺑﺪ ﻜﺴﺐ ﻜﻟﻔﺎ # ﺑﻪ ﻮﻟﻜﻦ ﻻ ﻴﺆﺛﺭ ﻔﺎﻋﺭﻔﺎ

“Dan bagi kita kaum Ahlussunnah, kita diwajibkan ber- usaha dan ber- ikhtiyar seraya kita harus berkeyakinan bahwa kita TIDAK BOLEH MEMASTIKAN BERHASILNYA USAHA DAN IKJTIYAR yang kita lakukan itu”.

Oleh karena itu marilah kita banyak berdo’a, bersodaqoh,bersilaturrahmi, birrul Walidain serta mengamalkan kebaikan- kebaikan lainnya serta berusaha dan berikhtiyar tanpa henti, mudah- mudahan ada bagian takdir buruk kita yang bisa dihapuskan dan digantikan Allah tersebab amaliyah- maliyah dan segala ikhtiyar kita tersebut serta menggantinya dengan kebaikan- kebaikan dan keberhasilan. Amin.



Inilah Do’a Iblis Yang Dikabulkan

Allah berfirman dalam Al- Qur’an: “ Mintalah kalian pada Ku, niscaya Aku kabulkan”

Ini merupakan janji Allah yang akan diberikan kepada siapa saja dalam urusan dunia , bahkan kepada Iblis sekalipun. Sedang tentang urusan akherat hanya akan diberikan kepada orang- orang yang dikasihi Nya, yakni para mukminin- mukminat.

Mengapa demikian, karena bagi Allah, segala kekayaan materi dan segala kemewahan dunia adalah sesuatu yang tidak ada nilainya disisi Allah, bahkan jika dibanding dengan sayap seekor nyamuk sekalipun. Sebagaimana pernyataan sebuah hadist:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ

Dari Sahl bin Sa’d as-Saa’idiy rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seandainya dunia itu bernilai di sisi Alloh seberat sayap nyamuk tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir walau hanya seteguk air.’” ( HR. Tirmidzi, dia berkata : “Hadits Hasan Shohih” . Adapun Syaikh Al Albani rohimahulloh menilainya Shohieh lighoirihi dalam Shohiehut Targhieb wat Tarhieb no. 3240 )

Demikianlah tatkala Iblis memohon- mohon untuk diberikan kesempatan umur panjang agar dapat selalu menggoda manusia, do’a ini dikabulkan Allah, sehingga Iblis beserta zuriyatnya tak akan mati sampai hari kiamat, sesuai firman Allah ketika menceriterakan permintaan Iblis:
ﻗﺎﻞ ﺮﺐ ﻔﺄﻨﻈﺮﻨﻲ ﺇﻟﻰ ﻴﻭﻡ ﻴﺑﻌﺛﻮﻦ

“Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. (Al- Hijr 36/ Shod 79).

Allah pun mengabulkan permintaan Iblis tersebut dengan firman Nya:
ﻗﺎﻞ ﻔﺈﻨﻚ ﻤﻦ ﺍﻟﻤﻨﻈﺮﻴﻦ – ﺇﻟﻰ ﻴﻮﻡ ﺍﻟﻮﻗﺕ ﺍﻟﻤﻌﻟﻮﻡ

“Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan (ajalnya). Sampai waktu yang telah dimaklumi (yakni hari kiamat)”. Al- Hijr 37- 38.

Bahkan segala fasilitas yang dimiliki Iblis dalam hal kemampuan fisik, tidak dicabut oleh Allah, sebagaimana kemampuan terbang diawang- awang, kemampuan menempuh jarak yang jauh bahkan sanggup mengitari bumi dalam sekejap, atapun kemampuan masuk kedalam alam pikiran seseorang, kedalam relung jiwa bahkan masuk dalam peredaran darah, semuanya tetap ada pada Iblis.

Demikian juga permintaan para musuh Allah dan para orang- orang kafir teman- teman Iblis lainnya tentang urusan duniawi, semua ini dikabulkan Allah bukan sebagai tanda kasih sayang Nya, namun sebagai ISTIDROJ (penglulu.jw). Artinya Allah memenuhi keinginan mereka disertai kemarahan dan laknat. Kita bisa melihat banyak orang kafir didunia ini sebagaimana Qorun, Fir’aun, Namruz, dan masih banyak lagi contoh lainnya baik di era pra sejarah maupun di era modern ini, bahkan oleh Allah kepada mereka telah dibukakan pintu- pintu rezki, kemewahan materi sebagai bentuk ISTIDROJ dan LAKNAT kepada mereka, sebagaimana firman Allah:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Kemudian apabila mereka melupakan apa yang telah diperingatkan mereka dengannya, Kami bukakan kepada mereka pintu-pintu segala kemewahan dan kesenangan, sehingga apabila mereka bergembira dan bersukaria dengan segala nikmat yang diberikan kepada mereka, Kami timpakan mereka secara mengejutkan (dengan bala bencana yang membinasakan), maka mereka pun berputus asa (dari mendapat suatu pertolongan”). ( Ayat 44 : Surah al-An’aam )
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan Kami tidak mengutus dalam sesebuah negeri seorang nabi (yang didustakan oleh penduduknya), melainkan Kami timpakan mereka dengan kesusahan (kesempitan hidup) dan penderitaan (penyakit), supaya mereka tunduk merendah diri (insaf). Setelah (mereka tidak juga insaf) Kami gantikan kesusahan itu dengan kesenangan hingga mereka berkembang biak (serta bersuka cita) dan berkata (dengan angkuhnya): “Sesungguhnya nenek moyang kita juga pernah merasai kesusahan dan kesenangan (sebagaimana yang kita rasakan)”. Lalu Kami timpakan mereka (dengan azab seksa) secara mengejutkan , dan mereka tidak menyadarinya”. ( Ayat 94 & 95 : Surah al-A’raaf )

Maka, datangnya karunia Allah berupa kekayaan materi jangan sampai menjadikan kita GR, atau menganggap bahwa kita sedang dicintai Allah. Bahkan banyak para kekasih Allah yang justru bergetar takut serta memohon ampun kepada Allah tatkala tiba- tiba karunia nikmat berdatangan kepada dirinya, mereka takut, seandainya nikmat karunia yang datang itu tidak disertai rahmat, tetapi bersamaaN dengan datangnya laknat Allah, Na’uudzu Billaahi Min Dzaalik. Sebagaimana pesan Ibnu Atho’illah As- Sukandari dalam Kitab Al- Hikam:

Takutlah kamu terhadap karunia Allah yang terus menerus kamu peroleh, sedangkan saat itu kamu sedang melanggar perintah- Nya. Jangan sampai karunia itu datang semata- mata ISTIDROJ bagimu, (Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al- A’rof 182):

“KAMI AKAN BINASAKAN MEREKA PERLAHAN-LAHAN DENGAN JALAN YANG MEREKA TIDAK SADARI”..

INGAT: JARANG YANG MATI GARA- GARA SESUATU YANG PAHIT, NAMUN BETAPA BANYAK YANG JUSTRU TEWAS KARENA RASA MANISNYA GULA!!!



Dunia Hanya Senilai Tetesan Air Kencing

Al Kisah pada suatu hari Khalifah Harun Ar Rasyid yang sedang dalam perjalanan umroh bertemu dengan sahabatnya yang bernama Bahlul. setelah berangkulan tanda bahwa keduanya saling merindukan, sang Khalifahpun mengundang Bahlul untuk santap malam di tempatnya.

Melihat betapa penyambutan yang dilakukan oleh Harun Ar Rasyid cukup mewah, maka Bahlulpun mengajukan pertanyaan.

” Wahai Amiral Mukminin, seandaianya anda tertimpa penyakit aneh yang menyebabkan engkau tidak bisa buang air besar dan seluruh tabib istana tidak mampu menyembuhkannya, namun ada seseorang yang diizinkan Alloh dapat menyembuhkan penyakit anda, maka apa yang akan anda lakukan ?”

Khalifahpun menjawab,” Aku akan memberikan separoh dari kerajaanku sebagai tanda terima kasihku kepadanya.”

” Dan seandainya engkau tertimpa penyakit tidak dapat kencing sama sekali, lalu tiba-tiba ada seseorang yang diizinkan Oleh Alloh dapat menyembuhkan anda, apa yang akan anda lakukan ?”

Dengan penuh semangat sang khalifahpun menjawab,” Aku akan memberikan seluruh kerajaanku kepadanya sebagai hadiah atasnya.”

Mendengar jawaban itu, bahlulpun tersenyum dan berkata,” Wahai Amiral Mukminiin, ternyata nilai kerajaan anda yang begitu megah dan mewah itu tak lebih dari sepotong kotoran dan setetes kencing semata, lalu apa yang hendak anda banggakan di hadapan Alloh yang Maha Kaya ?”. Dengan menangis Harunpun menangis dan memeluk sahabatnya yang telah memberikan nashat berharga itu.

sepenggal kisah di atas penulis dapatkan dari sebuah buku yang penulis lupa judulnya, akan tetapi bagi penulis kisah di atas memiliki nilai pelajaran yang sangat tinggi, yaitu agar manusia tidak terlalu tamak terhadap dunia, menganggap dunia adalah segalanya dan menjadikan dunia adalah tujuan hidupnya semata sampai ia lalai akan kewajibannya sebagai manusia yaitu mengabdi kepada Rabbnya. Cara apapun akan dilakukan asalkan ia dapat mendapatkan kemewahan dan kemegahan duniawi, tidak peduli apakah cara tersebut halal atau haram, dholim atau bukan yang penting syahwat dan kerakusannya dapat tersalurkan.

Padahal dunia ini dimata Alloh tidak ada nilainya sama sekali, dalam hadits Riwayat Imam Turmuzi dan beliau nyatakan hasan shahih nabi bersabda,” Lau annad dunya ‘indallohi matsalu janaahi ba’udhotin ma saqol kaafiru walau surbata maain.” Seandainya dunia disisi Alloh senilai sayap nyamuk saja, maka orang kafir tidak akan pernah diberikannya walaupun seteguk air. Dan kenyataannya banyak orang kafir hidup mewah dengan harta yang melimpah, maka jelaslah bahwa dunia itu tidak ada nilainya sedikitpun dihadapan Alloh.

Sadar akan hal itu mestinya kita menjadikan dunia hanyalah sebagai sarana untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Alloh, berusaha mencarinya dengan cara yang halal dan menjauhi segala macam dunia yang haram, tidak tamak dan rakus. Manusia boleh mencari dunia dan bahkan menjadi wajib apabila bisa menjadi sarana untuk dapat tegaknya agama Alloh, namun hendaknya dalam mencarinya tersebut tetap berada pada rel syariah yang telah digariskan oleh Alloh melalui Nabi kita Muhammad Saw.


sumber :
http://tanbihun.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar