Halaman

Rabu, 20 April 2011

Kecantikan Wanita



Kecantikan Wanita


Kecantikan dunia
Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan.

Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai.

Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan.

Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.

Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.

Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk
kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda.

Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya.

Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.

Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan.

Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

Semoga Bermanfaat dan memberi inspirasi!


Selasa, 12 April 2011

Do'a


Do’a

Doa merupakan inti ibadah dan berpahala besar, tidak ada satu ibadahpun tanpa berdoa. Doa mempunyai kemampuan luar biasa yang tidak terjangkau oleh kemampuan akal dan usaha manusia. Dengan doa, perkara susah berubah menjadi mudah, orang yang sakit menjadi sembuh, orang yang miskin menjadi kecukupan, urusan berat menjadi ringan, orang benci menjadi senang, orang celaka atau binasa menjadi selamat, dan perkara yang jauh menjadi dekat serta orang yang berdosa bisa mendapat pengampunan.

Setiap muslim selalu membutuhkan doa, begitu juga manusia dalam kehidupan selalu membutuhkan sandaran untuk setiap keluh kesahnya dan tidak mungkin setiap usaha bisa berhasil tanpa berdoa. karena seorang muslim tidak lepas dari nilai perjuangan dan mustahil perjuangan tersebut berhasil tanpa disertai doa dan memohon pada Allah. Maka doa adalah senjata andalan bagi setiap muslim, sehingga benar kata pepatah, perjuangan harus disertai dengan doa. Itulah senjata ampuh bagi seorang mukmin dalam mengarungi bahtera hidup di dunia fana ini.

Tetapi tidak semua doa bernilai ibadah dan pahala serta terkabulkan, sebab terdapat kekeliruan, penghalang dan kesalahan yang menjadi penyebab do'a tersebut tertahan. Maka sangat perlu bagi setiap muslim mengetahui aturan, etika, syarat-syarat dan tata-cara berdoa yang benar sesuai syariat, karena ada seseorang yang berdoa untuk kebaikan malah yang didapat kecelakaan dan kebinasaan akibat kekeliruan dalam berdoa. Sungguh sangat disayangkan seseorang yang bermaksud baik ternyata mendapatkan kebalikannya.

Etika Bedo’a & Sebab-sebab Terkabulnya Do’a
  • Harus ikhlas hanya karena Allah ‘Azza wa Jalla semata.
  • Mengawali dengan sanjungan dan pujian.
  • Harus sungguh-sungguh serta yakin akan dikabulkan do’anya.
  • Mendesak (terus-menerus) dalam berdo’a dan tidak terburu-buru. Allah tambah senang ketika hamba-Nya semakin sering meminta.
  • Berdo’a dalam keadaan lapang maupun susah.
  • Berdo’a hanya ditujukan kepada Allah, tidak kepada yang lainnya (wali, mayit, dll).
  • Mengakui tentang dosa-dosa kita (ada dalam do’a sayyiddul istighfar).
  • Memanjatkan do’a tiga kali.
  • Tawasul dengan asma’ul husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi, atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakan sendiri atau dengan do’a seorang shalih yang masih hidup yang berada di hadapannya.
  • Berdo’a pada waktu-waktu, keadaan dan tempat-tempat yang dikabulkannya do’a.
  • Menghadirkan hati dalam berdo’a.
  • Tidak mendo’akan keburukan kepada keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
  • Merendahkan suara dalam berdo’a, antara samar dan keras.
  • Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam berdo’a.
  • Merendahkan diri (tadharru’), khusyu’, raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan rabbah (rasa takut jika tidak dipenuhi).
  • Mengembalikan hak orang lain yang didzalimi disertai dengan taubat.
  • Menghadap kiblat.
  • Mengangkat kedua tangan. Dalam riwayat Abu Dawud, disebutkan paling tinggi hanya sebatas bahu. Tidak ada riwayat satupun yang menyebutkan mengusap muka ketika usai berdo’a.
  • Jika memungkinkan berwudhu terlebih dahulu.
  • Tidak berlebih-lebihan dalam do’a.
  • Makanan, minuman yang dikonsumsi, serta pakaian yang dikenakan harus berasal dari usaha yang halal.
  • Tidak berdo’a untuk suatu dosa atau memutuskan silaturahmi.
  • Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
  • Hendaklah orang yang berdo’a memulai dengan mendo’akan diri sendiri, jika dia hendak mendo’akan orang lain.
  • Harus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Jika do’a belum terkabul, instrospeksilah pada dirinya. Dan jika seandainya belum terkabul juga, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya hikmah yang terkadung di dalamnya sangat banyak. Kita harus berbaik sangka kepada Allah atasnya. Tidaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a yang di dalamnya tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Dia akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga kemungkinan; dikabulkan segera do’anya itu, atau Dia akan menyimpan baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya keburukan yang semisalnya.
Maka para sahabat pun berkata : ‘Kalau begitu kita memperbanyaknya’, Beliau bersabda : ‘Allah lebih banyak (memberikan pahala)’ [HR Tirmidzi No. 3573 (V/566 dan V/462)]





10 Sebab do’a tidak terkabul


Dari Syaqiq Al Balkhi berkata : "Suatu hari Ibrahim Bin Adham (Abu Ishaq) berjalan di pasar basrah lalu ia dikelilingi oleh orang ramai dan mereka bertanya kepadanya : "Ya Abu Ishaq,
Allah berfirman ; bermaksud "Mintalah olehmu sekelian kepada Ku nescaya Aku kabulkan. Dan kami telah satu tahun berdoa dan doa kami belum dikabulkan !".
Ibrahim bin Adham menjawab : "Bagaimana Allah hendak mengkabulkan doa kamu sedangkan hati kamu tertutup oleh 10 perkara".

1.         Kamu telah mengetahui Allah tetapi belum tunaikan haq-haqNya.
2.         Kamu telah membaca Al-Quran tetapi tidak melaksanakan tuntutannya.
3.       Kamu telah mengetahui syaitan sebagai musuh tetapi masih mentaatinya dan menyetujui seruannya.
4.         Kamu menyatakan kamu umat Muhammad s.a.w tetapi tidak mengerjakan sunahnya.
5.       Kamu mengatakan dirimu akan masuk syurga tetapi tidak mengerjakan apa-apa amalan yang akan membawamu ke syurga.
6.      Kamu mengatakan dirimu selamat dari neraka tetapi ternyata kamu memasukkan dirimu kepadanya.
7.         Kamu mengatakan mati adalah benar tetapi tidak bersiap-siap menghadapi mati.
8.   Kamu sibuk meneliti aib atau cacat teman-temanmu tetapi tidak pernah melihat aibmu sendiri.
9.  Kamu telah makan dan merasakan nikmat Tuhanmu tetapi tidak mahu bersyukur kepadaNya.
10.      Kamu telah menguburkan mayat-mayat rekanmu tetapi tidak mengambil pengajaran dari mereka.

Selamat Berdoa Teman, :)

Yuk belajar berbisnis dari yang kecil. Belajar memanfaatkan waktu online kita yang terkadang tidak menghasilkan apapun, dan sekarang kita ubang menjadi menghasilkan bepapaun. 

Daripada waktu habis untuk sosial media yang hanya membuat galau, lebih baik kita mnafaatkan dengan sosial media yang membuat hati dan pikiran senang dan tenang.

Mau dapatkan memanfaatkan blog gratis anda untuk mendapatkan dollar gratis, klik BlogDollar atau Anda Yang suka belanja online, dan Ingin kartu kredit Gratis? pesan dalam sebulan jadi, dengan logo mastercard, yuk pesan disini, Payooner , sangat mudah menggunakannya. 

Atau mungkin Anda ingin menambah teman baik di kawasan sekitar anda atau bahkan sampai ke luar negeri, atau anda butuh menambah kenalan atau relasi untuk bisnis anda, coba gabung di FRIENDFINDER , setelah anda mendaftar, anda akan merasakan sensasi tersendiri dalam memiliki teman dimana mana, buktikan!
  
Cara Meningkatkan Traffic Blog dan Website-, Sebuah website dikatakan berarti jika website atau blog tersebut dikunjungi oleh banyak pengunjung. Bagaimana cara meningkatkan traffic blog atau website Traffic blog merupakan sebuah ' nyawa ' dari suatu blog yang tentunya tidak boleh tidak ada. Tanpa kehadiran pengunjung yang dapat meningkatkan traffic blog maka apa yang telah kita buat atau apa yang telah kita tulis menjadi sia sia belaka.

Lain halnya jikalau umur blog masih kategori baru maka lumrah sekali akan hal itu. Seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan tentunya tidak dapat berjalan dengan cepat dan kokoh seperti seorang dewasa bukan ?  
Jadi traffic yang meningkat sangatlah diharapkan oleh semua blogger, dengan pengharapan apa yang telah kita tulis dapat dibagikan dan dapat bermanfaat untuk orang lainTngkatkan Traffik Blog atau website anda dengan mendaftar di linkcollider .




Check PageRank

Alexa Certified Site Stats for http://agendamerah.wordpress.com
Check Page Rank of your Web site pages instantly:
This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Rabu, 06 April 2011

WANITA KELUAR RUMAH DENGAN MEMAKAI PARFUM SEHINGGA MENGGODA LAKI-LAKI.

WANITA KELUAR RUMAH DENGAN MEMAKAI PARFUM SEHINGGA MENGGODA LAKI-LAKI.

Inilah kebiasaan yang menjadi fenomena umum di kalangan wanita. Keluar rumah dengan menggunakan parfum yang wanginya menjelajahi segala ruang. Hal yang menjadikan laki-laki lebih tergoda karena umpan wewangian yang manghampirinya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam amat keras mamperingatkan masalah tersebut. Beliau Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka dia seorang pezina” (HR Ahmad, 4/418; shahihul jam’: 105)

sebagian wanita melalaikan dan meremehkan masalah ini, sehingga dengan sembarangan memakai parfum. Tak peduli di sampingnya ada sopir, penjual, saptam, atau orang lain yang tak mustahil akan tergoda.

Dalam masalah ini, syariat Islam amat keras. Perempuan yang telah terlanjur memakai parfum jika hendak keluar rumah ia di wajibkan mandi terlebih dahulu seperti mandi jinabat, meskipun tujuan keluarnya ke masjid. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Perempuan manapun yang memakai parfum  kemudian keluar ke masjid (dengan tujuan) agar wanginya tercium orang lain maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi sebagaimana mandi jinabat” (HR Ahmad2/444, shahihul jam’ :2073.)

Setelah berbagai peringatan kita sampaikan, akhirnya kita hanya bisa mengadu kepada Allah soal para wanita yang memakai parfum dalam pesta dan berbagai pertemuan yang diselenggarakan. Bahkan parfum yang wanginya menyengat hidung itu tak saja digunakan dalam waktu-waktu khusus, tetapi mereka gunakan  di pasar-pasar di kendaraan dan di pertemuan-pertemuan umum hingga di masjid-masjid pada malam-malam bulan suci Ramadhan.

Syariat Islam memberi batasan, parfum wanita muslimah adalah yang tampak warnanya dan tidak keras semerbak wanginya.

Kita memohon kepada Allah, semoga Ia tidak murka kepada kita, semoga tidak menghukum orang-orang shalih baik laki-laki maupun perempuan dengan sebab dosa orang-orang bodoh dan semoga menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

 

Semoga Bermanfaat dan memberi inspirasi, :)


MENDENGARKAN DAN MENIKMATI MUSIK

MENDENGARKAN DAN MENIKMATI MUSIK

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu bersumpah dengan nama Allah bahwa yang dimaksud dengan firman Allah:

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan, mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (Luqman : 6) adalah nyanyian [Tafsir Ibnu Katsir : 6/333]

Abi Amir dan Abi Malik Al Asy’ari Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam:

“Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat-alat musik” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 10/51)

Dan dalam hadits Anas bin Malik Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Kelak akan terjadi pada umat ini (tiga hal) : (mereka) ditenggelamkan (kedalam bumi), dihujani batu, dan diubah bentuk mereka, yaitu jika mereka minum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) musik” [As Silsilah Ash Shahihah, 2203, diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At Tirmidzi no : 2212].

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melarang gendang, lalu menyatakan, seruling adalah suara orang bodoh dan tukang maksiat. Para ulama terdahulu seperti Imam Ahmad Ibnu Hanbal Rahimahullah berdasarkan hadits–hadits shahih yang melarang alat-alat musik secara mutlak telah menetapkan haramnya alat-alat musik seperti kecapi, seruling, rebab, simbab, dan yang lainnya.

Tidak diragukan lagi, alat-alat musik modern yang kita kenal saat ini masuk dalam kategori alat-alat musik yang dilarang oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. seperti piano, biola, harpa, gitar, dan sebagainya. Bahkan alat modern tersebut lebih cepat mempengaruhi mabuknya jiwa dari pada alat-alat musik zaman dulu yang telah diharamkan dalam beberapa hadits.

Menurut penuturan para ulama, di antaranya Ibnu Qayyim, keterlenaan dan mabuknya jiwa akibat pengaruh nyanyian lebih besar bahayanya dari pada akibat minum arak. Kemudian tak diragukan lagi, pelanggarannya akan lebih keras dan dosanya akan lebih besar jika alat-alat musik tersebut diiringi dengan nyanyian, baik oleh biduan atau biduan wanita. Lalu, bahayanya akan lebih bertumpuk jika untaian kata-kata syairnya berkisah tentang cinta, asmara, kecantikan wanita atau kegagahan pria

Karena itu tidak mengherankan jika para ulama menyebutkan, nyanyian adalah sarana yang menghantarkan pada perbuatan zina, menumbuhkan perasaan nifak di dalam hati. Dan secara umum, nyanyian dan musik adalah tema besar zaman ini yang melahirkan banyak fitnah.

Musibah itu semakin menjadi-jadi, setelah pada saat ini kita saksikan musik menyelusup setiap barang dan ruang. Seperti jam dinding, bel, mainan anak-anak, komputer, pesawat telpon, dan sebagainya.

Saat ini bahkan kita kenal istilah dakwah lewat musik. Adakah pencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan yang lebih nyata dari ini ?



Untuk menghindari barbagai hal di atas sungguh memerlukan kekuatan hati yang tangguh.

Untuk lebih jelas tentang permasalahan musik ini, silahkan membaca buku Ustadz Muslim al-Atsari, yang berjudul "Adakah Musik Islami?"

Mudah-mudahan penjelasan singkat ini bermanfaat.
Mudah-mudahan Allah menjadi penolong kita semua. Amin …..

Wallahu a’lam bish-Shawab.


 

Senin, 04 April 2011

PENGERTIAN PUASA SESUNGGUHNYA

PENGERTIAN PUASA SESUNGGUHNYA

IFA  /    رَفِيْعَة  زهرة جميلة
Assalamu'alaikum Warah Matullahi Wabarakatuh ,,,

Tepat Selasa malam Rabu 1 hari seusai malam perayaan Nisyfu Sya'ban saya mencoba kembali menulis tentang Pengertian Puasa Sesungguhnya menurut pendapat Pribadi ,,

Sayup - Sayup terasa angin berhembus dari berbagai arah yang begitu halus meresapi relung - relung jiwa yang menanti akan datang nya Bulan Suci Ramadhon ,, Syahrul Qur'an , Syahrul Qiyam , Syahrul Ibadah , dan segala Syahrul ( Bulan ) Kebaikan ada didalam bulan Ramadhon .

Semasa Rasulullah saw masih hidup sekitar 1400 tahun yang lalu bersama para sahabat yang Sholeh , Menyambut bulan suci Ramadhon ini beliau dan para sahabat mempersiapkan nya 6 bulan sebelum bulan suci ini tiba ,, bayangkan 6 bulan sebelumnya sudah mereka persiapkan dengan matang ,, lantas bagaimana dengan kita ?? Bahkan 2 bulan sebelum datangnya bulan suci ini kebanyakan dari kita tidak mengetahui bulan apakah sebelum bulan Ramadhon ,, Nauzubillah tsumma Nauzubillah ,,

Sebelum kita membahas tentang keutamaan , amalan , yang ada pada bulan suci ramadhon ini alangkah baiknya kita membahas tentang pengertian PUASA itu sendiri , setelah mengerti akan maksud dari PUASA baru kita melangkah lebih jauh membahas tentang Ramadhon ,,


Disini Imem mencoba memberikan pemahaman yang sesederhana mungkin agar dapat kita pahami bersama bahwa Puasa kita bagi menjadi 2 bagian ,, yaitu secara Lughoh ( Bahasa ) dan Istilahan ( Istilah )

Pertama menurut Bahasa :

Dari Bahasa Arab dikatakan AsShoum ( Al Imsak ) yang mana jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah MENAHAN , Menahan merupakan bahasa Indonesia artinya tidak mengerjakan, sinonim dari meninggalkan. semoga bisa dipahami bersama ,,

Kedua menurut Istilah :

As Shoum menurut istilah dalam agama Islam adalah : menahan diri dari yang membatalkan, sejak terbit fajar sehingga terbenamnya matahari, dengan disertai niat dan memenuhi rukun serta syarat syahnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Al-Hadits ..

Dari defenisi yang telah Imem sampaikan di atas, baik etimologi ( Bahasa ) maupun terminologi ( Istilah ) bisa ditarik kesimpulan bahwa fokus utama dan inti permasalahan dalam hal puasa ada pada “ menahan diri”. Ok , Bisa Dipahami ? Kita Lanjut Kan ,,


Sesungguhnya Didalam Puasa itu sendiri terdapat 3 tingkatan loh menurut Imam Ghozali ,, Apa Saja kah itu ?

Tingkatan Pertama adalah Puasa Biasa ,
Tingkatan Kedua adalah Puasa Khusus ,
Dan Ketiga adalah Sangat Khusus ,,

He He He ,, Wink

Ok ,, Mari kita bahas 1 persatu tingkatan tingkatan yang ada didalam Puasa itu sendiri ,,

Pertama adalah tingkatan Puasa Biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.

Kedua adalah tingkatan Puasa khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa.

Ketiga adalah tingkatan puasa yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat dan melupakan makhluk tenggelam dalam kefanaan ,, ( Menulis sambil Garuk2 Kepala ) .

Jenis puasa yang saya tulis diatas dianggap batal bila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat. Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara-perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong kita ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi.

Jika diantara kita ada yang masuk ke dalam tingkatan Puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa tak yakin kita terhadap karunia serta janji Allah swt. untuk mencukupkan dan memberi (dengan) rezeki Nya.

Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Rasul , para wali Allah dan juga mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata , karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi kita sehari2 ). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi atau menghambakan diri kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Allah . yang mana Allah firman didalam Alqur'an , " Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.” (Q s. 6 : 91).

Kita melangkah kepada tingkatan yang Khusus dimana tadi sudah kita bahas tentang Sangat Khusus itu untuk kalangan para Rasul dan Wali Allah ,, disini tingkatan khusus adalah di khususkan untuk orang2 yang sholeh ,, dan sering diamalkan oleh orang-orang sholeh itu sendiri ,,

Tingkatan Puasa khusus ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan tingkatan ini harus pula memenuhi 6 syarat yaitu :

1 . Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt .

Suatu hal yang suci , menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, " Pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik Syaitan , yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya ,, semata mata karena takut kepada Nya , niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. " (H.r. al Hakim, hadis shahih). Dan Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “ Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang : Berdusta, Mengumpat ( Ghibah ) , menyebar isu ( Namimah ) , bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu." dan dalil ini sudah Imem tulis beberapa waktu lalu di Status Fb ,, He he he Smile .

2 . Menjaga ( LISAN ) .

Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, Berdusta, Mengumpat ( Ghibah ) , menyebarkan fitnah ( Namimah ) Mengadu Domba , berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (Pertentangan dan kontroversi) dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca serta mengkaji al-Qur'an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, " Sesungguhnya mengumpat ( Ghibah ) akan merusak puasa ! Laits mengutip Mujahid yang berkata, " Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan Berbohong." Rasulullah saw. bersabda, " Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa ! Aku sedang berpuasa'!" (H.r. Bukhari Muslim).

3 . Menjaga Pendengaran ( Telinga ) .

Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela ,, karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur'an Allah swt. berfirman, " Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal." (Q.s. 5: 42).Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, " Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang ?" (Q.s. 5: 63).Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, 'Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka ..." (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, " Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam 1 dosa." (H.r. at Tirmidzi).


4. Menjaga Sikap Perilaku ( Sikap dan Sifat )
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa , kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan. Tetapi jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap pertengahan. Bersabda Rasulullah saw, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!" (H.r. an Nasa'i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Lainnya lagi menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa.

5. Menghindari Makan Berlebihan (
Berbuka puasa dengan makan yang tidak berlebihan, sehingga rongga dadanya menjadi sesak. Tidak ada kantung yang lebih tidak disukai Allah swt. selain perut yang penuh (berlebihan) dengan makanan halal. Dapatkah puasa bermanfaat sebagai cara mengalahkan musuh Allah swt. dan mengendalikan hawa nafsu, bila kita berbuka menyesaki perut dengan apa yang biasa kita makan siang hari ? Terlebih lagi, biasanya di bulan puasa masih disediakan makanan tambahan, yang justru di hari-hari biasa tidak tersedia. Sesungguhnya hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang biasa dipergunakan Syaitan untuk mengajak kita ke arah kejahatan. Oleh sebab itu, lebih penting (esensial) bila mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Karenanya, tidak akan mendapatkan manfaat di saat berpuasa bila tetap makan dengan porsi makanan yang biasa dimakan pada hari hari biasa. Bahkan dianjurkan mengurangi tidur di siang hari, dengan harapan dapat merasakan semakin melemahnya kekuatan jasmani, yang akan mengantarkannya pada penyucian jiwa. Oleh karena itu, barangsiapa telah "meletakkan" kantung makanan di antara hati dan dadanya, tentu akan buta terhadap karunia tersebut. Meskipun perutnya kosong, belum tentu terangkat hijab (tabir) yang terbentang antara dirinya dengan Allah, kecuali telah mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan mengingat kepada Allah swt. semata. Demikian adalah puncak segalanya, dan titik mula dari semuanya itu adalah mengosongkan perut dari makanan.

6. Menuju kepada Allah Swt dengan Rasa Takut dan Pengharapan.

Setelah berbuka puasa, selayaknya hati terayun ayun antara takut (khauf) dan harap <raja'>. Karena siapa pun tidak mengetahui, apakah puasanya diterima sehingga dirinya termasuk orang yang mendapat karunia Nya sekaligus orang yang dekat dengan Nya, ataukah puasanya tidak diterima, sehingga dirinya menjadi orang yang dicela oleh Nya. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya ada pada setiap orang yang telah selesai melaksanakan suatu ibadah.Dari al Hasan bin Abil Hasan al Bashri, bahwa suatu ketika melintaslah sekelompok orang sambil tertawa terbahak bahak. Hasan al Bashri lalu berkata, 'Allah swt. telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan. Di saat mana Para hamba Nya saling berlomba dalam beribadah. Beberapa di antara mereka sampai ke titik final lebih dahulu dan menang, sementara yang lain tertinggal dan kalah.

Sungguh menakjubkan mendapati orang yang masih dapat tertawa terbahak bahak dan bermain di antara (keadaan) ketika mereka yang beruntung memperoleh kemenangan, dan mereka yang merugi memperoleh kesia-siaan semata . Demi Allah, apabila hijab tertutup, mereka yang berbuat baik akan dipenuhi (pahala) perbuatan baiknya, dan mereka yang berbuat cela juga dipenuhi oleh kejahatan yang diperbuatnya." Dengan kata lain, manusia yang puasanya diterima akan bersuka ria, sementara orang yang ditolak akan tertutup baginya gelak tawa. Dari al Ahnaf bin Qais, bahwa suatu ketika seseorang berkata kepadanya, "Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu." Tetapi al Ahnaf bahkan menjawab, "Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah swt. tentu akan lebih mudah daripada menanggung siksa Nya."Demikianlah, semua itu adalah makna signifikan puasa.

Sekarang Kita mungkin mengatakan, "Dengan menahan makan, minum dan nafsu seksual ( Sex ) , tanpa harus memperhatikan syarat batin itu sudah sah. Menurut pendapat para ahli fiqih juga demikian, bahwa puasa yang bersangkutan sudah dapat dikatakan memenuhi syarat, sudah sah. Lalu mengapa kita harus repot repot see ? " Kita harus menyadari bahwa para ulama fiqih telah menetapkan syarat-syarat lahiriah puasa dengan dalil-dalil yang lebih lemah dibanding dalil dalil yang menopang perlunya ditepati syarat syarat batiniah. Misalnya saja tentang mengumpat dan yang sejenis.

Bagaimanapun perlu diingat , bahwa para ulama fiqih memandang batas kewajiban puasa dengan hanya mempertimbangkan pada kapasitas orang awam yang sering lalai, mudah terperangkap dalam urusan duniawi. Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hari Akhir, akan memperhatikan sungguh-sungguh dan memenuhi dengan syarat batin, sehingga ibadahnya sah dan diterima. Hal demikian itu mereka capai dengan melaksanakan syarat-syarat yang akan mengantarkannya pada tujuan. Menurut pemahaman mereka, berpuasa adalah salah satu cara untuk menghayati salah satu akhlak Allah Swt, yaitu tempat meminta (shamadiyyah), sebagaimana juga contoh dari para malaikat, dengan sedapat mungkin menghindari godaan nafsu, karena malaikat adalah makhluk yang terbebas dari dorongan serupa.

Sedangkan manusia mempunyai derajat di atas hewan, karena dengan tuntunan akal yang dimilikinya akan selalu sanggup mengendalikan nafsunya, namun dia inferior (sedikit lebih rendah) dari malaikat, karena masih dikuasai oleh hawa nafsu, maka ia pun harus mencoba untuk mengatasi godaan hawa nafsunya.Kapan pun manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan terjatuh dalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan. Kapan pun ia mampu mengatasinya, maka ia akan terangkat ke tingkatan para malaikat.

Malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah swt, karenanya malaikat pun menjadi contoh bagi makhluk yang ingin dekat dengan Allah. Tentu dengan segala ibadah akan menjadikan diri semakin dekat dengan Nya. Hanya saja bukan dalam pengertian dekat dalam dimensi ruang, tetapi lebih pada kedekatan sifat.

Jika demikian itu adalah rahasia puasa bagi mereka yang memiliki kedalaman pemahaman spiritual, apakah manfaat menggabungkan dua (porsi) makan pada waktu berbuka, seraya memuaskan nafsu lain yang tertahan ketika siang hari. Dan kalaulah demikian, lalu apa makna Hadis Nabi saw. yang berbunyi, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapat sesuatu selain lapar dan dahaga ?"


Wasalam
Imem Muzayyan Bin Ya'kub AlQadrie
Pelajar Univ. Al Azhar Cairo Fak. Theology Islam ( Ushuluddin )


Tingkatan-tingkatan Ibadah

Tingkatan-tingkatan Ibadah 

Kamis, 27 Maret, 2008

Posted by Quito Riantori 


“Sesungguhnya  ada  suatu kaum yang  beribadah  kepada  Allah  dengan pengharapan, yang demikian itu ibadah seorang pedagang dan  ada lagi kaum yang beribadat kepada Allah karena  takut, yang  demikian  itu ibadat seorang hamba (budak) dan ada  suatu  kaum yang beribadat kepada-Nya dengan perasaan syukur, yang  demi­kian itu ibadah seorang yang merdeka”
(Imam Ali as, Al-Bihar 78 : 69) 55]
 
Manusia memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap ibadah. Tidak semua manusia memandang ibadah dengan cahaya yang sama. Bagi sebagian orang, ibadah merupakan sejenis transaksi, barter dan pertukaran, ini seperti seorang yang bekerja demi mendapat upah. 

Seorang pekerja yang telah menghabiskan waktunya dan bekerja demi keuntungan sang majikan, maka ia mengharapkan upah sebagai balasannya, demikian pula seorang hamba yang beribadah demi mendapatkan pahala Tuhannya, maka ia mengharapkan dirinya akan diterima di akhirat. 

Menurut perspektif kelompok ini, jika seorang hamba beribadah demi pahala dalam bentuk kedamaian dan kesejahteraan – yang kelak diterimanya di akhirat – ia tak ubahnya seperti seorang buruh yang hanya bekerja demi mendapatkan upah. Memang, setiap majikan membayar upah sebagai balasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerjanya. 

Namun, keuntungan apa yang bisa Tuhan Semesta Alam dapat dari pekerjaan seorang hamba yang lemah dan rendah? Malahan, jika kita menganggap bahwa Majikan Besar (Tuhan) membayar hamba-hamba-Nya dalam bentuk rahmat dan ganjaran di akhirat, lantas mengapa Dia tidak memberikan balasan kepada mereka yang tidak berusaha dan menggunakan tenaganya? 

Inilah persoalan-persoalan yang tak pernah muncul pada kelompok saleh ini. Dari sudut pandang mereka, inti ibadah terletak pada gerakan-gerakan tubuh tertentu yang teramati dan komat-kamitnya lidah. Inilah satu sikap dan pandangan terhadap ibadah. 

Di dalam kata-kata Ibn Sina, sebagaimana ditunjukkan dalam bab kesembilan buku Al-‘Isyarat-nya, sikap itu merupakan “sikap orang tak tercerahkan dan jahil akan Tuhan (God-ignorant), yang hanya dapat diterima oleh para pekerja.”

Pendekatan lain terhadap ibadah adalah pendekatan terbuka. 

Di sini persoalan-persoalan yang disebutkan sebelumnya seperti pekerja dan majikan, pekerjaan dan upah, tidak punya relevansi. Dalam pendekatan ini ibadah dipandang sebagai langkah-langkah untuk mencapai kedekatan kepada Allah, sebagai sarana keunggulan manusia, pendidikan, pengangkatan jiwa dan perjuangannya menuju cakrawala keagungan ruhani yang tak terlihat, sebagai suatu latihan penguatan daya spiritualnya, sebagai suatu kemenangan jiwa di atas alam duniawi! 

Ibadah merupakan ekspresi tertinggi dari rasa syukur dan cinta manusia kepada Pencipta-Nya dan deklarasi cintanya kepada Yang Maha Sempurna dan Maha Indah, dan terakhir, perjalanannya menuju Allah!

Menurut pendekatan ini, ibadah memiliki suatu bentuk dan jiwa, penampakan dan makna batin. Apa yang diperagakan oleh lidah dan gerakan anggota-anggota tubuh lainnya, adalah bentuk, lapisan luar, dan penampakan lahiriah ibadah. 

Adapun jiwa dan maknanya sesuatu yang lain. Jiwa ibadah terkait dengan arti penting yang melekat pada ibadah yang dilakukan oleh si hamba, sikapnya terhadap ibadah itu sendiri, motif terdalamnya yang menggerakkannya kepada ibadah, kepuasan akhir dan manfaat yang ia ambil darinya, dan sampai ke tingkat di mana ia melintas Jalan-Nya dalam suluknya menuju Tuhan. 56]

Ibadah memiliki berbagai peringkat, dan peringkat ibadah yang tertinggi adalah ibadah yang tidak dilatar belakangi oleh hasrat kepada surga atau ketakutan akan neraka. Kendati demikian, ibadah yang dilatar belakangi hasrat surga atau ketakutan akan neraka masih tetap tergolong ibadah. 

Hanya sebagian kecil manusia yang beribadah karena syukur dan atas dasar cinta. Golongan ini menyembah Allah sebagaimana dituntut oleh fitrah teistiknya. Seandainya Allah tidak menjanjikan surga atau neraka pun, mereka tetap menyembah Allah.  57]


IBADAH HAMBA YANG BERSYUKUR

Setiap malam Rasulullah saww melalukan shalat malam. Hal ini diperhatikan oleh isterinya, ‘Aisyah, hingga ‘Aisyah pun bertanya kepada beliau,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyusahkan diri, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang dahulu maupun yang kemudian?” Nabi saww menjawab,”Wahai ‘Aisyah, tak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (‘abdan syakuran)?” 58]
 
Seorang hamba bisa dianggap telah bersyukur apabila dia sepenuhnya mengetahui hubungan makhluk dengan Sang Pencipta (al-Khaliq), mengetahui seluruh rahmat Ilahi, mengetahui awal dan akhir penyingkapan Ilahi, mengetahui kaitan satu karunia dengan karunia lainnya, dan mengetahui rantai wujud dengan sebenar-benarnya. 

Pengetahuan seperti ini tidak akan dapat dicapai oleh siapa pun kecuali para wali Allah (Imam al-Hadiyyin), dan yang paling mulia dan paling agung dari mereka semua adalah esensi kudus Nabi Penutup, Muhammad ibn ‘Abdullah Saww. 59]

Ibadah bagi kaum ‘arif merupakan riyadhah (latihan ruhani) agar dapat keluar dari wilayah fisik (thabi’ah) dan memasuki wilayah metafisik sehingga mereka dapat mi’raj bersama para kekasih-kekasih Tuhan untuk menjumpai (liqa’) Tuhannya.

http://qitori.wordpress.com/2008/03/27/tingkatan-tingkatan-ibadah/


Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari - ABU ABDULLAH AS SYARQY ( MUSY’IL AL QOHTHONY )


 
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari

I. ABU ABDULLAH AS SYARQY
( MUSY’IL AL QOHTHONY )

Beliau seorang yang hafal Al Qur’an Al Karim, dan beliau adalah salah satu mahasiswa di Kuliyah Sar’iyyah di Ahsa’ dan termasuk orang yang mempunyai ilmu syar’ie.

Akhlaqnya yang mulia sungguh menakjubkan, sifatnya mulia, ketenangan jiwanya yang mengherankan, dan kewibawaan yang Allah berikan kepadanya. Jikalau engkau melihatnya maka engkau akan melihat pancaran cahaya ketaatan keluar dari wajahnya. Beliau termasuk orang yang ikut serta teman-temannya berjihad di Afgahanistan memerangi Rusia dan Komunis. Beliau berjihad bersama kakaknya, dan kakaknya telah terbunuh disana sebagai syuhada’.

Setelah terbunuhnya sang kakak, beliau pulang kembali ke orang tuanya di kota Al Jabil di daerah timur dan beliau melanjutkan kuliah di Universitasnya sampai ibunya wafat – semoga Allah merahmatinya -.

Dahulu beliau sering merayu ibunya untuk diijinkan berangkat ke Bosnia, akan tetapi ibunya tidak mengijinkannya. Kemudian beliau meminang seorang perempuan dari keluarga baik-baik, beliau memberikan tenggang waktu untuk melaksanakan akan nikah, akan tetapi Allah menolak rencana itu dan menikahkan beliau dengan Hurun ‘Iin.

Ketika beliau berada pada semester akhir di Universitasnya, beliau sudah tidak sabar lagi ketinggalan jihad dan beliau mengikuti berita-berita para mujahidin disana. Lalu beliau mengemasi kopernya bertepatan masuknya bulan Romadhon yang mubarok pada tahun 1415 H. dan beliau ingin menghabiskan bulan yang mulia ini di sana – Bosnia -. Kemudian beliau bertemu dengan salah seorang teman yang menemani beliau ke Ibu Kota Kroasia yaitu Kota Zaghrob. Ketika beliau menginap di sebuah Hotel selama tiga hari, selama menginap disana ada kejadian yang luar biasa yang beliau alami, yaitu bertemu perempuan yang cantik.

Akhirnya beliau memutuskan tinggal di Hotel selama tiga hari bersama temannya. Ternyata disana ada seorang perempuan yang bekerja di Hotel itu. Perempuan tersebut mengagumi kepribadiannya, yaitu ketika ia melihat jenggot beliau yang lebat dan parasnya yang tampan, maka perempuan itu mulai merayu dan menggodanya. Akan tetapi Allah menjaganya dari perbuatan keji perempuan tersebut hingga berlalu selama tiga hari. 

Kemudian perempuan tersebut datang untuk memamerkan dirinya di ruang tunggu. Perempuan itu berkata kepada lelaki – saudara - tersebut : “ Jikalau aku menginginkanmu sungguh aku akan menggodamu seperti aku telah menggoda sepuluh lelaki lain sepertimu “. Akan tetapi lelaki tersebut pergi dan berlalu begitu saja meninggalkan perempuan itu. Dan melajulah ia dengan mengendarai pesawat terbang menuju Bandara  Seblit. 

Sesampainya di Bandara beliau menyewa Bus untuk masuk ke Bosnia, maka Allah pun memudahkan jalan masuk baginya sampai bumi yang diidam-idamkannya selama ini untuk dimasuki, dan itu bertepatan dengan ketentuan yang Allah tetapkan pada ajalnya pula ( “ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati  “. QS. Luqman : 34). Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi beliau ketika masuk ke Bosnia, hampir-hampir beliau tidak dapat menceritakannya – karena sangat gembira –, apakah benar beliau telah masuk bumi jihad ? apakah benar bahwa beliau akan memerangi musuh-musuh Allah Serbia ? apakah benar beliau akan dapat ribath ? dan …. Dan ….., ya ! semua itu benar.

Beliau pergi ke daerah Turofnik dan bergabung dengan para mujahidin di sana. Tempat mujahidin berada di dalam sebuah rumah yang sederhana yang terletak di sebuah desa kecil, di desa itu terdapat beberapa Masjid dan desa tersebut berdekatan dengan Serbia.

Beliau memulai kegiatannya seperti halnya hujan, yaitu beliau mengajar anak-anak surat Al Fatihah dan sholat. Beliau juga mengajar yang dewasa. Demikianlah kegiatan beliau jika sedang berada di desa, hingga penduduk desa mencintai beliau. Bahasa tidak menghalangi beliau – untuk berdakwah – cukup dengan niat yang jujur mengajar mereka dengan bahasa isyarat. Dan jika beliau berada di Front maka beliau banyak bergaul dengan orang-orang Bosnia untuk berdakwah kepada Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada mereka sesuai kemampuan yang beliau miliki.

Beliau melakukan  kegiatan seperti itu terus-menerus sampai akhir bulan Romadhon yang mubarok, hingga datanglah orang yang memanggil “ Wahai pasukan Allah majulah “. Hingga datang amaliah di Gunung Falasyij As Syahiroh, yaitu di puncak Gunung yang amat tinggi dan strategis yang dikuasai oleh Serbia. Dan berkali-kali mereka menyerang kaum muslimin dengan menggunakan Mortar dari atas puncak Gunung. Maka para mujahidin pun mengadakan persiapan untuk menghadapi peperangan yang sangat menentukan itu.

Para mujahidin menggunakan strategi memasuki daerah Serbia dengan mengambil jarak tiga kilo meter sebagaimana yang diceritakan oleh orang yang mengikuti peperangan pada saat itu. Dari sana mujahidin dapat memutuskan bantuan untuk tentara Serbia dan mujahidin dapat menyerbu pasukan gunung dengan keseluruhan..

Dua hari sebelum amaliah, Abu Abdullah bercerita pada salah seorang teman. Beliau berkata kepada temannya : “ Aku bermimpi bahwa aku dapat membunuh dua orang Serbia lalu meluncurlah dua peluru kepadaku di sini hingga aku terbunuh “. Maka temanya tersebut memberi kabar gembira kepadanya bahwa dia akan mendapatkan syahadah secara nyata. Dia mengucapkan Allahul Musta’an kami bukan orang yang layak mendapatkan syahadah. Dan dia menyuruhnya untuk merahasiakan mimpinya itu.

Singa-singa Allah bergerak menuju medan tempur dan merayap hingga tiba waktu fajar. Mereka mendaki Gunung hingga mendekati terbitnya fajar. Dan para mujahidin sama merasakan keletihan berjalan dan tidak dapat memulai perang. Maka komandan memerintahkan kepada semua mujahidin berbuka puasa, maka berbukalah para mujahidin karena takut atas musuh mereka jika mereka tidak berbuka. 

Mulailah peperangan yang dahsyat dan hebat itu bersamaan terbitnya fajar, dan saudara kita ini pun bertekad bertempur untuk membunuh musuh di medan perang. Majulah ia bersama dua mujahidin, lalu keluarlah sekelompok tentara Serbia yang ketakutan dan mereka saling berhadap-hadapan. Maka Abu Abdullah menghadapkan senapan mesinnya – LMG – kepada mereka hingga beliau dapat membunuh dua orang dari mereka, dan meluncurlah dua serangan tepat di leher beliau dan terbuktilah mimpi beliau. Dan berjatuhanlah dua temannya yang terluka oleh serangan Serbia, dan para mujahidin lainnya berada di belakang mereka pada jarak beberapa meter saja, akan tetapi mereka tidak dapat menyelamatkan orang-orang yang terluka karena tempat mereka dekat dengan Serbia, maka Serbia pun hendak mengambil mereka untuk dijadikan tawanan, lalu salah seorang teman yang terluka berdo’a kepada Allah “ Ya Allah ….. Ya Allah ….. Ya Allah ….. beberapa detik kemudian turunlah kabut yang sangat tebal hingga para mujahidin bisa mendekat kepada teman-teman tersebut dan menyelamatkan mereka. Dan Serbia pun kabur lari terbirit-birit ketakutan.

Para mujahidin mendapatkan saudara kita Abu Abdullah As Syarqi telah meninggal dalam keadaan shoum tidak berbuka, dan tampaklah di wajahnya senyumnya yang menakjubkan, sungguh ini adalah tanda-tanda – kesyahidannya -. Kemudian ketika teman-temannya membawa turun jasad beliau ke Desa dan mereka menggalikan lubang kuburnya, maka keluarlah dari tubuhnya aroma wangi Misk yang disaksikan semua orang yang menghadiri pemakamannya.

Sungguh ! Allah telah mengsihi Abu Abdullah As Syarqi, seorang hafidz (hafal) Al Qur’an, orang yang bertaqwa, waro’ dan tawadhu’. Semoga Allah memperbanyak jumlah contoh dari  para mujahidin yang sholih pada ummat Islam.